Tataran Keempat dalam Nawa Tataraning Cetana
Cetana Mantep merupakan tataran keempat dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu keadaan ketika kesadaran manusia telah semakin kokoh dalam menjalani kehidupan.
Jika pada Cetana Kaiket manusia masih kuat terikat oleh keinginan, hawa, pamrih, dan kepentingan pribadi, pada Cetana Waspada ia mulai mampu mengenali gerak dirinya sendiri, dan pada Cetana Wening ia mulai memperoleh kejernihan dalam melihat kehidupan, maka pada Cetana Mantep kejernihan tersebut mulai menjadi dasar yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan.
Kesadaran tidak lagi mudah berubah hanya karena keadaan di luar dirinya berubah.
Manusia tetap mengalami kesenangan dan kesedihan.
Tetap mengalami keberhasilan dan kegagalan.
Tetap dapat merasakan kehilangan, kekecewaan, dan penderitaan.
Namun, berbagai keadaan tersebut tidak lagi mudah mengguncangkan dasar kesadarannya.
Ia mulai memiliki keteguhan dalam menjalani kehidupan.
Inilah makna utama mantep dalam tataran ini.
Dari Wening Menuju Mantep.
Kejernihan dan kemantapan merupakan dua perkembangan yang saling berhubungan.
Pada tataran Cetana Wening, manusia mulai mampu melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Ia tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, mampu membedakan kenyataan dari penafsiran, serta tidak mudah dikuasai oleh gejolak rasa.
Namun, kejernihan tersebut perlu terus dilatih agar tidak hanya muncul pada keadaan tertentu.
Seseorang mungkin dapat bersikap tenang ketika kehidupannya berjalan baik.
Tetapi apakah ia tetap mampu berpikir jernih ketika mengalami kehilangan?
Apakah ia tetap mampu menjaga ucapan ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan?
Apakah ia tetap mampu melakukan kebaikan ketika tidak mendapatkan penghargaan?
Di sinilah kemantapan mulai terlihat.
Tataran Cetana Mantep adalah ketika kejernihan yang telah tumbuh tidak mudah hilang ketika manusia menghadapi perubahan dan tekanan kehidupan.
Tidak Mudah Terguncang oleh Keadaan.
Kemantapan bukan berarti kehidupan menjadi tanpa masalah. Justru kehidupan tetap penuh perubahan.
Ada hari ketika segala sesuatu berjalan sesuai harapan.
Ada pula hari ketika banyak hal tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan.
Manusia yang kesadarannya belum mantap dapat dengan mudah berubah mengikuti keadaan.
Ketika mendapatkan keuntungan, ia sangat gembira.
Ketika mengalami kerugian, ia kehilangan arah.
Ketika dipuji, ia merasa dirinya tinggi.
Ketika dicela, ia merasa dirinya rendah.
Ketika berhasil, ia merasa lebih baik daripada orang lain.
Ketika gagal, ia merasa dirinya tidak berharga.
Pada tataran Cetana Mantep, perubahan keadaan tidak lagi mudah menentukan nilai dirinya.
Ia dapat menerima keberhasilan tanpa menjadi sombong.
Ia dapat menerima kegagalan tanpa kehilangan harga diri.
Ia dapat menerima pujian tanpa menjadikannya sumber keunggulan.
Ia dapat menerima kritik tanpa langsung merasa direndahkan.
Dengan demikian, kesadaran mulai memiliki pijakan yang lebih kuat.
Tetap Merasakan Kesedihan dan Kehilangan.
Kemantapan tidak boleh dipahami sebagai keadaan ketika manusia tidak lagi merasakan kesedihan.
Manusia tetap memiliki rasa.
Ketika kehilangan orang yang dicintai, ia dapat bersedih.
Ketika mengalami kegagalan, ia dapat kecewa.
Ketika menghadapi penderitaan, ia dapat merasa berat.
Perasaan tersebut tidak menunjukkan bahwa kesadarannya lemah.
Yang membedakan adalah bagaimana ia menjalani perasaan tersebut.
Manusia yang semakin mantap tidak harus menyangkal kesedihannya.
Ia dapat mengakui:
“Saya sedang sedih.”
Namun, ia tidak membiarkan kesedihan tersebut menghancurkan seluruh kehidupannya.
