Bagaimana Kesadaran Manusia Bertumbuh?
Dalam kehidupan manusia, kesadaran tidak selalu berada dalam keadaan yang sama.
Ada saat ketika manusia lebih banyak dikuasai oleh keinginan, kepentingan pribadi, hawa, rasa takut, kemarahan, dan berbagai dorongan yang membuat pandangan menjadi sempit.
Ada pula keadaan ketika manusia mulai mampu mengenali dirinya, mengamati pikirannya, menata perasaannya, mengendalikan kehendaknya, dan melihat kehidupan dengan pandangan yang semakin jernih.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran manusia dapat berkembang.
Dalam Kawruh Uttamopadesa, perkembangan kesadaran manusia dijelaskan melalui Nawa Tataraning Cetana, yaitu sembilan tataran kesadaran manusia.
Sembilan tataran tersebut kemudian diuraikan dalam Serat Nawa Tataraning Cetana, yaitu sembilan tingkat perkembangan kesadaran yang menggambarkan perjalanan manusia dari keadaan kesadaran yang masih terikat hingga kesadaran yang mencapai keadaan manunggal dengan kasunyatan sejati.
Cetana dalam konteks ini merupakan hakikat kesadaran manusia. Karena itu, pembahasan Nawa Cetana bukan sekadar membahas pikiran, perasaan, atau perilaku manusia secara terpisah, melainkan membahas perkembangan hakikat kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan.
Kesadaran manusia tidak tumbuh hanya karena bertambahnya pengetahuan.
Kesadaran berkembang ketika manusia semakin mampu mengenali dirinya, memahami kehidupan, melihat kenyataan dengan jernih, mengolah cipta, rasa, dan karsa, serta mewujudkan pemahamannya dalam laku.
Dengan demikian, Nawa Tataraning Cetana bukan sekadar teori tentang tingkatan batin. Ia merupakan peta perkembangan kesadaran manusia.
1. Pengertian Cetana.
Cetana merupakan unsur kejiwaan atau kesadaran yang menjadi dasar kehidupan manusia. Dalam pengertian sastra yang menjadi landasan kawruh ini, Cetana bersifat kekal, tidak berawal dan tidak berakhir, suci murni, selalu ingat, serta menjadi sumber atau benih kejiwaan.
Cetana berbeda dengan Acetana.
Cetana merupakan unsur kesadaran atau kejiwaan.
Acetana merupakan unsur tanpa kesadaran yang bersifat material, tidak kekal, selalu mengalami perubahan, dan menjadi benih material bagi alam semesta beserta segala makhluk.
Manusia hidup dalam hubungan antara kedua unsur tersebut. Tubuh manusia merupakan bagian dari keberadaan material, sedangkan kehidupan kejiwaannya berkaitan dengan Cetana.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran manusia dapat mengalami berbagai keadaan. Kesadaran dapat menjadi keruh, tertutup oleh kepentingan, dikuasai keinginan, kemudian berkembang menjadi semakin waspada, wening, mantap, kawawas, penuh pangrasa, pepadhang, resik, hingga mencapai keadaan manunggal.
Perjalanan keadaan kesadaran tersebut dijelaskan melalui Nawa Tataraning Cetana.
2. Apa Itu Nawa Tataraning Cetana?
Nawa Tataraning Cetana adalah sembilan tataran kesadaran manusia.
Sembilan tataran tersebut menunjukkan perkembangan kesadaran manusia dari keadaan yang masih terikat oleh berbagai dorongan hingga keadaan kesadaran yang semakin jernih, luas, luhur, dan selaras dengan kasunyatan sejati.
Nawa Cetana bukan sekadar urutan pengetahuan.
Seseorang tidak otomatis memiliki kesadaran tinggi hanya karena mengetahui istilah-istilah tentang kesadaran.
Kesadaran berkembang ketika pengetahuan mulai mengubah cara seseorang melihat dirinya dan kehidupan.
Ia mulai mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Ia mulai mampu membedakan antara kenyataan dan angan-angan.
Ia mulai mampu menyadari ketika pamrih muncul.
Ia mulai mampu mengendalikan kemarahan.
Ia mulai mampu menerima perubahan.
Ia mulai mampu memahami keadaan orang lain.
Ia mulai mampu berbuat baik tanpa selalu mengharapkan balasan.
