CETANA KAWAWAS

cetana kawawas
Tataran Kelima dalam Nawa Tataraning Cetana.

Cetana Kawawas merupakan tataran kelima dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu tataran ketika kesadaran manusia semakin mampu melihat dan memahami kenyataan secara lebih luas dan mendalam.

Pada tataran sebelumnya, Cetana Kaiket menggambarkan kesadaran yang masih kuat terikat oleh keinginan dan kepentingan pribadi.

Kemudian pada Cetana Waspada, manusia mulai menyadari gerak dirinya sendiri.

Pada Cetana Wening, kesadaran mulai menjadi lebih jernih sehingga tidak mudah dikuasai prasangka dan gejolak rasa.

Selanjutnya, pada Cetana Mantep, kejernihan tersebut mulai menjadi dasar yang lebih kokoh dalam menjalani kehidupan.

Pada Cetana Kawawas, perkembangan kesadaran bergerak lebih jauh.

Manusia tidak hanya belajar mengendalikan dirinya, tetapi mulai memperluas cara melihat dan memahami kehidupan.

Ia mulai menyadari bahwa apa yang selama ini diyakininya belum tentu sepenuhnya benar.

Apa yang dianggap sebagai kenyataan mungkin hanya merupakan penafsiran.

Apa yang dianggap sebagai kebenaran mungkin hanya merupakan pendapat pribadi.

Apa yang dianggap sebagai kebutuhan mungkin sebenarnya hanya keinginan.

Kesadaran mulai mampu melihat perbedaan-perbedaan tersebut dengan lebih jernih.

Kawawas Bukan Sekadar Banyak Pengetahuan.
Kawawas tidak berarti seseorang harus
memiliki banyak pengetahuan. Orang dapat membaca banyak buku, menghafal banyak ajaran, mengetahui banyak istilah, dan mampu berbicara tentang berbagai hal, tetapi belum tentu memiliki kawawas.

Pengetahuan yang hanya dikumpulkan belum tentu menghasilkan pemahaman.

Kawawas berkaitan dengan kemampuan melihat, memeriksa, memahami, dan menempatkan pengetahuan secara tepat dalam kehidupan.

Karena itu, manusia yang kawawas tidak hanya bertanya:
“Apa yang saya ketahui?”

Ia juga bertanya:
“Apakah yang saya ketahui itu benar?”
“Dari mana saya mengetahuinya?”
“Apakah pemahaman saya sesuai dengan kenyataan?”
“Apakah saya sedang melihat kenyataan, atau hanya melihat apa yang ingin saya lihat?”

Pertanyaan semacam itu membuat manusia tidak mudah terjebak dalam keyakinannya sendiri.

Berani Mempertanyakan Pandangan Sendiri.
Salah satu ciri penting tataran Cetana Kawawas adalah kesediaan untuk memeriksa pandangan sendiri.

Manusia pada umumnya lebih mudah menemukan kesalahan orang lain daripada kesalahan dirinya sendiri.

Ketika orang lain memiliki pendapat berbeda, ia mudah mengatakan bahwa orang lain keliru.

Namun, ketika pendapatnya sendiri dipertanyakan, ia dapat merasa tersinggung.

Pada tataran Cetana Kawawas, keadaan tersebut mulai berubah.

Manusia tidak menganggap pertanyaan terhadap pandangannya sebagai ancaman.

Ia justru menggunakannya sebagai kesempatan untuk memeriksa kembali pemahamannya.

Ia dapat berkata:
“Mungkin saya belum melihat semuanya.”
“Mungkin pemahaman saya masih kurang.”
“Mungkin ada bagian yang belum saya pahami.”

Kesediaan mengakui kemungkinan keliru merupakan tanda penting berkembangnya kesadaran.

Kebenaran Tidak Sama dengan Pendapat.
Cetana Kawawas membantu manusia membedakan antara kebenaran dan pendapat. Pendapat adalah apa yang diyakini atau dipahami seseorang.

Kebenaran tidak menjadi benar hanya karena seseorang meyakininya.

Seseorang dapat sangat yakin terhadap suatu pandangan, tetapi keyakinan yang kuat tidak otomatis menjadikannya benar.

Karena itu, manusia perlu belajar memeriksa dasar dari keyakinannya.

Apakah berdasarkan kenyataan?
Apakah berdasarkan pengalaman yang cukup?
Apakah berdasarkan pertimbangan yang jernih?
Ataukah hanya berdasarkan kebiasaan, prasangka, kepentingan, atau pengaruh orang lain?

Semakin mampu melakukan pemeriksaan tersebut, semakin luas pula pandangan manusia terhadap kehidupan.

