Cetana Pepadhang merupakan tataran ketujuh dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu tataran ketika kesadaran manusia yang telah berkembang mulai menjadi pepadhang bagi kehidupan.
Pepadhang berarti penerangan. Namun, pepadhang dalam tataran ini tidak dimaksudkan sebagai cahaya dalam pengertian fisik ataupun pengalaman yang bersifat luar biasa.
Pepadhang menunjuk pada daya kesadaran yang membuat cipta semakin jernih, rasa semakin baik, dan karsa semakin terarah kepada kehidupan yang bermanfaat.
Pada tataran sebelumnya, Cetana Kawawas membawa manusia kepada kemampuan memahami kenyataan secara lebih luas.
Kemudian Cetana Pangrasa membuat manusia semakin mampu menghayati kehidupan melalui rasa yang halus dan jernih.
Pada Cetana Pepadhang, pemahaman dan penghayatan tersebut mulai keluar menjadi pengaruh nyata dalam kehidupan.
Manusia tidak lagi hanya bertanya:
“Apa yang saya pahami?”
atau:
“Apa yang saya rasakan?”
Pertanyaan berkembang menjadi:
“Apa yang dapat saya lakukan agar keberadaan saya memberi manfaat?”
Di sinilah kesadaran mulai menjadi pepadhang.
Dari Memahami dan Menghayati Menuju Memberi Manfaat.
Perkembangan kesadaran tidak berhenti pada perubahan dalam diri. Jika manusia telah belajar memahami kenyataan, kemudian mampu menghayati kehidupan dengan rasa yang lebih halus, maka perkembangan berikutnya adalah kemampuan membawa pemahaman dan rasa tersebut ke dalam hubungan dengan sesama.
Karena itu, Cetana Pepadhang bukan terutama tentang apa yang dirasakan seseorang di dalam dirinya.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi di sekitarnya karena cara berpikir, sikap, ucapan, dan tindakannya.
Kehadirannya tidak memperkeruh keadaan. Ucapannya tidak menambah permusuhan. Sikapnya tidak memperbesar persoalan. Sebaliknya, ia berusaha membuat keadaan menjadi lebih jernih, lebih tertib, dan lebih baik.
Pepadhang mulai terlihat dari buah kehidupan.
Pepadhang Bukan Berarti Merasa Lebih Tinggi.
Seseorang yang memiliki pengetahuan lebih banyak belum tentu menjadi pepadhang. Pengetahuan bahkan dapat menjadi sumber kesombongan apabila digunakan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu daripada orang lain.
Cetana Pepadhang justru bergerak ke arah sebaliknya. Semakin banyak yang diketahui, semakin besar tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan tersebut dengan baik.
Karena itu, manusia pada tataran ini tidak menggunakan kawruh untuk mengunggulkan dirinya.
Ia menggunakannya untuk membantu.
Ia tidak menjadikan pemahamannya sebagai alat untuk merendahkan orang lain.
Ia tidak merasa harus selalu menang dalam perdebatan.
Ia lebih memilih membuat sesuatu menjadi jelas daripada sekadar membuktikan bahwa dirinya benar. Pepadhang menerangi, bukan menyilaukan.
Ucapan Menjadi Pepadhang.
Salah satu tanda Cetana Pepadhang dapat dilihat dari cara manusia berbicara. Ucapan memiliki kekuatan besar dalam kehidupan.
Satu ucapan dapat menenangkan.
Satu ucapan juga dapat memperbesar pertengkaran.
Manusia yang kesadarannya berkembang mulai memahami akibat dari ucapannya.
Ia tidak berbicara hanya karena ingin berbicara.
Ia mulai mempertimbangkan apakah perkataannya benar, perlu, dan bermanfaat.
Ketika menghadapi perbedaan pendapat, ia tidak segera menggunakan kata-kata yang merendahkan.
Ketika menerima kabar yang belum jelas, ia tidak tergesa-gesa menyebarkannya.