Ia memberi ruang bagi rasa untuk hadir, kemudian secara perlahan kembali menata dirinya.
Dengan demikian, kemantapan bukan berarti tidak pernah jatuh. Kemantapan berarti mampu bangkit kembali tanpa kehilangan arah.
Menerima Kebahagiaan Tanpa Kesombongan.
Kebahagiaan juga dapat menjadi ujian kesadaran. Ketika berhasil memperoleh sesuatu yang diinginkan, manusia mudah merasa dirinya hebat.
Keberhasilan dapat membuat seseorang memandang rendah orang lain.
Padahal, keberhasilan merupakan bagian dari perjalanan hidup yang selalu dipengaruhi banyak keadaan.
Pada tataran Cetana Mantep, manusia mampu menikmati keberhasilan tanpa menjadikannya alasan untuk meninggikan diri.
Ia bersyukur atas apa yang diperoleh.
Ia menghargai orang-orang yang ikut membantu.
Ia tetap menghormati orang yang berada dalam keadaan berbeda.
Keberhasilan tidak membuatnya kehilangan kesederhanaan.
Dengan demikian, kemantapan tidak hanya diuji oleh penderitaan. Ia juga diuji oleh keberhasilan.
Menghadapi Kegagalan Tanpa Kehilangan Harapan.
Kegagalan sering menjadi ujian yang lebih berat. Ketika sesuatu yang diharapkan tidak tercapai, manusia dapat mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri.
“Saya tidak mampu.”
“Saya gagal.”
“Saya tidak berguna.”
Pikiran semacam itu dapat berkembang menjadi penilaian terhadap seluruh dirinya hanya berdasarkan satu pengalaman.
Pada tataran Cetana Mantep, manusia mulai mampu membedakan antara mengalami kegagalan dan menjadi manusia yang gagal.
Kegagalan merupakan suatu peristiwa.
Ia dapat menjadi pengalaman.
Ia dapat menjadi pelajaran.
Ia dapat menunjukkan kekurangan yang perlu diperbaiki.
Tetapi kegagalan tidak harus menjadi alasan untuk kehilangan harapan.
Manusia yang mantap dapat berkata:
“Saya gagal dalam hal ini, tetapi saya masih dapat belajar dan memperbaikinya.”
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kesadaran tidak mudah runtuh karena hasil yang tidak sesuai harapan.
Kemantapan dalam Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cetana Mantep dapat dilihat melalui perkembangan cipta, rasa, dan karsa.
Dalam cipta, manusia mulai memiliki keteguhan dalam mempertimbangkan sesuatu. Ia tidak mudah berubah hanya karena pendapat orang lain atau tekanan keadaan.
Dalam rasa, ia tetap mampu merasakan berbagai pengalaman tanpa membiarkan gejolak tersebut menguasai seluruh dirinya.
Dalam karsa, ia semakin teguh menjalankan apa yang telah dipahami sebagai baik dan benar, meskipun tidak selalu mudah.
Kemantapan tersebut membuat ketiganya semakin selaras.
Cipta memberikan pertimbangan.
Rasa memberikan kepekaan.
Karsa memberikan keteguhan untuk mewujudkan apa yang telah dipertimbangkan.
Karena itu, kemantapan bukan hanya keadaan dalam diri.
Ia terlihat melalui konsistensi dalam tindakan.
Teguh dalam Laku.
Salah satu ciri penting Cetana Mantep adalah keteguhan dalam laku. Manusia tidak hanya berbuat baik ketika suasana mendukung.
Ia berusaha tetap berbuat baik ketika menghadapi kesulitan.
Ia tidak hanya jujur ketika kejujuran menguntungkan dirinya.
Ia berusaha tetap jujur ketika kejujuran membuat keadaan menjadi lebih berat.
Ia tidak hanya menghormati orang lain ketika dihormati.
Ia berusaha tetap menghormati meskipun menghadapi perbedaan.
Inilah yang membuat laku menjadi semakin ajeg.
Pemahaman tidak berhenti sebagai pengetahuan. Pemahaman mulai menjadi kebiasaan. Kebiasaan berkembang menjadi sikap.
Sikap kemudian menjadi bagian dari watak dalam menjalani kehidupan.
Tidak Mudah Terbawa Penilaian Orang Lain.
