Tataran Pertama dalam Nawa Tataraning Cetana
Cetana Kaiket merupakan tataran pertama dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu keadaan ketika kesadaran manusia masih kuat terikat oleh keinginan, hawa, pamrih, ketakutan, kemarahan, iri hati, kesombongan, dan berbagai kepentingan pribadi.
Pada tataran ini, manusia belum sepenuhnya mampu melihat kehidupan secara jernih karena kesadarannya masih banyak dipengaruhi oleh dorongan dari dalam dirinya sendiri.
Apa yang diinginkan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus diperoleh, sedangkan apa yang tidak diinginkan cenderung dianggap sebagai sesuatu yang harus ditolak.
Karena itu, ukuran benar dan salah pun dapat dengan mudah bergeser mengikuti kepentingan pribadi.
Ketika keinginan terpenuhi, manusia merasa senang dan menganggap keadaan berjalan sebagaimana mestinya. Sebaliknya, ketika keinginan terhalang, muncul rasa kecewa, marah, takut, iri, atau bahkan kebencian.
Keadaan di luar dirinya dengan mudah menentukan keadaan di dalam dirinya.
Inilah yang dimaksud dengan kaiket, yaitu keadaan kesadaran yang masih terikat.
Kesadaran yang Masih Terikat.
Keterikatan tidak selalu tampak dalam bentuk keinginan yang besar. Ia dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari melalui hal-hal yang tampaknya sederhana.
Manusia dapat terikat pada pujian.
Ketika dipuji, ia merasa dirinya berharga. Ketika tidak dipuji, ia merasa tidak dihargai.
Manusia dapat terikat pada pendapatnya sendiri.
Ketika orang lain menyetujui pendapatnya, ia merasa benar. Ketika pendapatnya ditolak, ia mudah tersinggung.
Manusia dapat terikat pada keberhasilan.
Ketika berhasil, ia merasa lebih tinggi. Ketika gagal, ia merasa dirinya rendah.
Manusia juga dapat terikat pada kepemilikan, kedudukan, hubungan, penghormatan, kenyamanan, bahkan gambaran tentang dirinya sendiri.
Selama sesuatu masih menjadi sumber utama kebahagiaan atau penderitaan, terdapat kemungkinan bahwa kesadaran masih terikat kepadanya.
Karena itu, Cetana Kaiket bukan hanya keadaan ketika manusia memiliki banyak keinginan, melainkan keadaan ketika keinginan tersebut mempunyai kekuatan besar untuk mengendalikan cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak.
Keterikatan dalam Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cetana Kaiket dapat dikenali melalui keadaan cipta, rasa, dan karsa.
Dalam cipta, keterikatan dapat terlihat ketika pikiran terus-menerus berputar pada sesuatu yang diinginkan. Angan-angan berkembang menjadi harapan, harapan berubah menjadi tuntutan, dan ketika tuntutan tidak terpenuhi, pikiran dipenuhi kekecewaan.
Dalam rasa, keterikatan tampak ketika perasaan mudah berubah mengikuti keadaan. Pujian menimbulkan kegembiraan berlebihan, sedangkan celaan menimbulkan sakit hati. Keuntungan menimbulkan rasa senang, sementara kerugian menimbulkan kegelisahan.
Dalam karsa, keterikatan tampak ketika kehendak lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri. Manusia mengetahui bahwa suatu tindakan kurang baik, tetapi tetap melakukannya karena dorongan keinginan lebih kuat daripada pertimbangan.
Karena itu, keterikatan tidak hanya terjadi dalam pikiran.
Ia dapat mempengaruhi keseluruhan kehidupan.
Cipta memikirkan.
Rasa menguatkan atau melemahkan.
Karsa mendorong tindakan.
Apabila ketiganya berada di bawah pengaruh pamrih dan hawa, manusia semakin mudah kehilangan kejernihan dalam menentukan sikap.
Ketika Keinginan Menjadi Ukuran Kebenaran.
Salah satu ciri penting Cetana Kaiket adalah kecenderungan menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran kebenaran.
Apa yang menguntungkan dianggap baik.
Apa yang merugikan dianggap buruk.
Apa yang menyenangkan dianggap benar.
Apa yang menyakitkan dianggap salah.
Padahal, sesuatu yang menyenangkan belum tentu benar, dan sesuatu yang tidak
menyenangkan belum tentu salah.
Contohnya, seseorang mungkin ingin membalas perkataan orang lain karena merasa tersinggung. Dorongan tersebut terasa benar karena berasal dari rasa sakit yang sedang dialaminya. Namun, setelah keadaan menjadi tenang, ia mungkin menyadari bahwa membalas dengan kemarahan justru memperbesar persoalan.
Di sinilah pentingnya perkembangan kesadaran.
Manusia perlu belajar membedakan antara apa yang diinginkan dan apa yang benar-benar baik.
Keinginan merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi keinginan tidak seharusnya menjadi penguasa kehidupan.