Ketika mengetahui kelemahan seseorang, ia tidak menjadikannya bahan untuk mempermalukan.
Ketika memberikan nasihat, ia berusaha menyampaikannya dengan cara yang dapat diterima.
Dengan demikian, ucapan menjadi bagian dari pepadhang. Kata-kata digunakan untuk menjernihkan, bukan mengeruhkan.
Kehadiran Tidak Menambah Permusuhan.
Pepadhang juga terlihat dalam cara manusia menghadapi konflik.
Dalam kehidupan, perbedaan dan perselisihan tidak selalu dapat dihindari. Namun, manusia dapat memilih bagaimana meresponsnya.
Orang yang masih dikuasai pamrih cenderung ingin menang.
Ia mungkin memperbesar persoalan agar dirinya terlihat benar.
Sebaliknya, manusia yang kesadarannya semakin berkembang mulai mencari jalan keluar.
Ia tidak berarti selalu mengalah.
Ia tetap dapat bersikap tegas.
Namun, ketegasan tidak digunakan untuk mempermalukan atau menindas.
Ia berusaha menyelesaikan persoalan tanpa menciptakan persoalan baru.
Karena itu, salah satu tanda pepadhang adalah kemampuan menjadi penjernih dalam keadaan yang keruh.
Pengetahuan Digunakan untuk Membantu.
Pada Cetana Pepadhang, pengetahuan memperoleh fungsi yang lebih nyata. Pengetahuan tidak lagi hanya menjadi milik pribadi.
Apa yang diketahui dapat digunakan untuk membantu orang lain memahami sesuatu.
Orang yang memiliki kemampuan tertentu dapat menggunakannya untuk memberikan manfaat.
Orang yang memiliki pengalaman dapat membagikan pengalaman tersebut.
Orang yang memiliki keahlian dapat menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.
Namun, semua itu dilakukan tanpa menjadikan bantuan sebagai alat untuk membangun keunggulan pribadi.
Pengetahuan menjadi pepadhang ketika membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Karena itu, nilai pengetahuan tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang diketahui, tetapi juga dari seberapa baik pengetahuan tersebut digunakan.
Kekuatan Digunakan untuk Melindungi.
Setiap manusia memiliki bentuk kekuatan yang berbeda.
Ada yang memiliki kekuatan fisik.
Ada yang memiliki kekuatan pengetahuan.
Ada yang memiliki kekuasaan.
Ada yang memiliki pengaruh.
Ada yang memiliki kedudukan.
Ada pula yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan banyak orang.
Kekuatan tersebut dapat digunakan untuk dua arah.
Ia dapat digunakan untuk menindas, menguasai, dan memperbesar kepentingan diri.
Tetapi dapat pula digunakan untuk melindungi dan memberi manfaat.
Cetana Pepadhang mengarahkan kekuatan kepada pilihan kedua.
Manusia mulai memahami bahwa semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Kekuatan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Kekuatan adalah kesempatan untuk memberikan perlindungan dan manfaat.
Kedudukan Digunakan untuk Mengabdi.
Hal yang sama berlaku terhadap kedudukan.
Kedudukan dapat membuat seseorang memperoleh kewenangan.
Namun, kewenangan tidak seharusnya hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
Manusia yang kesadarannya berkembang mulai melihat kedudukan sebagai tanggung jawab.
Jika diberi kepercayaan untuk memimpin, ia berusaha memimpin dengan adil.
Jika diberi tanggung jawab, ia menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
Jika memiliki pengaruh, ia menggunakannya untuk kepentingan yang lebih luas.
Ia tidak menjadikan kedudukan sebagai alat untuk mencari penghormatan.
Justru semakin tinggi kedudukannya, semakin besar kesadarannya untuk menjaga kepentingan kehidupan yang berada dalam tanggung jawabnya.
Inilah salah satu bentuk pepadhang yang paling nyata.
Pepadhang Berawal dari Diri Sendiri.
Walaupun dampaknya mulai dirasakan oleh lingkungan, Cetana Pepadhang tetap berawal dari pengolahan diri.
