CETANA WENING

cetana wening
Tataran Ketiga dalam Nawa Tataraning Cetana

Cetana Wening merupakan tataran ketiga dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu keadaan ketika kesadaran manusia mulai menjadi lebih jernih.

Pada tataran sebelumnya, Cetana Kaiket menggambarkan kesadaran yang masih kuat terikat oleh keinginan, hawa, pamrih, ketakutan, kemarahan, iri hati, dan berbagai kepentingan pribadi.

Kemudian, pada Cetana Waspada, manusia mulai menyadari gerak dirinya sendiri. Ia mulai mampu melihat munculnya pikiran, perasaan, keinginan, dan dorongan sebelum langsung mengikutinya.

Pada Cetana Wening, kewaspadaan tersebut mulai menghasilkan kejernihan.

Manusia tidak hanya mampu menyadari apa yang terjadi dalam dirinya, tetapi mulai mampu melihat keadaan dengan lebih tenang dan tidak tergesa-gesa memberikan tanggapan.

Pikiran tidak lagi mudah dipenuhi prasangka.

Rasa tidak mudah dikuasai gejolak.

Karsa tidak selalu bergerak mengikuti dorongan sesaat.

Kesadaran mulai memiliki kejernihan untuk
membedakan antara apa yang benar-benar terjadi dengan apa yang hanya merupakan penafsiran dirinya sendiri.

Dari Waspada Menuju Wening.
Perkembangan kesadaran tidak berlangsung secara tiba-tiba.
Pada tataran Cetana Waspada, manusia mulai belajar melihat gerak dirinya.

Ia menyadari ketika marah.
Ia menyadari ketika iri.
Ia menyadari ketika muncul pamrih.
Ia menyadari ketika pikirannya mulai dipenuhi prasangka.

Namun, menyadari belum tentu berarti sudah mampu melihat dengan jernih.

Seseorang mungkin menyadari bahwa dirinya sedang marah, tetapi penilaiannya terhadap suatu persoalan masih dipengaruhi kemarahan tersebut.

Karena itu, tahap berikutnya adalah wening.

Wening berarti keadaan yang lebih jernih, sehingga manusia tidak mudah mencampurkan kenyataan dengan prasangka, keinginan, ketakutan, atau penafsiran pribadi.

Kesadaran mulai mampu melihat sesuatu sebelum memberikan reaksi.

Inilah perkembangan penting pada Cetana Wening.

Cipta Mulai Jernih.
Kejernihan pertama dapat dilihat dalam cipta.
Pikiran manusia sering kali tidak hanya berisi kenyataan, tetapi juga dugaan, ingatan, harapan, kekhawatiran, dan penafsiran.

Seseorang melihat orang lain tidak tersenyum kepadanya.

Kenyataannya mungkin hanya satu: orang tersebut tidak tersenyum.

Namun cipta dapat segera membuat berbagai penafsiran:
“Dia tidak menyukai saya.”
“Dia sedang meremehkan saya.”
“Dia sengaja mengabaikan saya.”

Jika penafsiran tersebut langsung dipercaya sebagai kenyataan, maka rasa akan ikut berubah dan karsa dapat terdorong untuk bereaksi.

Pada tataran Cetana Wening, manusia mulai mampu berhenti pada kenyataan terlebih dahulu.

Ia belajar bertanya:
“Apa yang benar-benar saya ketahui, dan apa yang hanya merupakan penafsiran saya?”

Kemampuan membedakan keduanya membuat cipta menjadi lebih jernih.

Rasa Tidak Mudah Dikuasai Gejolak.
Wening bukan berarti manusia tidak memiliki perasaan.

Manusia tetap dapat merasa senang, sedih, kecewa, marah, takut, terharu, atau tersentuh.

Perbedaannya terletak pada hubungan manusia dengan perasaannya.

Pada keadaan yang masih terikat, rasa mudah menguasai manusia.

Ketika marah, ia langsung bertindak.
Ketika tersinggung, ia langsung membalas.
Ketika dipuji, ia mudah menjadi tinggi hati.
Ketika dicela, ia mudah kehilangan ketenangan.