Kemantapan juga terlihat dalam hubungan manusia dengan penilaian orang lain. Manusia tentu tetap dapat menerima penghargaan dan kritik.
Namun, penilaian orang lain tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran nilai dirinya.
Jika dipuji, ia tidak merasa harus terus-menerus mempertahankan citra dirinya.
Jika dikritik, ia tidak langsung merasa dirinya buruk.
Ia memeriksa kritik tersebut.
Jika benar, ia memperbaiki diri.
Jika tidak benar, ia tidak perlu membalas dengan kebencian.
Dengan demikian, manusia semakin mampu berdiri berdasarkan pemahaman yang telah diperiksa, bukan semata-mata berdasarkan penilaian orang lain.
Mantep Bukan Keras Kepala.
Kemantapan juga perlu dibedakan dari kekakuan. Orang yang keras kepala dapat mempertahankan pendapatnya meskipun ternyata keliru.
Itu bukan kemantapan kesadaran.
Cetana Mantep justru tetap terbuka terhadap kenyataan.
Jika menemukan kekeliruan, manusia bersedia memperbaikinya.
Jika memperoleh pengetahuan baru yang lebih benar, ia bersedia mengubah pemahamannya.
Kemantapan bukan berarti tidak pernah berubah.
Kemantapan berarti tidak mudah berubah hanya karena tekanan, tetapi tetap bersedia berubah ketika kenyataan menunjukkan bahwa perubahan memang diperlukan.
Dengan demikian, keteguhan berjalan bersama kejernihan.
Pangilon Dhiri Cetana Mantep.
Beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai pangilon dhiri:
• Apakah saya tetap tenang ketika menghadapi perubahan?
• Apakah keberhasilan membuat saya merasa lebih tinggi daripada orang lain?
• Apakah kegagalan membuat saya kehilangan harapan?
• Apakah kritik mudah mengguncangkan keyakinan saya terhadap diri sendiri?
• Apakah saya mampu menerima kesedihan tanpa membiarkannya menghancurkan kehidupan?
• Apakah saya tetap berusaha melakukan kebaikan ketika tidak mendapatkan penghargaan?
• Apakah saya mudah mengubah pendirian hanya karena tekanan orang lain?
• Apakah saya bersedia mengubah pendapat jika menemukan bahwa saya keliru?
• Apakah cipta, rasa, dan karsa saya semakin selaras?
• Apakah laku baik sudah menjadi kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika keadaan mendukung?
Pertanyaan tersebut membantu manusia melihat apakah kejernihan yang telah tumbuh mulai menjadi keteguhan.
Wohing Cetana Mantep.
Kemantapan kesadaran akan terlihat melalui buah kehidupan.
Manusia menjadi lebih teguh.
Ia tidak mudah terombang-ambing oleh pujian dan celaan.
Ia tidak mudah kehilangan arah ketika mengalami kegagalan.
Ia tidak mudah menjadi sombong ketika berhasil.
Ia mampu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.
Ia mampu menerima perubahan tanpa kehilangan kejernihan.
Dalam hubungan dengan orang lain, ia semakin dapat dipercaya karena sikapnya tidak mudah berubah hanya mengikuti kepentingan sesaat.
Dalam menjalani laku, ia semakin konsisten.
Kebaikan tidak hanya dilakukan ketika mudah.
Kejujuran tidak hanya dijaga ketika menguntungkan.
Kesabaran tidak hanya muncul ketika keadaan menyenangkan.
Di sinilah kemantapan mulai menghasilkan kekuatan moral dalam kehidupan sehari-hari.
Menuju Cetana Kawawas.
Cetana Mantep menjadi dasar menuju tataran berikutnya, yaitu Cetana Kawawas.
Pada Cetana Mantep, kesadaran semakin kokoh dan laku semakin ajeg.
Namun, perkembangan kesadaran tidak berhenti pada keteguhan.
Manusia kemudian perlu memperdalam pemahamannya terhadap kehidupan dan kasunyatan.
Kemantapan memberikan dasar agar manusia tidak mudah berubah oleh tekanan.
Dari dasar tersebut, ia dapat mengembangkan kemampuan memahami dengan lebih luas dan lebih dalam.
Karena itu, perjalanan Cetana Wening → Cetana Mantep → Cetana Kawawas menunjukkan perkembangan dari kejernihan, menuju keteguhan, kemudian menuju pemahaman yang semakin matang.