Tidak mungkin seseorang menjadi pepadhang bagi orang lain jika dirinya sendiri terus dikuasai oleh kemarahan, pamrih, kesombongan, dan kepentingan pribadi.
Karena itu, perkembangan dari tataran sebelumnya tetap menjadi dasar.
Waspada membuat manusia mampu melihat gerak dirinya.
Wening membuat pandangan menjadi lebih jernih.
Mantep membuat kesadaran lebih kokoh.
Kawawas memperluas pemahaman.
Pangrasa memperdalam penghayatan.
Kemudian Pepadhang membuat semua perkembangan tersebut mulai menghasilkan manfaat bagi kehidupan.
Dengan demikian, pepadhang bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.
Ia merupakan buah dari proses perkembangan kesadaran sebelumnya.
Cipta, Rasa, dan Karsa Semakin Selaras.
Pada Cetana Pepadhang, hubungan antara cipta, rasa, dan karsa menjadi semakin penting.
Cipta memberikan kejernihan untuk melihat persoalan.
Rasa memberikan kepekaan terhadap keadaan kehidupan.
Karsa memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat.
Jika ketiganya tidak selaras, pepadhang
dapat kehilangan arah.
Cipta tanpa rasa dapat menjadi dingin.
Rasa tanpa cipta dapat menjadi emosional.
Karsa tanpa keduanya dapat menjadi tindakan yang tergesa-gesa.
Karena itu:
Cipta memberi kejernihan.
Rasa memberi kedalaman.
Karsa memberi arah.
Ketika ketiganya berjalan selaras, kesadaran dapat menghasilkan tindakan yang lebih tepat dan bermanfaat.
Pepadhang Diukur dari Dampaknya.
Cetana Pepadhang tidak perlu dibuktikan melalui pengakuan pribadi.
Seseorang tidak perlu mengatakan bahwa dirinya telah menjadi pepadhang.
Justru kehidupan di sekitarnya yang dapat memperlihatkan buahnya.
Apakah kehadirannya membuat orang lain merasa lebih aman?
Apakah ucapannya membantu menjernihkan persoalan?
Apakah pengetahuannya berguna bagi orang lain?
Apakah kekuatannya digunakan untuk melindungi?
Apakah kedudukannya digunakan untuk memberi manfaat?
Apakah keberadaannya mengurangi permusuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada pengakuan tentang tingkat kesadaran seseorang.
Pepadhang terlihat dari manfaat yang ditimbulkannya.
Tidak Berarti Harus Menjadi Tokoh Besar.
Menjadi pepadhang tidak berarti harus menjadi pemimpin besar, guru, tokoh masyarakat, atau seseorang yang dikenal banyak orang.
Pepadhang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Orang tua yang mendidik anak dengan baik dapat menjadi pepadhang.
Guru yang mendidik dengan tulus dapat menjadi pepadhang.
Seseorang yang menenangkan perselisihan dapat menjadi pepadhang.
Orang yang membantu sesamanya tanpa mengharapkan pujian dapat menjadi pepadhang.
Bahkan tindakan sederhana seperti berkata jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan dapat menjadi bentuk pepadhang.
Karena itu, ukuran pepadhang bukanlah seberapa besar seseorang terlihat, melainkan seberapa besar manfaat yang lahir dari keberadaannya.
Pangilon Dhiri Cetana Pepadhang.
Beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai pangilon dhiri:
• Apakah kehadiran saya membuat keadaan lebih baik atau justru lebih keruh?
• Apakah ucapan saya menenangkan atau memperbesar permusuhan?
• Apakah pengetahuan yang saya miliki saya gunakan untuk membantu?
• Apakah saya menggunakan kemampuan untuk mengunggulkan diri?
• Apakah kekuatan yang saya miliki digunakan untuk melindungi?
• Apakah kedudukan saya digunakan untuk memberi manfaat?
• Apakah saya mampu menyelesaikan persoalan tanpa memperbesar persoalan?
