Tataran Kedua dalam Nawa Tataraning Cetana
Cetana Waspada merupakan tataran kedua dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu tataran ketika manusia mulai menyadari gerak dirinya sendiri.
Pada tataran ini, manusia mulai mampu memperhatikan apa yang muncul dalam cipta, rasa, dan karsa. Ia mulai menyadari bahwa setiap pikiran, perasaan, keinginan, ucapan, dan tindakan memiliki dorongan yang melatarbelakanginya.
Jika pada Cetana Kaiket kesadaran masih mudah terbawa oleh keinginan, hawa, pamrih, ketakutan, kemarahan, dan kepentingan pribadi, maka pada Cetana Waspada manusia mulai mampu melihat keterikatan tersebut ketika muncul dalam dirinya.
Ketika marah, ia mulai menyadari bahwa dirinya sedang marah.
Ketika iri muncul, ia mulai mengenalinya.
Ketika pamrih muncul, ia mulai melihatnya.
Ketika keinginan untuk membalas muncul, ia mulai menyadari dorongan tersebut sebelum bertindak.
Kemampuan untuk melihat keadaan diri sebelum langsung mengikuti dorongan merupakan perkembangan yang sangat penting.
Sebab, manusia mulai memiliki jarak antara dorongan dan tindakan.
Di dalam jarak tersebut terdapat kesempatan untuk memilih.
Kesadaran Mulai Mengamati Dirinya Sendiri.
Waspada berarti tidak berjalan begitu saja mengikuti apa yang muncul dalam diri.
Manusia mulai belajar memperhatikan dirinya sendiri.
Ia tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang dilakukan orang lain terhadap saya?”
Ia mulai bertanya:
“Apa yang terjadi dalam diri saya ketika menghadapi keadaan tersebut?”
Ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya, perhatian tidak hanya diarahkan kepada perkataan orang tersebut. Manusia juga mulai melihat reaksi dirinya.
Mengapa saya tersinggung?
Mengapa saya marah?
Mengapa saya ingin membalas?
Mengapa saya merasa harus membuktikan bahwa saya benar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan mulai tumbuhnya kewaspadaan.
Kesadaran tidak lagi sepenuhnya menjadi pengikut dari apa yang muncul dalam diri. Ia mulai menjadi pengamat terhadap gerak dirinya sendiri.
Inilah salah satu perubahan penting dari Cetana Kaiket menuju Cetana Waspada.
Waspada terhadap Cipta.
Dalam cipta, kewaspadaan berarti mulai memperhatikan pikiran yang muncul.
Tidak semua pikiran merupakan kenyataan.
Tidak semua anggapan merupakan kebenaran.
Tidak semua dugaan harus dipercaya.
Manusia yang mulai waspada akan belajar melihat pikirannya sendiri.
Ketika muncul prasangka terhadap seseorang, ia tidak langsung menganggap prasangka tersebut sebagai kenyataan.
Ketika muncul dugaan buruk, ia tidak segera menjadikannya dasar untuk bertindak.
Ketika muncul angan-angan tentang sesuatu yang diinginkan, ia mulai mampu membedakan antara keinginan dan kenyataan.
Dengan demikian, cipta mulai diperiksa sebelum dijadikan dasar keputusan.
Kewaspadaan terhadap cipta membantu manusia mengurangi kekeliruan yang berasal dari pikiran yang tergesa-gesa.
Waspada terhadap Rasa.
Kewaspadaan juga perlu diarahkan kepada rasa.
Manusia dapat mengalami marah, takut, kecewa, iri, senang, sedih, bangga, atau tersinggung. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Yang perlu dikembangkan bukan ketidakmampuan untuk merasa, melainkan kemampuan untuk menyadari rasa tanpa langsung dikuasai olehnya.
Ketika rasa marah muncul, manusia mulai mampu berkata dalam dirinya:
“Saya sedang marah.”
Kesadaran sederhana tersebut sangat penting.
Sebab ada perbedaan antara:
“Saya marah, maka saya harus membalas,”
dan:
“Saya menyadari bahwa saya sedang marah, sehingga saya dapat memilih apa yang sebaiknya saya lakukan.”
Pada keadaan pertama, rasa menguasai tindakan.
Pada keadaan kedua, manusia mulai memiliki ruang untuk menentukan tindakan.
Inilah fungsi kewaspadaan.
Waspada terhadap Karsa.
Karsa merupakan kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu.
Pada Cetana Waspada, manusia mulai memperhatikan dari mana kehendak tersebut muncul.
Apakah saya ingin melakukan sesuatu karena memang baik?
Apakah saya melakukannya karena takut?
Apakah karena ingin mendapatkan pujian?
Apakah karena ingin membalas?
Apakah karena ingin membuktikan diri?
Apakah karena ingin memperoleh keuntungan?
Pertanyaan semacam itu membantu manusia mengenali pamrih yang mungkin tersembunyi di balik suatu kehendak.
Karsa tidak harus dimatikan.
Karsa justru perlu diarahkan.
Ketika manusia mampu mengenali dorongan sebelum bertindak, ia mulai memiliki kemampuan untuk memilih kehendak yang lebih baik.