Kenyataan Tidak Sama dengan Angan-Angan.
Manusia juga sering mencampurkan kenyataan dengan apa yang diharapkannya.

Ketika sangat menginginkan sesuatu, ia dapat melihat tanda-tanda kecil sebagai bukti bahwa keinginannya akan terwujud.

Ketika takut terhadap sesuatu, ia dapat menganggap kemungkinan sebagai kepastian.

Ketika tidak menyukai seseorang, ia lebih mudah melihat kesalahan orang tersebut daripada kebaikannya.

Semua itu menunjukkan bahwa cipta dapat membentuk gambaran yang belum tentu sama dengan kenyataan.

Pada Cetana Kawawas, manusia mulai belajar memisahkan:
apa yang terjadi,
apa yang dipikirkan tentang sesuatu yang terjadi,
dan apa yang diharapkan atau ditakutkan akan terjadi.

Pemisahan tersebut membuat pandangan menjadi lebih objektif.

Kebutuhan Tidak Sama dengan Keinginan.
Kawawas juga membantu manusia memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.

Manusia memiliki kebutuhan yang memang diperlukan untuk menjalani kehidupan.

Namun, keinginan dapat berkembang tanpa batas.

Ketika keinginan dianggap sebagai kebutuhan, manusia dapat merasa bahwa sesuatu harus dimiliki agar hidupnya bahagia.

Dari sinilah keterikatan dapat muncul kembali.

Manusia yang semakin kawawas mulai bertanya:
“Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya menginginkannya?”

Pertanyaan tersebut bukan berarti manusia tidak boleh memiliki keinginan.

Keinginan merupakan bagian dari kehidupan.

Yang penting adalah kemampuan membedakan keduanya sehingga manusia tidak menjadi budak dari keinginannya sendiri.

Ketegasan Tidak Sama dengan Kekerasan.
Pemahaman yang semakin luas juga membuat manusia mampu membedakan ketegasan dan kekerasan.

Ketegasan berarti mampu berdiri pada prinsip yang diyakini benar tanpa harus merendahkan orang lain.

Kekerasan muncul ketika seseorang memaksakan kehendak dengan mengabaikan martabat dan hak orang lain.

Keduanya dapat terlihat serupa dari luar karena sama-sama menunjukkan sikap kuat.
Namun, dasarnya berbeda.

Orang yang tegas masih dapat menghormati perbedaan.

Orang yang keras cenderung ingin menang.
Karena itu, Cetana Kawawas membuat manusia tidak hanya bertanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga bertanya bagaimana melakukannya dengan tepat.
Keberanian Tidak Sama dengan Kecerobohan.
Hal yang sama berlaku pada keberanian.

Keberanian sering dianggap sebagai kesediaan menghadapi risiko.

Namun, keberanian tanpa pertimbangan dapat berubah menjadi kecerobohan.

Manusia yang kawawas mulai mampu membedakan keduanya.

Berani berarti memahami risiko dan tetap bertindak karena tindakan tersebut memang perlu.

Ceroboh berarti bertindak tanpa cukup memahami akibatnya.

Dengan pemahaman yang lebih luas, manusia tidak mudah menganggap tindakan nekat sebagai keberanian.

Ia belajar mempertimbangkan akibat bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Kawruh Harus Diuji melalui Laku.
Dalam Cetana Kawawas, kawruh tidak berhenti sebagai pengetahuan.

Pengetahuan perlu diuji melalui kehidupan.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kesabaran merupakan sesuatu yang baik.

Namun, apakah ia mampu bersabar ketika menghadapi keadaan yang benar-benar menguji dirinya?

Seseorang dapat mengetahui bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang baik.

Namun, apakah ia tetap jujur ketika kebohongan memberikan keuntungan?

Seseorang dapat mengetahui pentingnya menghormati orang lain.

Namun, apakah ia tetap mampu menghormati orang yang berbeda pandangan dengannya?

Di sinilah laku menjadi penguji pemahaman.
Kawruh yang benar seharusnya semakin jelas ketika diterapkan dalam kehidupan.

Jika suatu pemahaman membuat manusia semakin jernih, rendah hati, bertanggung jawab, dan mampu melihat kenyataan dengan lebih baik, pemahaman tersebut memiliki nilai dalam kehidupan.

Semakin Paham, Semakin Rendah Hati.
Salah satu buah penting Cetana Kawawas adalah kerendahan hati.

Semakin luas pemahaman seseorang, semakin ia menyadari betapa luasnya kehidupan yang belum dipahaminya.

Orang yang hanya mengetahui sedikit dapat merasa sudah mengetahui semuanya.