• Apakah saya tetap rendah hati ketika memiliki pengetahuan atau pengaruh?
• Apakah cipta, rasa, dan karsa saya semakin selaras?
• Apakah keberadaan saya memberikan manfaat nyata bagi kehidupan di sekitar saya?
Pertanyaan tersebut membantu manusia melihat apakah perkembangan kesadarannya telah menghasilkan buah dalam kehidupan.
Wohing Cetana Pepadhang.
Buah Cetana Pepadhang terutama terlihat dalam perubahan pengaruh manusia terhadap lingkungannya.
Ia menjadi lebih dapat dipercaya.
Orang lain merasa lebih aman berbicara kepadanya.
Persoalan tidak mudah membesar ketika ia terlibat.
Perbedaan tidak selalu berubah menjadi permusuhan.
Pengetahuannya memberikan manfaat.
Sikapnya memberikan ketenangan.
Kekuatannya memberikan perlindungan.
Kedudukannya memberikan pelayanan.
Ia tidak membutuhkan pengakuan bahwa dirinya baik, karena kebaikan tersebut mulai terlihat dari tindakannya.
Pada tahap ini, kesadaran tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dialami oleh dirinya sendiri.
Kesadaran telah menjadi daya yang mempengaruhi kehidupan.
Menuju Cetana Resik.
Cetana Pepadhang kemudian menjadi dasar menuju tataran berikutnya, yaitu Cetana Resik.
Pada Pepadhang, manusia mulai menggunakan perkembangan kesadarannya untuk memberi manfaat kepada kehidupan.
Namun, masih terdapat satu hal yang perlu semakin dibersihkan: pamrih pribadi.
Seseorang dapat membantu orang lain tetapi masih mengharapkan pujian.
Ia dapat memimpin tetapi masih ingin dihormati.
Ia dapat memberikan pengetahuan tetapi masih ingin dianggap paling pintar.
Ia dapat berbuat baik tetapi masih ingin mendapatkan pengakuan.
Karena itu, perkembangan berikutnya menuju Cetana Resik, ketika tindakan yang memberikan manfaat semakin bersih dari kepentingan pribadi.
Dengan demikian, perjalanan Nawa Tataraning Cetana semakin jelas:
Cetana Kaiket — kesadaran masih terikat.
Cetana Waspada — mulai menyadari gerak diri.
Cetana Wening — mulai jernih melihat.
Cetana Mantep — semakin kokoh.
Cetana Kawawas — semakin memahami.
Cetana Pangrasa — semakin menghayati.
Cetana Pepadhang — mulai menjadi manfaat bagi kehidupan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran yang semakin tinggi tidak semakin menjauh dari kehidupan.
Justru sebaliknya. Semakin berkembang kesadaran, semakin besar manfaatnya bagi kehidupan.
Kesimpulan.
Cetana Pepadhang merupakan tataran ketujuh dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia yang telah berkembang mulai menjadi pepadhang bagi kehidupan di sekitarnya.
Pada tahap ini, manusia tidak hanya berusaha memperbaiki dirinya sendiri.
Pemahaman yang telah berkembang melalui Kawawas dan rasa yang semakin halus melalui Pangrasa mulai diwujudkan dalam cara berpikir, sikap, ucapan, dan tindakan.
Ia berusaha menjadi orang yang dapat dipercaya.
Ia tidak memperkeruh persoalan.
Ia tidak memperbesar permusuhan.
Ia menggunakan pengetahuan untuk membantu, kekuatan untuk melindungi, dan kedudukan untuk memberi manfaat.
Pepadhang bukan berarti menjadi orang yang paling pintar, paling suci, atau paling tinggi.
Pepadhang justru ditandai oleh semakin kecilnya kebutuhan untuk mengunggulkan diri dan semakin besarnya kemauan untuk memberikan manfaat.
Karena itu, ukuran Cetana Pepadhang bukan pengalaman pribadi yang luar biasa, melainkan buah nyata dari kesadaran dalam kehidupan.