Dengan demikian, kewaspadaan menjadi jembatan antara kesadaran dan laku.
Berhenti Sejenak Sebelum Bertindak
Salah satu ciri utama Cetana Waspada adalah kemampuan untuk berhenti sejenak.
Berhenti bukan berarti pasif.
Berhenti berarti memberikan kesempatan kepada cipta, rasa, dan karsa untuk diperiksa sebelum diwujudkan menjadi tindakan.
Ketika marah, tidak langsung berbicara.
Ketika tersinggung, tidak langsung membalas.
Ketika mendapat kabar, tidak langsung mempercayainya.
Ketika ingin mengambil keputusan, tidak langsung mengikuti dorongan sesaat.
Jeda yang sederhana tersebut dapat mencegah banyak kesalahan.
Manusia mulai memahami bahwa tidak semua hal harus segera dijawab dan tidak semua dorongan harus segera dilakukan.
Ada kalanya diam lebih baik daripada berbicara.
Ada kalanya menunggu lebih baik daripada tergesa-gesa.
Ada kalanya mendengarkan lebih baik daripada langsung memberikan penilaian.
Kewaspadaan membuat manusia memiliki ruang untuk memilih.
Tidak Selalu Berhasil, tetapi Sudah Menyadari.
Dalam tataran Cetana Waspada bukan berarti manusia sudah sepenuhnya mampu mengendalikan diri.
Ia masih dapat marah.
Ia masih dapat tersinggung.
Ia masih dapat iri.
Ia masih dapat mengikuti pamrih.
Perbedaannya adalah ia mulai mampu menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Karena itu, seseorang tidak perlu merasa gagal hanya karena masih melakukan kesalahan.
Yang penting adalah apakah ia mampu melihat kesalahan tersebut dan belajar darinya.
Misalnya, seseorang terlanjur berbicara kasar karena marah.
Setelah keadaan tenang, ia menyadari:
“Ucapan saya tadi dipengaruhi kemarahan.”
Kesadaran tersebut menjadi bahan pembelajaran.
Pada kesempatan berikutnya, ia mungkin mampu berhenti sebelum berbicara.
Jika hal tersebut terus dilatih, kewaspadaan semakin kuat.
Kesalahan Menjadi Piwulang.
Pada Cetana Kaiket, manusia cenderung mencari penyebab kesalahan di luar dirinya.
Ketika terjadi persoalan, ia mudah mengatakan:
“Dia yang membuat saya marah.”
“Dia yang menyebabkan saya melakukan itu.”
“Kalau dia tidak berkata begitu, saya tidak akan bertindak demikian.”
Pada Cetana Waspada, cara melihat mulai berubah.
Manusia mulai memahami bahwa tindakan orang lain merupakan keadaan dari luar, sedangkan bagaimana dirinya menanggapi keadaan tersebut juga merupakan bagian yang perlu dilihat.
Karena itu, kesalahan mulai dijadikan piwulang atau pelajaran.
Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk memahami diri sendiri.
Setiap kesalahan dapat menjadi cermin.
Setiap kegagalan dapat menjadi bahan mawas diri.
Setiap konflik dapat menunjukkan bagian diri yang masih perlu dibenahi.
Dengan cara tersebut, pengalaman hidup menjadi bagian dari perkembangan kesadaran.
Mawas Diri Mulai Menjadi Kebiasaan.
Pada tahap ini, mawas diri tidak lagi hanya dilakukan ketika mengalami masalah.
Mawas diri mulai menjadi kebiasaan.
Sebelum berbicara, memperhatikan ucapan.
Sebelum bertindak, memperhatikan dorongan.
Ketika muncul rasa tidak suka, memperhatikan penyebabnya.
Ketika muncul keinginan mendapatkan pujian, menyadarinya.
Ketika muncul kemarahan, memberikan ruang sebelum bertindak.
Dengan kebiasaan tersebut, manusia mulai mengenali pola dirinya sendiri.
Ia mengetahui keadaan yang biasanya membuatnya marah.
Ia mengetahui keadaan yang membuatnya mudah tergoda.
Ia mengetahui kelemahan dirinya.
Ia juga mulai mengetahui kekuatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki diri.
Pengenalan terhadap diri sendiri menjadi semakin dalam.
Pangilon Dhiri dalam Cetana Waspada.
Untuk melatih kewaspadaan, manusia dapat menggunakan beberapa pertanyaan sebagai pangilon dhiri:
• Apakah saya menyadari ketika kemarahan mulai muncul?
• Apakah saya mampu berhenti sebelum berbicara ketika sedang tersinggung?
• Apakah saya dapat membedakan kenyataan dari prasangka?
• Apakah saya menyadari ketika pamrih mulai mempengaruhi tindakan?
• Apakah saya mudah mengikuti keinginan tanpa mempertimbangkan akibatnya?
• Apakah saya mampu menerima kesalahan diri sendiri?
• Apakah saya menjadikan kesalahan sebagai pelajaran?
• Apakah saya lebih sering menyalahkan orang lain daripada memeriksa diri sendiri?
• Apakah saya mampu mendengarkan sebelum memberikan penilaian?