Kesimpulan.
Cetana Mantep merupakan tataran keempat dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia telah semakin kokoh dan kejernihan mulai menjadi dasar yang kuat dalam menjalani kehidupan.
Manusia tetap mengalami kebahagiaan, kesedihan, kehilangan, penderitaan, keberhasilan, dan kegagalan. Namun, semua itu tidak lagi mudah mengguncangkan dasar kesadarannya.
Ia mampu menerima kebahagiaan tanpa menjadi sombong.
Ia mampu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.
Ia mampu menerima keberhasilan tanpa merasa lebih tinggi.
Ia mampu menerima kegagalan tanpa menganggap dirinya tidak berharga.
Kemantapan juga tidak berarti keras kepala.
Manusia tetap terbuka terhadap kenyataan dan bersedia memperbaiki dirinya ketika menemukan kekeliruan.
Dengan demikian, inti Cetana Mantep adalah keteguhan kesadaran dalam mempertahankan kejernihan dan kebaikan di tengah perubahan kehidupan.
Kesadaran tidak lagi mudah mengikuti keadaan.
Cipta semakin teguh.
Rasa semakin seimbang.
Karsa semakin ajeg.
Laku semakin konsisten.
Inilah kemantapan yang menjadi dasar bagi perkembangan kesadaran menuju tataran berikutnya.
Dari kesadaran yang telah mantap, manusia kemudian dapat melangkah menuju Cetana Kawawas, yaitu tataran ketika kesadaran mulai berkembang dalam pemahaman yang semakin luas dan mendalam terhadap kehidupan dan kasunyatan.
FAQ - Cetana Mantep.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Mantep?
Cetana Mantep adalah tataran keempat dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia semakin kokoh dan tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan.
Apa perbedaan Cetana Wening dan Cetana Mantep?
Cetana Wening menekankan kejernihan dalam melihat, sedangkan Cetana Mantep menekankan keteguhan dalam mempertahankan kejernihan tersebut ketika menghadapi berbagai keadaan kehidupan.
Apakah orang yang sudah Mantep tidak pernah sedih?
Tidak. Kesedihan tetap dapat muncul. Kemantapan berarti kesadaran tidak mudah runtuh karena kesedihan dan mampu menjalani serta mengolah pengalaman tersebut dengan lebih baik.
Apakah Cetana Mantep berarti tidak boleh berubah pendapat?
Tidak. Kemantapan bukan keras kepala. Manusia tetap perlu terbuka terhadap kenyataan dan bersedia mengubah pendapat apabila menemukan bahwa dirinya keliru.
Bagaimana hubungan Cetana Mantep dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta menjadi lebih teguh dalam mempertimbangkan, rasa semakin seimbang dalam menghadapi keadaan, dan karsa semakin ajeg dalam menjalankan hal-hal yang dipahami sebagai baik dan benar.
Apa tanda Cetana Mantep dalam kehidupan sehari-hari?
Tandanya antara lain tidak mudah terombang-ambing oleh pujian dan celaan, tidak kehilangan harapan ketika gagal, tidak menjadi sombong ketika berhasil, serta tetap berusaha menjalankan kebaikan dalam keadaan sulit.
Apakah kemantapan hanya berkaitan dengan ketenangan?
Tidak. Kemantapan bukan sekadar tenang. Ia juga berkaitan dengan keteguhan, konsistensi, kemampuan menghadapi perubahan, dan kesanggupan mempertahankan laku yang baik.
Mengapa keberhasilan juga menjadi ujian kesadaran?
Karena keberhasilan dapat menimbulkan kesombongan dan rasa lebih tinggi daripada orang lain. Kesadaran yang mantap mampu menerima keberhasilan tanpa kehilangan kerendahan hati.
Mengapa kegagalan menjadi ujian penting?
Karena kegagalan dapat membuat manusia kehilangan harapan atau menganggap dirinya tidak berharga. Cetana Mantep membantu manusia melihat kegagalan sebagai pengalaman dan bahan untuk memperbaiki diri.
Apa tataran setelah Cetana Mantep?
Tataran berikutnya adalah Cetana Kawawas, ketika kesadaran berkembang menuju pemahaman yang semakin luas dan mendalam terhadap kehidupan dan kasunyatan.
**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.