Jika kehadiran seseorang membuat keadaan lebih jernih, ucapannya menenangkan, tindakannya bermanfaat, kekuatannya melindungi, dan kedudukannya digunakan untuk kepentingan yang lebih luas, maka kesadaran tersebut telah mulai menjadi pepadhang.
Pada tahap berikutnya, perkembangan itu perlu dibersihkan dari sisa-sisa pamrih pribadi.
Dari sinilah perjalanan berlanjut menuju Cetana Resik: kesadaran yang semakin bersih dalam menjalankan manfaat tanpa menjadikan kebaikan sebagai alat untuk membesarkan diri.
FAQ - Cetana Pepadhang.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Pepadhang?
Cetana Pepadhang adalah tataran ketujuh dalam Nawa Tataraning Cetana ketika kesadaran manusia yang telah berkembang mulai menjadi pepadhang atau penerang bagi kehidupan melalui pikiran, sikap, ucapan, dan tindakan yang bermanfaat.
Apakah Pepadhang berarti mengalami cahaya atau pengalaman gaib?
Tidak. Dalam konteks Nawa Tataraning Cetana, pepadhang menunjuk pada kesadaran yang semakin jernih dan menghasilkan manfaat nyata dalam kehidupan.
Apa perbedaan Cetana Pangrasa dan Cetana Pepadhang?
Cetana Pangrasa menekankan kedalaman kemampuan menghayati kehidupan melalui rasa, sedangkan Cetana Pepadhang menekankan perwujudan pemahaman dan penghayatan tersebut menjadi manfaat bagi kehidupan.
Bagaimana seseorang dapat menjadi pepadhang?
Dengan menggunakan cipta, rasa, dan karsa secara selaras: berpikir jernih, memiliki rasa terhadap kehidupan, serta mengarahkan tindakan kepada hal yang benar dan bermanfaat.
Apakah orang yang menjadi pepadhang harus menjadi pemimpin?
Tidak. Setiap orang dapat menjadi pepadhang melalui tindakan sehari-hari yang memberi manfaat, baik dalam keluarga, pekerjaan, lingkungan, maupun hubungan dengan sesama.
Mengapa pengetahuan harus digunakan untuk membantu?
Karena pengetahuan yang hanya digunakan untuk mengunggulkan diri belum menghasilkan manfaat yang luas. Dalam Cetana Pepadhang, pengetahuan mulai digunakan sebagai sarana membantu dan menjernihkan kehidupan.
Mengapa kekuatan harus digunakan untuk melindungi?
Karena kekuatan memiliki dampak terhadap kehidupan orang lain. Kesadaran yang berkembang mengarahkan kekuatan untuk melindungi dan memberi manfaat, bukan untuk menindas.
Apa hubungan kedudukan dengan Cetana Pepadhang?
Kedudukan dipandang sebagai tanggung jawab. Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula kesempatan untuk menggunakan kedudukan tersebut bagi manfaat kehidupan, bukan semata-mata kepentingan pribadi.
Apakah pepadhang berarti harus selalu mengalah?
Tidak. Pepadhang bukan kelemahan. Seseorang tetap dapat tegas dan mempertahankan kebenaran, tetapi berusaha melakukannya tanpa memperbesar permusuhan atau merendahkan orang lain.
Bagaimana mengetahui bahwa kesadaran seseorang mulai menjadi pepadhang?
Lihat buah tindakannya. Apakah ia membuat persoalan lebih jernih, memberikan manfaat, dapat dipercaya, menggunakan pengetahuan untuk membantu, dan menggunakan kekuatan atau kedudukannya secara bertanggung jawab?
Apa tataran setelah Cetana Pepadhang?
Tataran berikutnya adalah Cetana Resik, yaitu tataran ketika kesadaran semakin bersih dari pamrih pribadi sehingga manfaat yang diberikan semakin tulus dan tidak digunakan untuk mengunggulkan diri.
**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.