Pada tataran Cetana Wening, manusia mulai mampu merasakan tanpa langsung dikuasai oleh rasa tersebut.

Ia dapat merasakan kemarahan, tetapi tidak harus menjadi tindakan yang kasar.

Ia dapat merasakan kekecewaan, tetapi tidak harus berubah menjadi kebencian.

Ia dapat menerima pujian, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi.

Ia dapat menerima kritik, tetapi tidak langsung menganggap orang yang mengkritiknya sebagai musuh.

Rasa tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi penguasa.

Karsa Mulai Lebih Terarah.
Kejernihan kesadaran juga mempengaruhi karsa.

Karsa merupakan kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu.

Ketika cipta dipenuhi prasangka dan rasa dikuasai gejolak, karsa mudah bergerak secara spontan.

Namun, ketika kesadaran mulai wening, manusia mempunyai ruang untuk mempertimbangkan arah tindakannya.

Ia mulai bertanya:
“Apakah tindakan ini benar-benar perlu?”
“Apakah saya bertindak karena pertimbangan yang jernih atau karena emosi?”
“Apakah tindakan ini membawa kebaikan?”
“Apakah saya sedang memenuhi kepentingan pribadi?”

Pertanyaan tersebut membuat karsa tidak lagi sekadar mengikuti dorongan sesaat.

Karsa mulai diarahkan oleh pertimbangan yang lebih jernih.

Membedakan Kenyataan dan Penafsiran.
Salah satu tanda penting Cetana Wening adalah kemampuan membedakan kenyataan dan penafsiran.

Manusia sering kali tidak menderita hanya karena apa yang terjadi, tetapi juga karena makna yang diberikan kepada apa yang terjadi.

Kenyataan mungkin sederhana.

Seseorang tidak membalas pesan.

Namun cipta dapat menambahkan banyak kesimpulan.

“Dia sengaja mengabaikan saya.”
“Dia sudah tidak menghargai saya.”
“Dia pasti membicarakan saya.”

Padahal, mungkin terdapat banyak kemungkinan lain yang belum diketahui.

Kesadaran yang wening tidak terburu-buru menjadikan dugaan sebagai kebenaran.

Ia bersedia mengatakan:
“Saya belum tahu.”

Kalimat sederhana tersebut menunjukkan kejernihan.

Tidak mengetahui bukanlah kelemahan. Justru mengakui bahwa sesuatu belum diketahui dapat mencegah manusia membuat kesimpulan yang keliru.

Tidak Mudah Mabuk oleh Pujian.
Pujian dapat menjadi ujian bagi kejernihan.
Ketika dipuji, seseorang dapat merasa senang. Itu merupakan hal yang wajar.
Namun, apabila pujian membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain, kesadaran kembali terikat.

Pada Cetana Wening, manusia mulai mampu menerima pujian tanpa kehilangan keseimbangan.

Ia dapat menghargai pujian tanpa menjadikannya ukuran nilai dirinya.

Ia memahami bahwa keberhasilan tidak hanya berasal dari dirinya sendiri. Ada banyak keadaan, orang, kesempatan, dan pengalaman yang ikut membentuk keberhasilan tersebut.

Karena itu, pujian tidak mudah berubah menjadi kesombongan.

Tidak Mudah Hancur oleh Kritik.
Kritik juga menjadi ujian bagi kejernihan.
Manusia yang masih mudah terikat dapat menganggap kritik sebagai serangan terhadap dirinya.

Akibatnya, ia lebih sibuk membela diri daripada melihat apakah kritik tersebut benar.

Pada Cetana Wening, manusia mulai mampu mendengarkan kritik dengan tenang.

Jika kritik itu benar, ia dapat menerimanya sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

Jika kritik itu keliru, ia tidak harus membalas dengan kemarahan.

Ia dapat memeriksa terlebih dahulu.

Dengan demikian, kritik tidak otomatis menjadi ancaman.

Justru kritik dapat menjadi salah satu cara untuk melihat kekurangan yang sebelumnya tidak disadari.