Dengan demikian, perkembangan Nawa Cetana dapat dilihat melalui perubahan nyata dalam kehidupan manusia.
3. Serat Nawa Tataraning Cetana.
Serat Nawa Tataraning Cetana merupakan uraian mengenai sembilan tataran perkembangan kesadaran manusia.
Kesembilan tataran tersebut adalah:
1. Cetana Kaiket — kesadaran masih terbelenggu.
2. Cetana Waspada — kesadaran mulai terjaga.
3. Cetana Wening — kesadaran mulai jernih.
4. Cetana Mantep — kesadaran mulai kokoh.
5. Cetana Kawawas — kesadaran semakin mampu memahami.
6. Cetana Pangrasa — kesadaran berkembang dalam penghayatan rasa.
7. Cetana Pepadhang — kesadaran menjadi pepadhang bagi kehidupan.
8. Cetana Resik — kesadaran semakin bebas dari pamrih.
9. Cetana Manunggal — kesadaran mencapai keselarasan dengan kasunyatan sejati.
Kesembilan tataran tersebut bukan sembilan keadaan yang berdiri sendiri. Setiap tataran merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya.
Namun, perkembangan tersebut juga tidak harus dipahami sebagai garis lurus yang selalu bergerak tanpa kemunduran.
Manusia dapat mengalami perkembangan, tetapi dalam keadaan tertentu juga dapat kembali dikuasai oleh dorongan yang sebelumnya telah berhasil dikendalikan.
Karena itu, Nawa Cetana bukan alasan untuk merasa telah mencapai tingkat tertentu secara permanen.
Ia merupakan peta untuk terus mawas diri.
4. Cetana Kaiket.
Cetana Kaiket merupakan tataran ketika kesadaran manusia masih kuat terikat oleh keinginan, hawa, pamrih, ketakutan, kemarahan, iri hati, kesombongan, dan berbagai kepentingan pribadi.
Pada tataran ini, manusia cenderung menjadikan apa yang diinginkan sebagai ukuran kebenaran.
Jika keinginannya terpenuhi, ia merasa bahagia.
Jika keinginannya terhalang, ia mudah kecewa, marah, atau kehilangan ketenangan.
Pandangan terhadap kehidupan juga mudah dipengaruhi keadaan luar.
Pujian dapat membuat seseorang merasa tinggi.
Celaan dapat membuatnya jatuh.
Keuntungan dapat membuatnya mendekat.
Kerugian dapat membuatnya menjauh.
Kesadaran masih sangat mudah mengikuti perubahan keadaan.
Namun, tataran ini bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai kegagalan. Ia merupakan keadaan awal yang perlu dikenali.
Perkembangan dimulai ketika manusia mampu menyadari bahwa dirinya masih terikat.
Pertanyaan penting pada tahap ini adalah:
Apakah kehidupan saya masih terlalu ditentukan oleh keinginan?
Apakah saya mudah marah ketika kehendak tidak terpenuhi?
Apakah saya melakukan sesuatu terutama karena pamrih?
Kesadaran terhadap keadaan tersebut
menjadi pintu menuju tataran berikutnya.
5. Cetana Waspada.
Cetana Waspada merupakan tataran ketika manusia mulai menyadari gerak dirinya sendiri.
Ia mulai memperhatikan apa yang muncul dalam cipta, rasa, dan karsa.
Ketika marah, ia mulai mampu menyadari bahwa dirinya sedang marah.
Ketika iri muncul, ia mulai mengenalinya.
Ketika pamrih muncul, ia mulai melihatnya.
Kemampuan untuk melihat keadaan diri sebelum langsung mengikuti dorongan merupakan perkembangan yang penting.
Pada tahap ini, manusia mulai belajar berhenti sejenak sebelum berbicara atau bertindak.
Ia tidak selalu berhasil mengendalikan dirinya, tetapi sudah mulai mampu menyadari sebelum terbawa.
Kesalahan juga mulai dipandang sebagai bahan untuk memperbaiki diri.
Ia tidak lagi selalu mencari kesalahan orang lain.
Mawas diri mulai menjadi kebiasaan.
Dari sinilah kesadaran memperoleh ruang untuk berkembang.
6. Cetana Wening.
Pada Cetana Wening, kesadaran manusia mulai menjadi lebih jernih.
Pikiran tidak lagi mudah dipenuhi prasangka.