Sebaliknya, orang yang benar-benar belajar memahami kehidupan akan menyadari adanya banyak hal yang belum diketahuinya.

Karena itu, kawawas tidak menghasilkan kesombongan intelektual.

Justru semakin memahami, manusia semakin berhati-hati dalam menyatakan bahwa dirinya benar.

Ia tetap memiliki pendirian, tetapi tidak memutlakkan pendiriannya.

Ia tetap dapat berbeda pendapat, tetapi tidak harus merendahkan orang yang berbeda.

Ia tetap dapat mengatakan sesuatu itu keliru, tetapi terlebih dahulu memastikan bahwa penilaiannya memang memiliki dasar.

Kawawas Memperluas Pandangan.
Pada tataran sebelumnya, kesadaran mulai mampu mengendalikan pengaruh keadaan terhadap dirinya.

Pada Cetana Kawawas, pandangan manusia mulai bergerak keluar dari kepentingan pribadi.

Ia mulai melihat bahwa setiap tindakan memiliki akibat.

Apa yang dilakukan terhadap orang lain dapat memengaruhi kehidupan orang tersebut.

Apa yang dilakukan terhadap lingkungan dapat memengaruhi kehidupan bersama.

Karena itu, pertimbangan tidak lagi berhenti pada pertanyaan:
“Apa yang menguntungkan saya?”

Pertanyaan mulai berkembang menjadi:
“Apa akibatnya bagi kehidupan?”

Kesadaran menjadi lebih luas karena manusia mulai melihat hubungan antara dirinya, orang lain, lingkungan, dan kehidupan secara keseluruhan.

Pangilon Dhiri Cetana Kawawas.
Beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan untuk mawas diri:
• Apakah saya mampu mempertanyakan pandangan saya sendiri?
• Apakah saya menganggap pendapat pribadi sebagai kebenaran mutlak?
• Apakah saya bersedia mengakui kemungkinan bahwa saya keliru?
• Apakah saya mampu membedakan kenyataan dengan penafsiran?
• Apakah saya mampu membedakan kebutuhan dan keinginan?
• Apakah saya dapat membedakan ketegasan dan kekerasan?
• Apakah saya dapat membedakan keberanian dan kecerobohan?
• Apakah kawruh yang saya miliki sudah saya buktikan melalui laku?
• Apakah semakin banyak yang saya ketahui membuat saya semakin rendah hati?
• Apakah saya mulai mempertimbangkan akibat tindakan saya terhadap orang lain?

Pertanyaan tersebut membantu manusia memeriksa apakah pemahamannya benar-benar berkembang atau hanya pengetahuannya yang bertambah.

Wohing Cetana Kawawas.
Kesadaran yang berkembang dalam Cetana Kawawas menghasilkan perubahan nyata.
Manusia menjadi lebih berhati-hati dalam menilai.

Ia tidak mudah percaya begitu saja.
Namun, ia juga tidak menjadi orang yang selalu curiga.

Ia belajar memeriksa.

Ia tidak mudah menganggap pendapatnya sebagai kebenaran mutlak.

Ia bersedia mendengarkan pandangan lain.

Ia tidak harus selalu menyetujui orang lain, tetapi mampu memahami alasan di balik perbedaan.

Ia mulai mampu melihat persoalan dari berbagai sisi.

Dalam mengambil keputusan, ia tidak hanya mempertimbangkan kepentingan dirinya sendiri.

Ia mulai memperhitungkan akibat yang lebih luas.

Dengan demikian, kesadaran menjadi semakin matang.

Menuju Cetana Pangrasa.
Cetana Kawawas menjadi dasar menuju tataran berikutnya, yaitu Cetana Pangrasa. Pada Cetana Kawawas, kesadaran berkembang melalui kemampuan melihat dan memahami secara lebih luas.

Namun, memahami kehidupan belum cukup jika pemahaman tersebut hanya berhenti dalam cipta.

Pemahaman perlu berkembang menjadi kemampuan merasakan kehidupan secara lebih halus dan manusiawi.

Karena itu, perkembangan berikutnya bergerak dari kawawas menuju pangrasa.

Manusia tidak hanya belajar memahami apa yang benar, tetapi mulai menghayati akibatnya dalam hubungan dengan sesama dan kehidupan.

Dengan demikian, perjalanan Nawa Tataraning Cetana tetap menunjukkan perkembangan yang bertahap:

Kaiket — masih terikat.
Waspada — mulai menyadari.
Wening — mulai jernih.
Mantep — semakin kokoh.
Kawawas — semakin memahami.

Setiap tataran bukan sekadar keadaan yang berbeda, tetapi menunjukkan perkembangan kemampuan manusia dalam menjalani kehidupan.