• Apakah saya mulai mampu memilih tindakan setelah menyadari dorongan yang muncul?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memperkuat kewaspadaan.
Dari Cetana Waspada Menuju Cetana Wening.
Cetana Waspada merupakan tahap penting karena manusia mulai mampu melihat dirinya sendiri.
Namun, melihat saja belum cukup.
Setelah mampu melihat kemarahan, manusia perlu belajar menenangkan kemarahan.
Setelah mampu melihat prasangka, ia perlu
belajar membersihkan prasangka.
Setelah mampu melihat pamrih, ia perlu belajar menguranginya.
Setelah mampu melihat dorongan keinginan, ia perlu belajar mengarahkannya.
Dengan demikian, kewaspadaan menjadi dasar bagi wening.
Tanpa kewaspadaan, manusia sulit mengetahui apa yang perlu dijernihkan.
Karena itu, Cetana Waspada merupakan jembatan antara kesadaran yang masih terikat dengan kesadaran yang mulai jernih.
Kesimpulan.
Cetana Waspada adalah tataran kedua dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika manusia mulai menyadari gerak dirinya sendiri.
Ia mulai memperhatikan cipta, rasa, dan karsa yang muncul dalam dirinya.
Ketika marah, ia mulai menyadari kemarahannya.
Ketika iri muncul, ia mulai mengenalinya.
Ketika pamrih muncul, ia mulai melihatnya.
Ketika muncul dorongan untuk bertindak, ia mulai belajar berhenti sejenak sebelum mengikuti dorongan tersebut.
Kesadaran seperti ini memberikan ruang bagi manusia untuk memilih.
Ia mungkin belum selalu berhasil mengendalikan diri, tetapi sudah mulai mampu menyadari sebelum terbawa.
Kesalahan juga mulai dipandang sebagai piwulang.
Mawas diri mulai menjadi kebiasaan.
Dari sinilah kesadaran memperoleh ruang yang semakin luas untuk berkembang.
Karena itu, inti Cetana Waspada bukanlah “sudah mampu mengendalikan diri sepenuhnya”, melainkan “sudah mampu menyadari gerak diri sebelum sepenuhnya dikuasai oleh gerak tersebut.”
Kesadaran mulai melihat dirinya sendiri.
Dan ketika manusia sudah mampu melihat dirinya sendiri dengan jujur, ia memiliki dasar untuk mulai menjernihkan dirinya.
Dari sinilah perjalanan menuju Cetana Wening dimulai.
FAQ - Cetana Waspada.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Waspada?
Cetana Waspada adalah tataran kedua Nawa Tataraning Cetana, ketika manusia mulai menyadari gerak cipta, rasa, karsa, dan tindakannya sendiri.
Apa perbedaan Cetana Kaiket dan Cetana Waspada?
Pada Cetana Kaiket, manusia masih mudah terbawa oleh keinginan, hawa, dan pamrih. Pada Cetana Waspada, manusia mulai mampu menyadari dorongan tersebut sebelum langsung mengikutinya.
Apakah Cetana Waspada berarti sudah mampu mengendalikan diri?
Belum sepenuhnya. Ciri utamanya adalah mulai mampu menyadari apa yang terjadi dalam diri. Kemampuan mengendalikan diri berkembang melalui latihan dan laku berikutnya.
Mengapa kewaspadaan itu penting?
Karena kewaspadaan memberikan jarak antara dorongan dan tindakan. Dalam jarak tersebut manusia memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan dan memilih tindakan yang lebih baik.
Apa hubungan Cetana Waspada dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cetana Waspada mendorong manusia untuk memperhatikan pikiran dalam cipta, gejolak dalam rasa, dan dorongan dalam karsa sebelum semuanya diwujudkan menjadi tindakan.
Bagaimana melatih Cetana Waspada?
Dengan membiasakan mawas diri, memperhatikan dorongan sebelum bertindak, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, belajar menerima kesalahan, serta menggunakan pengalaman sebagai bahan untuk memperbaiki diri.
Apakah orang yang masih marah berarti belum mencapai Cetana Waspada?
Tidak selalu. Orang pada Cetana Waspada masih dapat marah. Perbedaannya adalah ia mulai mampu menyadari kemarahannya dan belajar tidak langsung mengikuti dorongan tersebut.
Apa hubungan Cetana Waspada dengan mawas diri?
Mawas diri merupakan salah satu bentuk utama Cetana Waspada. Manusia mulai mengamati keadaan dirinya sendiri dan menjadikan pengamatan tersebut sebagai dasar untuk memperbaiki laku.
Apa tataran setelah Cetana Waspada?
Tataran berikutnya adalah Cetana Wening, yaitu keadaan ketika kesadaran mulai menjadi lebih jernih sehingga tidak mudah dipengaruhi prasangka, pamrih, dan gejolak rasa.
Apa tanda bahwa Cetana Waspada mulai berkembang?
Di antaranya adalah mampu berhenti sebelum bereaksi, menyadari kemarahan ketika muncul, mengenali pamrih, tidak tergesa-gesa menghakimi, mampu menerima kesalahan, dan menjadikan pengalaman sebagai pelajaran.
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.