Rasa tidak mudah dikuasai gejolak.
Karsa tidak selalu bergerak mengikuti dorongan sesaat.
Manusia mulai mampu melihat suatu persoalan dengan lebih tenang.
Ia tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
Ia mampu membedakan antara kenyataan dengan penafsiran dirinya sendiri.
Ketika dipuji, ia tidak mudah mabuk oleh pujian.
Ketika dikritik, ia tidak langsung membenci orang yang mengkritiknya.
Ketika menghadapi perubahan, ia mulai mampu menerima kenyataan tanpa kehilangan kejernihan.
Pada tahap ini, ketenangan bukan berarti tidak memiliki perasaan.
Sebaliknya, manusia tetap merasakan berbagai keadaan, tetapi tidak mudah dikuasai oleh keadaan tersebut.
Kesadaran menjadi lebih wening karena manusia mulai mampu melihat sebelum bereaksi.
7. Cetana Mantep.
Cetana Mantep merupakan tataran ketika kesadaran telah semakin kokoh.
Jika pada Cetana Waspada manusia belajar mengenali gerak dirinya dan pada Cetana
Wening mulai memperoleh kejernihan, maka pada Cetana Mantep kejernihan tersebut mulai menjadi dasar yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan.
Manusia tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan.
Bukan berarti ia tidak merasakan kesedihan, kehilangan, atau penderitaan.
Ia tetap merasakan semuanya.
Namun, kesadaran tidak mudah runtuh hanya karena kehidupan tidak berjalan sesuai keinginan.
Ia mampu menerima kebahagiaan tanpa menjadi sombong.
Ia mampu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.
Ia mampu menerima keberhasilan tanpa merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ia juga mampu menerima kegagalan tanpa menganggap dirinya tidak berharga.
Kemantapan kesadaran membuat manusia lebih teguh dalam menjalani laku.
8. Cetana Kawawas.
Cetana Kawawas merupakan tataran ketika kesadaran semakin mampu memahami kenyataan.
Kawawas bukan sekadar memiliki banyak pengetahuan.
Kawawas berarti kemampuan untuk melihat dan memahami secara lebih mendalam.
Manusia mulai mampu mempertanyakan pandangannya sendiri.
Ia tidak langsung menganggap pendapat pribadi sebagai kebenaran mutlak.
Ia bersedia memeriksa kembali apa yang diyakininya.
Kawruh tidak hanya dikumpulkan, tetapi diuji melalui pengalaman dan laku.
Manusia mulai memahami bahwa seseorang dapat merasa dirinya benar tetapi tetap keliru.
Karena itu, semakin luas pemahaman, semakin besar pula kerendahan hati.
Pada tahap ini, manusia mulai mampu membedakan antara:
kebenaran dan pendapat,
kenyataan dan angan-angan,
kebutuhan dan keinginan,
ketegasan dan kekerasan,
keberanian dan kecerobohan.
Kesadaran menjadi lebih luas karena manusia tidak lagi hanya melihat kehidupan dari kepentingan dirinya sendiri.
9. Cetana Pangrasa.
Pada Cetana Pangrasa, kesadaran berkembang dalam kemampuan menghayati kehidupan melalui rasa yang semakin halus dan jernih.
Pangrasa bukan sekadar emosi.
Pangrasa merupakan kemampuan untuk menghayati keadaan secara lebih mendalam.
Manusia mulai mampu merasakan penderitaan orang lain.
Ia tidak mudah menghakimi.
Ia mulai mampu melihat bahwa setiap orang memiliki perjalanan, keterbatasan, dan pergulatannya sendiri.
Welas asih berkembang.
Tepa salira berkembang.
Rasa hormat terhadap kehidupan semakin kuat.
Namun, pangrasa yang berkembang bukan berarti menjadi terlalu larut dalam perasaan.
Rasa tetap perlu diterangi oleh cipta yang jernih dan diarahkan oleh karsa yang baik.
Karena itu, pada tataran ini cipta, rasa, dan karsa semakin membutuhkan keselarasan.
Rasa memberi kedalaman.
Cipta memberi kejernihan.
Karsa memberi arah.
10. Cetana Pepadhang.
Cetana Pepadhang merupakan tataran ketika kesadaran yang berkembang mulai menjadi pepadhang bagi kehidupan.
Manusia tidak hanya berusaha menerangi dirinya sendiri.