Kesimpulan.
Cetana Kawawas merupakan tataran kelima dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia semakin mampu melihat dan memahami kenyataan secara luas dan mendalam.

Kawawas bukan sekadar banyak mengetahui.

Kawawas adalah kemampuan untuk memeriksa pengetahuan, mempertanyakan pandangan sendiri, membedakan kenyataan dari penafsiran, serta menguji pemahaman melalui laku.

Manusia mulai mampu membedakan antara kebenaran dan pendapat, kenyataan dan angan-angan, kebutuhan dan keinginan, ketegasan dan kekerasan, serta keberanian dan kecerobohan.

Semakin luas pemahamannya, semakin ia menyadari bahwa dirinya juga masih dapat keliru.

Karena itu, kawawas tidak menjadikan manusia merasa paling benar.

Sebaliknya, kawawas menumbuhkan kerendahan hati.

Manusia tetap memiliki pendirian, tetapi tidak memutlakkan pendiriannya.

Ia tetap memiliki pengetahuan, tetapi tidak berhenti pada pengetahuan.

Ia tetap mampu menilai, tetapi tidak tergesa-gesa menghakimi.

Ia mulai melihat kehidupan tidak hanya dari sudut kepentingan dirinya sendiri, melainkan dari akibat yang lebih luas bagi sesama dan kehidupan.

Inilah inti Cetana Kawawas: kesadaran yang semakin luas karena manusia semakin mampu melihat, memeriksa, dan memahami kenyataan sebelum menentukan sikap dan tindakan.

Dari pemahaman yang semakin luas tersebut, kesadaran kemudian dapat berkembang menuju Cetana Pangrasa, ketika pemahaman tidak hanya semakin dalam, tetapi juga semakin halus dalam merasakan kehidupan dan keberadaan sesama.

FAQ - Cetana Kawawas.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Kawawas?
Cetana Kawawas adalah tataran kelima dalam Nawa Tataraning Cetana ketika kesadaran manusia semakin mampu melihat dan memahami kenyataan secara lebih luas dan mendalam.

Apakah Kawawas berarti memiliki banyak pengetahuan?
Tidak. Banyak pengetahuan belum tentu berarti kawawas. Kawawas lebih berkaitan dengan kemampuan memeriksa, memahami, dan menguji pengetahuan melalui pengalaman serta laku.

Apa perbedaan Cetana Mantep dan Cetana Kawawas?
Cetana Mantep menekankan keteguhan kesadaran dalam menjalani kehidupan, sedangkan Cetana Kawawas menekankan keluasan dan kedalaman dalam memahami kenyataan.

Mengapa orang yang kawawas semakin rendah hati?
Karena semakin luas pemahaman seseorang, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui dan bahwa pemahamannya sendiri tetap mungkin keliru.

Mengapa pendapat tidak boleh langsung dianggap sebagai kebenaran?
Karena pendapat merupakan hasil pemahaman seseorang, sedangkan kebenaran tidak menjadi benar hanya karena seseorang meyakininya. Pendapat perlu diperiksa berdasarkan kenyataan.

Apa hubungan Kawawas dengan laku?
Kawruh dalam Cetana Kawawas tidak hanya dikumpulkan sebagai pengetahuan. Pemahaman perlu diuji melalui pengalaman dan laku agar dapat diketahui apakah benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan.

Apa contoh sikap Kawawas dalam kehidupan sehari-hari?
Tidak tergesa-gesa menghakimi, mau memeriksa kembali pendapat sendiri, mampu menerima kemungkinan keliru, membedakan fakta dengan dugaan, dan mempertimbangkan akibat tindakan terhadap orang lain.

Apakah orang yang Kawawas tidak boleh memiliki pendirian?
Tetap boleh. Kawawas bukan berarti tidak memiliki pendirian. Manusia tetap dapat memiliki keyakinan, tetapi tidak memutlakkan pandangannya dan tetap terbuka terhadap kenyataan.

Apa hubungan Cetana Kawawas dengan cipta, rasa, dan karsa?
Kawawas terutama tampak dalam kemampuan cipta memahami kenyataan secara lebih jernih dan luas. Pemahaman tersebut kemudian menjadi dasar bagi rasa dan karsa untuk menentukan sikap serta tindakan yang lebih tepat.

Apa tataran setelah Cetana Kawawas?
Tataran berikutnya adalah Cetana Pangrasa, ketika kesadaran berkembang dari kemampuan memahami secara luas menuju kemampuan merasakan kehidupan dengan lebih halus, jernih, dan manusiawi.

**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.  

Komentar