Menerima Perubahan Tanpa Kehilangan Kejernihan.
Kehidupan selalu berubah. Keadaan ekonomi berubah. Hubungan berubah. Tubuh berubah.
Lingkungan berubah. Rencana dapat berubah.

Apa yang diharapkan dapat terjadi, tetapi dapat pula tidak terjadi.

Manusia yang masih terikat cenderung menuntut agar kenyataan mengikuti keinginannya.

Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, muncul kekecewaan dan perlawanan.

Pada Cetana Wening, manusia mulai belajar menerima kenyataan sebagaimana adanya.

Menerima bukan berarti menyerah.

Menerima berarti melihat keadaan dengan jernih terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan.

Jika sesuatu dapat diperbaiki, ia memperbaikinya.

Jika sesuatu perlu diterima, ia menerimanya.

Jika sesuatu membutuhkan perubahan, ia mengusahakannya.

Kejernihan membuat manusia tidak menghabiskan tenaga untuk melawan kenyataan yang memang sudah terjadi.

Wening Bukan Berarti Pasif.
Ada kesalahpahaman bahwa ketenangan berarti tidak melakukan apa-apa.

Padahal, Cetana Wening justru dapat membuat tindakan menjadi lebih tepat.

Manusia yang tergesa-gesa mungkin bertindak cepat, tetapi belum tentu bertindak benar.

Manusia yang wening dapat berhenti sejenak, memahami keadaan, kemudian bertindak dengan pertimbangan.

Karena itu, wening bukan kelemahan. Wening adalah kemampuan untuk tidak membiarkan gejolak menentukan tindakan.

Ia memberikan kesempatan kepada cipta untuk memahami, rasa untuk menimbang, dan karsa untuk menentukan tindakan yang lebih baik.

Pangilon Dhiri Cetana Wening.
Beberapa pertanyaan dapat digunakan sebagai pangilon dhiri:
• Apakah saya mampu membedakan kenyataan dengan penafsiran saya sendiri?
• Apakah saya mudah membuat kesimpulan tanpa mengetahui seluruh keadaan?
• Ketika marah, apakah saya masih mampu berpikir jernih?
• Ketika dipuji, apakah saya menjadi sombong?
• Ketika dikritik, apakah saya langsung membenci orang yang mengkritik?
• Apakah saya mampu menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan?
• Apakah karsa saya masih mudah mengikuti dorongan sesaat?
• Apakah saya mampu menunda reaksi sampai keadaan menjadi lebih jelas?
• Apakah saya dapat menerima bahwa saya mungkin keliru?
• Apakah ketenangan saya tetap ada ketika menghadapi perubahan?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menilai apakah seseorang sudah sempurna.

Tujuannya adalah mengetahui sejauh mana kejernihan kesadaran telah berkembang.

Wohing Cetana Wening.
Jika Cetana Wening berkembang, perubahan akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia menjadi lebih tenang dalam menghadapi persoalan.

Ia tidak mudah mengambil kesimpulan.
Ia tidak cepat menyalahkan orang lain.
Ia lebih mampu mendengarkan.
Ia lebih hati-hati dalam berbicara.
Ia tidak mudah terbawa pujian maupun celaan.
Ia mampu menerima kenyataan tanpa kehilangan kemampuan untuk bertindak.

Cipta menjadi lebih jernih.

Rasa menjadi lebih terkendali.

Karsa menjadi lebih terarah.

Dengan demikian, perkembangan kesadaran mulai terlihat bukan melalui pengalaman yang luar biasa, melainkan melalui perubahan nyata dalam cara manusia menjalani kehidupan.

Menuju Cetana Mantep.
Cetana Wening merupakan dasar menuju tataran berikutnya, yaitu Cetana Mantep.
Wening membuat manusia mampu melihat dengan lebih jernih.

Namun, kejernihan tersebut masih perlu menjadi keadaan yang semakin ajeg dalam kehidupan.

Manusia tidak hanya perlu mampu tenang dalam keadaan tertentu, tetapi perlu belajar mempertahankan kejernihan ketika menghadapi berbagai perubahan.

Karena itu, perkembangan dari Cetana Wening menuju Cetana Mantep merupakan perkembangan dari kejernihan menuju kemantapan.