Cara berpikir, sikap, ucapan, dan tindakannya mulai memberikan pengaruh baik kepada lingkungan.
Ia menjadi orang yang dapat dipercaya.
Ucapannya tidak memperkeruh keadaan.
Kehadirannya tidak menambah permusuhan.
Ia lebih suka menyelesaikan persoalan daripada memperbesar persoalan.
Pengetahuannya digunakan untuk membantu, bukan untuk mengunggulkan diri.
Kekuatannya digunakan untuk melindungi, bukan menindas.
Kedudukannya digunakan untuk memberi manfaat, bukan memperbesar kepentingan pribadi.
Inilah makna penting pepadhang.
Kesadaran yang berkembang tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Ia mulai menjadi manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
11. Cetana Resik.
Cetana Resik merupakan tataran ketika kesadaran manusia semakin bersih dari pamrih pribadi.
Pada tahap ini, manusia mulai mampu melakukan kebaikan tanpa selalu membutuhkan pengakuan.
Ia tidak harus dipuji untuk melakukan sesuatu yang benar.
Ia tidak harus mendapatkan keuntungan untuk membantu orang lain.
Ia tidak harus menang untuk mempertahankan kebenaran.
Pamrih semakin berkurang.
Keakuan semakin halus.
Keinginan untuk diakui sebagai orang baik pun mulai ditinggalkan.
Inilah salah satu tanda penting perkembangan kesadaran.
Sebab bahkan “ingin dianggap baik” dapat menjadi bentuk pamrih apabila kebaikan hanya dilakukan untuk memperoleh pengakuan.
Pada Cetana Resik, kabecikan semakin menjadi bagian dari sifat kehidupan, bukan sekadar tindakan yang dilakukan karena ingin mendapatkan sesuatu.
Kesadaran menjadi lebih bebas karena tidak terus-menerus mencari balasan dari kehidupan.
12. Cetana Manunggal.
Cetana Manunggal merupakan tataran kesembilan sekaligus puncak dalam Nawa Tataraning Cetana.
Manunggal dalam konteks ini tidak berarti manusia berubah menjadi Sang Sumber Panguripan atau kehilangan keberadaan dirinya.
Manunggal lebih tepat dimaknai sebagai keselarasan yang mendalam antara kesadaran manusia dengan kasunyatan sejati dan Sang Sumber Panguripan.
Pada tataran ini, tidak lagi terdapat pertentangan yang kuat antara apa yang diketahui, apa yang dirasakan, apa yang dikehendaki, dan apa yang dilakukan.
Cipta, rasa, dan karsa berada dalam keselarasan.
Kawruh tidak bertentangan dengan laku.
Rasa tidak bertentangan dengan kebenaran.
Karsa tidak bertentangan dengan kabecikan.
Kehidupan manusia menjadi semakin utuh.
Ia tidak lagi hidup terutama untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri.
Kabecikan tidak perlu dipaksakan.
Welas asih tidak perlu dipertontonkan.
Kejujuran tidak perlu digunakan untuk memperoleh pujian.
Manembah tidak hanya berupa ungkapan, tetapi tercermin dalam seluruh kehidupan.
Pada tataran ini, manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari tatanan kehidupan yang lebih luas.
Karena itu, setiap tindakan dipertimbangkan berdasarkan dampaknya terhadap diri, sesama, alam, dan keseluruhan kehidupan.
13. Hubungan Kesembilan Tataran.
Kesembilan tataran tersebut membentuk perjalanan yang dapat dipahami sebagai perkembangan dari kesadaran yang terikat menuju kesadaran yang semakin bebas dan selaras.
Cetana Kaiket menunjukkan kesadaran yang masih dikuasai oleh pikiran.
Cetana Waspada menunjukkan mulai tumbuhnya kemampuan menyadari.
Cetana Wening menunjukkan berkembangnya kejernihan cipta.
Cetana Mantep menunjukkan kokohnya kesadaran.
Cetana Kawawas menunjukkan semakin luasnya pemahaman.
Cetana Pangrasa menunjukkan semakin dalamnya penghayatan.
Cetana Pepadhang menunjukkan kesadaran yang mulai memberi manfaat bagi kehidupan.
Cetana Resik menunjukkan berkurangnya pamrih dan keakuan.