Pamrih sebagai Bentuk Keterikatan.
Pamrih merupakan salah satu bentuk keterikatan yang penting untuk dikenali.
Pamrih muncul ketika seseorang melakukan sesuatu dengan harapan memperoleh keuntungan tertentu bagi dirinya.
Keuntungan tersebut dapat berupa materi, penghargaan, kedudukan, perhatian, pujian, rasa dihormati, atau sekadar keinginan untuk dianggap baik.
Pamrih tidak selalu tampak buruk.
Seseorang dapat melakukan perbuatan yang secara lahiriah terlihat baik, tetapi di dalam dirinya masih terdapat keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
Karena itu, perkembangan kesadaran tidak cukup dinilai dari tindakan lahiriah.
Manusia juga perlu melihat dorongan yang berada di balik tindakan tersebut.
Apakah saya melakukan kebaikan karena memang menyadari bahwa itu baik?
Ataukah saya melakukannya agar dipuji?
Apakah saya membantu karena ingin memberi manfaat?
Ataukah saya membantu agar suatu hari mendapatkan balasan?
Pertanyaan semacam ini merupakan bagian dari mawas diri.
Ketakutan dan Kemarahan.
Ketakutan juga dapat membuat kesadaran menjadi terikat.
Manusia takut kehilangan sesuatu yang dimiliki, takut ditolak, takut dianggap gagal, takut kehilangan kedudukan, atau takut menghadapi sesuatu yang belum diketahui.
Ketika ketakutan tidak dikenali, ia dapat mempengaruhi keputusan.
Demikian pula kemarahan.
Kemarahan sering muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan kehendak. Semakin kuat keterikatan terhadap kehendak tersebut, semakin mudah seseorang marah ketika kehendaknya terhalang.
Karena itu, kemarahan dapat menjadi salah satu cermin untuk melihat keterikatan dalam diri.
Bukan berarti manusia tidak boleh marah atau tidak boleh merasa takut.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah rasa takut dan kemarahan tersebut menguasai kesadaran sehingga manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan bertindak dengan jernih.
Mengenali Bahwa Diri Masih Terikat.
Cetana Kaiket merupakan tataran awal, tetapi mengenalinya merupakan langkah yang sangat penting.
Manusia tidak dapat melepaskan sesuatu yang tidak disadarinya.
Karena itu, perkembangan kesadaran dimulai dari keberanian melihat diri sendiri sebagaimana adanya.
Tidak perlu berpura-pura sudah bebas dari pamrih.
Tidak perlu merasa dirinya sudah tenang apabila sebenarnya masih mudah tersinggung.
Tidak perlu menganggap dirinya sudah bijaksana apabila masih sulit menerima perbedaan.
Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal perubahan.
Ketika seseorang mampu mengatakan, “Saya masih mudah marah,” maka ia telah mulai melihat keadaan dirinya.
Ketika ia mampu berkata, “Saya masih membutuhkan pujian,” maka ia mulai mengenali keterikatannya.
Ketika ia mampu menyadari, “Saya melakukan ini karena ingin mendapatkan pengakuan,” maka pamrih yang sebelumnya tersembunyi mulai terlihat.
Kesadaran semacam inilah yang menjadi pintu menuju Cetana Waspada.
Pangilon Dhiri.
Untuk mengenali Cetana Kaiket, manusia dapat menggunakan pertanyaan sebagai pangilon dhiri atau cermin diri:
• Apakah kehidupan saya masih terlalu ditentukan oleh keinginan?
• Apakah saya mudah marah ketika kehendak tidak terpenuhi?
• Apakah saya mudah kecewa ketika tidak mendapatkan pujian?
• Apakah saya sulit menerima kritik?
• Apakah saya merasa lebih tinggi ketika mendapatkan keberhasilan?
• Apakah saya merasa rendah ketika mengalami kegagalan?
• Apakah saya melakukan kebaikan karena ingin mendapatkan penghargaan?
• Apakah saya masih mudah iri terhadap keberhasilan orang lain?
• Apakah ketakutan sering menentukan keputusan saya?
• Apakah saya mampu melihat kesalahan diri tanpa segera menyalahkan orang lain?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi diri sendiri.
Tujuannya adalah mengenali keadaan kesadaran dengan jujur.
Dari Cetana Kaiket Menuju Cetana Waspada.
Perubahan tidak terjadi hanya dengan mengatakan bahwa keterikatan itu buruk.
Manusia perlu belajar melihat bagaimana keterikatan bekerja dalam dirinya.
Ketika keinginan muncul, ia mulai mengamatinya.
Ketika kemarahan muncul, ia tidak langsung mengikutinya.
Ketika pamrih muncul, ia berusaha mengenalinya.
Ketika menerima pujian, ia belajar tetap sederhana.
Ketika menerima celaan, ia belajar tidak langsung membalas.
Ketika mengalami kegagalan, ia belajar menerima dan mengambil pelajaran.