Kesadaran yang mulai wening belajar menjadi semakin teguh.

Kesimpulan.
Cetana Wening merupakan tataran ketiga dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia mulai menjadi lebih jernih.

Setelah belajar mengenali gerak dirinya melalui Cetana Waspada, manusia mulai mampu melihat gerak tersebut tanpa langsung dikuasai olehnya.

Pikiran menjadi lebih jernih.

Rasa tidak mudah dikuasai gejolak.

Karsa tidak mudah mengikuti dorongan sesaat.

Manusia mulai mampu membedakan
kenyataan dengan penafsiran pribadi. Ia tidak mudah mabuk oleh pujian dan tidak langsung hancur atau membenci ketika menerima kritik.

Ia tetap memiliki perasaan, tetapi tidak mudah dikuasai oleh perasaan.

Ia tetap memiliki keinginan, tetapi tidak selalu mengikuti keinginan.

Ia tetap memiliki kehendak, tetapi mulai mempertimbangkan arah dan akibat tindakannya.

Dengan demikian, inti Cetana Wening bukanlah hilangnya pikiran atau perasaan, melainkan semakin jernihnya kesadaran dalam melihat, memahami, dan menanggapi kehidupan.

Kesadaran mulai mampu melihat sebelum bereaksi.

Dan ketika manusia mampu melihat dengan jernih, ia memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan apa yang sebaiknya dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan.

Dari kejernihan inilah perjalanan menuju Cetana Mantep dimulai.

FAQ - Cetana Wening.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Wening?
Cetana Wening adalah tataran ketiga dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia mulai menjadi lebih jernih dan tidak mudah dipengaruhi prasangka, gejolak rasa, maupun dorongan sesaat.

Apa perbedaan Cetana Waspada dan Cetana Wening?
Cetana Waspada menekankan kemampuan menyadari gerak diri, sedangkan Cetana Wening menunjukkan perkembangan ketika kesadaran mulai melihat gerak tersebut dengan lebih jernih dan tidak mudah dikuasainya.

Apakah Cetana Wening berarti manusia tidak lagi memiliki emosi?
Tidak. Manusia tetap memiliki berbagai perasaan. Bedanya, perasaan tersebut tidak mudah menguasai kesadaran dan menentukan tindakan secara spontan.

Mengapa membedakan kenyataan dan penafsiran penting?
Karena manusia sering menganggap penafsiran pribadi sebagai kenyataan. Kemampuan membedakan keduanya membantu mencegah prasangka dan kesimpulan yang terburu-buru.

Apakah menerima kenyataan berarti pasrah?
Tidak. Menerima kenyataan berarti melihat keadaan sebagaimana adanya terlebih dahulu. Setelah itu manusia tetap dapat mengambil tindakan untuk memperbaiki keadaan yang memang dapat diperbaiki.

Bagaimana hubungan Cetana Wening dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta menjadi lebih jernih dalam melihat persoalan, rasa tidak mudah dikuasai gejolak, dan karsa tidak mudah bergerak mengikuti dorongan sesaat.

Apa tanda Cetana Wening dalam kehidupan sehari-hari?
Di antaranya tidak mudah tersinggung, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, mampu menerima kritik, tidak mabuk oleh pujian, serta mampu menghadapi perubahan dengan lebih tenang.

Apakah orang yang masih marah berarti belum mencapai Cetana Wening?
Tidak otomatis demikian. Yang penting adalah bagaimana ia menyikapi kemarahan. Pada Cetana Wening, kemarahan masih mungkin muncul, tetapi kesadaran tidak mudah dikuasainya.

Apa latihan utama dalam Cetana Wening?
Latihan utamanya adalah membiasakan diri melihat persoalan dengan tenang, membedakan kenyataan dari penafsiran, memeriksa dorongan sebelum bertindak, serta tidak tergesa-gesa memberikan reaksi.

Apa tataran setelah Cetana Wening?
Tataran berikutnya adalah Cetana Mantep, yaitu perkembangan ketika kejernihan kesadaran mulai menjadi semakin mantap dan tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan.

**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.  

Komentar