Cetana Manunggal menunjukkan keselarasan kesadaran dengan kasunyatan sejati.
Dengan demikian, setiap tataran memiliki arah perkembangan yang berbeda tetapi saling berkaitan.
14. Hubungan Nawa Cetana dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dalam perjalanan Nawa Cetana.
Cipta berkaitan dengan kemampuan berpikir dan memahami.
Rasa berkaitan dengan kemampuan menghayati.
Karsa berkaitan dengan kemampuan menghendaki dan menentukan tindakan.
Ketika kesadaran berkembang, ketiganya semakin selaras.
Pada tataran awal, cipta dapat digunakan untuk membenarkan keinginan. Rasa dapat menjadi sumber keterikatan. Karsa dapat menjadi dorongan untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Namun, ketika kesadaran berkembang, cipta mulai digunakan untuk memahami kenyataan, rasa mulai berkembang menjadi welas asih, dan karsa mulai diarahkan kepada kabecikan.
Karena itu, perkembangan Nawa Cetana dapat dikenali melalui perkembangan ketiganya.
Cipta semakin jernih.
Rasa semakin luhur.
Karsa semakin tertata.
Ketiganya kemudian menyatu dalam budi yang semakin baik.
15. Hubungan Nawa Cetana dengan Nawa Samadhi.
Nawa Tataraning Cetana disusun
berdasarkan Nawa Samadhi Uttamopadesa.
Nawa Samadhi memberikan dasar penghayatan melalui sembilan samadhi, sedangkan Nawa Tataraning Cetana menjelaskan perkembangan kesadaran manusia yang berkaitan dengan perjalanan tersebut.
Dengan demikian, Nawa Samadhi dan Nawa Cetana tidak berdiri sendiri.
Keduanya saling menguatkan.
Nawa Samadhi memberikan ruang penghayatan.
Nawa Cetana menjelaskan tataran kesadaran.
Penghayatan yang benar seharusnya menghasilkan perubahan kesadaran.
Sebaliknya, perkembangan kesadaran seharusnya semakin memperdalam penghayatan.
Namun, keduanya tetap perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata.
16. Hubungan Nawa Cetana dengan Nawaprabodha.
Dalam kerangka Uttamopadesa, perkembangan kesadaran juga berkaitan dengan Nawaprabodha.
Cetana menjadi dasar kesadaran manusia.
Nawa Cetana menggambarkan sembilan tataran perkembangannya.
Dari berkembangnya kesadaran tersebut, lahir kemampuan memahami kehidupan secara lebih terang atau Prabodha.
Dengan demikian:
Cetana → Nawa Cetana → Prabodha → Laku.
Kesadaran berkembang.
Pemahaman menjadi semakin terang.
Kemudian pemahaman tersebut diwujudkan dalam kehidupan.
Karena itu, Prabodha bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran.
Prabodha harus melahirkan perubahan kehidupan.
17. Kesadaran Harus Dibuktikan dalam Laku.
Salah satu prinsip penting Uttamopadesa adalah bahwa kawruh tidak cukup hanya dipahami.
Kawruh harus kelakon kanthi laku.
Demikian pula dengan Nawa Cetana.
Seseorang tidak dapat menyatakan dirinya berada pada tataran tinggi hanya karena memahami penjelasan mengenai tataran tersebut.
Yang lebih penting adalah perubahan nyata dalam kehidupannya.
Apakah ia semakin jujur?
Apakah ia semakin sabar?
Apakah ia semakin mampu mengendalikan diri?
Apakah ia semakin mampu menerima perbedaan?
Apakah ia semakin sedikit dikuasai pamrih?
Apakah ia semakin menghormati kehidupan?
Apakah ia semakin mampu melakukan kebaikan tanpa mengharapkan balasan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ukuran yang lebih bermakna daripada pengakuan diri.
18. Nawa Cetana sebagai Panduan Mawas Diri.
Nawa Tataraning Cetana seharusnya digunakan sebagai panduan mawas diri, bukan sebagai alat untuk menilai orang lain.
Setiap manusia dapat menggunakannya untuk melihat keadaan dirinya.
Ketika menyadari masih berada dalam Cetana Kaiket, ia tidak perlu merasa rendah.
Ia cukup menyadari apa yang masih mengikatnya.
Ketika mulai Waspada, ia perlu mempertahankan kewaspadaan.