Laku semacam itu secara perlahan membuat kesadaran tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh dorongan yang muncul.
Inilah awal dari Cetana Waspada.
Dengan demikian, Cetana Kaiket bukan akhir dan bukan pula sesuatu yang harus ditakuti.
Ia adalah keadaan yang perlu dikenali.
Kesadaran tidak berkembang dengan menolak keadaan diri, melainkan dengan melihatnya secara jujur, memahami penyebabnya, dan mulai memperbaikinya melalui laku.
Kesimpulan.
Cetana Kaiket adalah tataran pertama Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia masih kuat terikat oleh keinginan, hawa, pamrih, ketakutan, kemarahan, iri hati, kesombongan, dan berbagai kepentingan pribadi.
Pada keadaan ini, cipta, rasa, dan karsa masih mudah dipengaruhi oleh dorongan pribadi. Keinginan dapat menjadi ukuran kebenaran, keadaan luar mudah menentukan ketenteraman diri, dan pamrih sering memengaruhi tindakan.
Namun, mengenali Cetana Kaiket bukan berarti menyatakan bahwa seseorang gagal.
Justru pengenalan terhadap keterikatan merupakan awal perkembangan kesadaran.
Manusia mulai berkembang ketika mampu melihat dirinya sendiri dengan jujur.
Ia mulai menyadari keinginan yang mengikat, mengenali pamrih yang tersembunyi, mengamati kemarahan dan ketakutan, serta belajar tidak langsung mengikuti setiap dorongan yang muncul.
Dari kesadaran tersebut lahirlah kewaspadaan.
Dan dari kewaspadaan itulah perjalanan menuju Cetana Waspada dimulai.
Dengan demikian, makna terdalam Cetana Kaiket bukan sekadar “kesadaran yang terbelenggu”, tetapi kesadaran manusia yang belum mampu membebaskan dirinya dari pengaruh berbagai dorongan yang menguasai cipta, rasa, dan karsa.
Mengenali keterikatan adalah awal untuk membebaskan diri darinya.
Dan keberanian untuk melihat diri sendiri merupakan langkah pertama menuju berkembangnya kesadaran.
FAQ - Cetana Kaiket.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Kaiket?
Cetana Kaiket adalah tataran pertama dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia masih kuat terikat oleh keinginan, hawa, pamrih, ketakutan, kemarahan, iri hati, kesombongan, dan kepentingan pribadi.
Mengapa disebut Cetana Kaiket?
Istilah kaiket menggambarkan keadaan ketika kesadaran manusia masih terikat oleh berbagai dorongan sehingga belum mampu melihat dan menjalani kehidupan secara bebas dan jernih.
Apakah Cetana Kaiket berarti seseorang adalah orang yang buruk?
Tidak. Cetana Kaiket merupakan gambaran suatu tataran kesadaran, bukan penilaian moral terhadap seseorang. Setiap manusia dapat mengalami berbagai bentuk keterikatan dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesadarannya.
Apa tanda utama Cetana Kaiket?
Beberapa tandanya adalah mudah dikuasai keinginan, sulit menerima penolakan, mudah marah ketika kehendak tidak terpenuhi, membutuhkan pujian, takut kehilangan sesuatu, iri terhadap orang lain, serta melakukan sesuatu karena pamrih.
Apa hubungan Cetana Kaiket dengan cipta, rasa, dan karsa?
Keterikatan dapat mempengaruhi ketiganya. Cipta dapat dipenuhi angan-angan dan pembenaran, rasa mudah berubah mengikuti keadaan, sedangkan karsa dapat terdorong untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Apakah memiliki keinginan berarti berada dalam Cetana Kaiket?
Tidak selalu. Keinginan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan terlalu menguasai kesadaran sehingga manusia kehilangan kemampuan untuk mempertimbangkan apa yang benar dan baik.
Bagaimana cara mulai keluar dari Cetana Kaiket?
Langkah awalnya adalah mawas diri: mengenali keinginan, pamrih, ketakutan, kemarahan, dan dorongan lain yang muncul dalam diri sebelum langsung mengikutinya.
Apa tataran setelah Cetana Kaiket?
Tataran berikutnya adalah Cetana Waspada, yaitu keadaan ketika manusia mulai mampu menyadari gerak cipta, rasa, karsa, dan tindakannya serta belajar tidak mudah terbawa oleh dorongan sesaat.
Apa ukuran bahwa kesadaran mulai berkembang?
Salah satunya adalah ketika manusia mulai mampu melihat kesalahan dirinya, mengendalikan reaksi, menerima kritik, tidak mudah dikuasai keinginan, dan mempertimbangkan akibat dari ucapan serta tindakannya.
Apa tujuan mempelajari Cetana Kaiket?
Tujuannya bukan untuk menghakimi diri sendiri atau orang lain, melainkan untuk mengenali keadaan kesadaran sebagai dasar pembudidayaan diri menuju tataran kesadaran yang lebih berkembang.
**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.