Ketika mencapai Wening, ia perlu menjaga kejernihan.
Ketika Mantep, ia perlu menjaga kemantapan.
Ketika Kawawas, ia perlu tetap rendah hati.
Ketika Pangrasa, ia perlu menjaga agar rasa tetap bening.
Ketika Pepadhang, ia perlu menggunakan pepadhang tersebut untuk memberi manfaat.
Ketika Resik, ia perlu menjaga agar pamrih tidak muncul kembali.
Dan ketika mencapai Manunggal, ia tidak perlu membanggakan pencapaiannya.
Sebab kesadaran yang benar justru membuat manusia semakin rendah hati.
19. Kesadaran Dapat Berkembang, tetapi Juga Dapat Surut.
Perjalanan Nawa Cetana tidak berarti seseorang sekali mencapai suatu tataran lalu tidak mungkin kembali mengalami keadaan sebelumnya.
Manusia tetap hidup dalam dunia yang penuh perubahan.
Godaan, tekanan, kehilangan, keberhasilan, kekuasaan, hubungan sosial, dan berbagai keadaan dapat memengaruhi kehidupan.
Karena itu, perkembangan kesadaran membutuhkan ketekunan.
Seseorang yang telah belajar tenang dapat kembali marah.
Seseorang yang telah belajar tidak pamrih dapat kembali menginginkan pengakuan.
Seseorang yang telah belajar memahami
dapat kembali menghakimi.
Kesadaran harus terus dipelihara melalui laku.
Inilah sebabnya mengapa Nawa Cetana bukan sekadar pencapaian, tetapi juga perjalanan yang harus terus dijalani.
20. Puncak Nawa Cetana.
Tataran tertinggi, Cetana Manunggal, bukanlah pencapaian untuk membedakan seseorang dari orang lain.
Puncaknya justru ditandai oleh semakin hilangnya keinginan untuk mengunggulkan diri.
Manusia semakin memahami bahwa kehidupan tidak berpusat pada dirinya sendiri.
Cipta, rasa, dan karsa tidak lagi digunakan semata-mata untuk memenuhi keinginan pribadi.
Kawruh menjadi pepadhang.
Rasa menjadi welas asih.
Karsa menjadi kabecikan.
Laku menjadi perwujudan kesadaran.
Hubungan dengan sesama menjadi lebih baik.
Hubungan dengan alam menjadi lebih bertanggung jawab.
Dan hubungan dengan Sang Sumber Panguripan semakin dihayati melalui seluruh kehidupan.
Manunggal dengan demikian bukan sekadar keadaan batin, tetapi keselarasan hidup secara utuh.
21. Kesimpulan.
Nawa Tataraning Cetana merupakan uraian mengenai sembilan tataran perkembangan kesadaran manusia dalam Kawruh Uttamopadesa.
Cetana merupakan hakikat kesadaran manusia.
Kesadaran manusia tersebut berkembang melalui berbagai keadaan dan dapat dikenali melalui sembilan tataran:
Cetana Kaiket, Cetana Waspada, Cetana Wening, Cetana Mantep, Cetana Kawawas, Cetana Pangrasa, Cetana Pepadhang, Cetana Resik, dan Cetana Manunggal.
Setiap tataran menunjukkan perubahan dalam cara manusia mengenali diri, memahami kehidupan, mengolah cipta, rasa, dan karsa, serta menjalankan laku.
Perjalanannya dimulai dari kesadaran yang masih kuat terikat oleh keinginan dan pamrih.
Kemudian manusia mulai waspada terhadap dirinya sendiri.
Kesadaran menjadi wening.
Kemudian semakin mantep.
Pemahaman semakin kawawas.
Pangrasa semakin berkembang.
Kesadaran menjadi pepadhang.
Pamrih semakin resik.
Dan akhirnya mencapai tataran Manunggal, yaitu keadaan kesadaran yang semakin selaras dengan kasunyatan sejati dan Sang Sumber Panguripan.
Namun, ukuran perkembangan tersebut bukanlah pengakuan bahwa seseorang telah mencapai tataran tertentu.
Ukuran yang paling nyata adalah laku.
Kesadaran yang berkembang akan terlihat dalam cipta yang semakin jernih, rasa yang semakin luhur, karsa yang semakin baik, ucapan yang semakin terjaga, dan tindakan yang semakin bermanfaat.
Karena itu, Nawa Cetana bukan sekadar pengetahuan tentang tingkat kesadaran.
Ia merupakan peta perjalanan manusia untuk mengenali dan mengembangkan hakikat kesadarannya sendiri.
Semakin berkembang kesadaran, semakin jernih pamawas.
Semakin jernih pamawas, semakin baik laku.
Semakin baik laku, semakin nyata Prabodha dalam kehidupan.
Pada akhirnya, perkembangan kesadaran bukan untuk menjadikan manusia merasa lebih tinggi daripada yang lain, melainkan untuk menjadikan kehidupan semakin selaras, penuh sih, penuh kawicaksanan, tentrem, dan migunani.
Kawruh sejati tidak berhenti dalam pikiran. Kawruh harus kelakon kanthi laku.
FAQ - Nawa Tataraning Cetana.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Cetana?
Nawa Cetana adalah sembilan tataran kesadaran manusia yang menggambarkan perkembangan kesadaran dari keadaan yang masih terikat hingga keadaan yang semakin jernih, luhur, dan selaras dengan kasunyatan sejati.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Tataraning Cetana?
Nawa Tataraning Cetana adalah uraian mengenai sembilan tataran perkembangan kesadaran manusia dalam kerangka Uttamopadesa.
Apa saja sembilan tataran Nawa Cetana?
Kesembilan tataran tersebut adalah Cetana Kaiket, Cetana Waspada, Cetana Wening, Cetana Mantep, Cetana Kawawas, Cetana Pangrasa, Cetana Pepadhang, Cetana Resik, dan Cetana Manunggal.
Apakah Nawa Cetana sama dengan sembilan jenis Cetana?
Tidak. Nawa Cetana menunjuk pada sembilan tataran kesadaran manusia. Kesembilan tataran tersebut menggambarkan perkembangan keadaan kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan.
Apakah kesadaran manusia dapat berkembang?
Ya. Dalam kerangka Nawa Cetana, kesadaran manusia dapat berkembang dari keadaan yang masih dikuasai keinginan dan pamrih menuju keadaan yang semakin jernih, mantap, luas, penuh rasa, resik, dan manunggal.
Apa hubungan Nawa Cetana dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan daya kejiwaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Perkembangan kesadaran dapat terlihat dari semakin jernihnya cipta, semakin luhurnya rasa, dan semakin tertatanya karsa.
Apa hubungan Nawa Cetana dengan Nawa Samadhi?
Nawa Tataraning Cetana disusun berdasarkan Nawa Samadhi Uttamopadesa. Nawa Samadhi memberikan dasar penghayatan, sedangkan Nawa Tataraning Cetana menjelaskan perkembangan kesadaran manusia dalam perjalanan tersebut.
Apa hubungan Nawa Cetana dengan Nawaprabodha?
Nawa Cetana menjelaskan perkembangan kesadaran manusia, sedangkan Nawaprabodha berkaitan dengan berkembangnya pepadhang atau pemahaman yang semakin terang. Kesadaran yang berkembang menjadi dasar bagi lahirnya Prabodha.
Bagaimana mengetahui seseorang berada pada tataran tertentu?
Tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan atau pengetahuan tentang Nawa Cetana. Tataran kesadaran lebih tepat dikenali melalui perubahan nyata dalam cipta, rasa, karsa, sikap, ucapan, dan laku.
Apakah seseorang yang sudah mencapai tataran tinggi tidak mungkin mengalami kemunduran?
Manusia tetap dapat mengalami keadaan naik dan turun. Karena itu, perkembangan kesadaran harus terus dipelihara melalui eling, mawas diri, dan laku yang ajeg.
Apa arti Cetana Manunggal?
Cetana Manunggal merupakan tataran kesembilan, ketika kesadaran manusia mencapai keselarasan yang mendalam dengan kasunyatan sejati dan Sang Sumber Panguripan. Manunggal bukan berarti manusia berubah menjadi Sang Sumber Panguripan.
Apa tujuan akhir Nawa Cetana Uttamopadesa?
Tujuan akhirnya adalah berkembangnya kesadaran manusia sehingga cipta semakin jernih, rasa semakin luhur, karsa semakin baik, dan seluruh kehidupan semakin selaras dengan kasunyatan, sesama, alam, serta Sang Sumber Panguripan.
**Sumber artikel :
Artikel pendalaman :


Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.