Tataran Kesembilan dan Puncak Nawa Tataraning Cetana.
Cetana Manunggal merupakan tataran kesembilan sekaligus puncak dalam Nawa Tataraning Cetana.
Jika delapan tataran sebelumnya menggambarkan proses perkembangan kesadaran manusia—mulai dari keadaan yang masih terikat oleh keinginan dan pamrih, kemudian berkembang menjadi waspada, wening, mantep, kawawas, pangrasa, pepadhang, hingga resik—maka Cetana Manunggal menggambarkan keadaan ketika seluruh perkembangan tersebut semakin menemukan keselarasan dalam kehidupan.
Manunggal dalam konteks ini tidak berarti manusia berubah menjadi Sang Sumber Panguripan.
Manusia tetap manusia.
Sang Sumber Panguripan tetap Sang Sumber Panguripan.
Manunggal lebih tepat dimaknai sebagai keselarasan yang mendalam antara kesadaran manusia dengan kasunyatan sejati, tatananing panguripan, dan Sang Sumber Panguripan.
Dengan demikian, Cetana Manunggal bukanlah hilangnya diri, melainkan utuhnya kehidupan manusia dalam menjalani keberadaannya.
Dari Perkembangan Menuju Keselarasan.
Nawa Tataraning Cetana bukan sekadar urutan keadaan yang harus dibanggakan. Setiap tataran menggambarkan perubahan dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Pada Cetana Kaiket, manusia masih mudah dikendalikan keinginan, hawa, ketakutan, kemarahan, iri hati, kesombongan, dan pamrih.
Pada Cetana Waspada, ia mulai mampu melihat gerak dirinya.
Pada Cetana Wening, ia mulai mampu melihat kehidupan dengan lebih jernih.
Pada Cetana Mantep, kejernihan tersebut mulai menjadi dasar yang kokoh.
Pada Cetana Kawawas, pemahamannya terhadap kenyataan semakin berkembang.
Pada Cetana Pangrasa, kemampuan menghayati kehidupan semakin dalam.
Pada Cetana Pepadhang, perkembangan tersebut mulai memberikan manfaat kepada kehidupan di sekitarnya.
Kemudian pada Cetana Resik, manfaat tersebut semakin bersih dari pamrih pribadi.
Cetana Manunggal merupakan kelanjutan dari seluruh proses tersebut.
Karena itu, manunggal bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.
Ia merupakan buah dari perkembangan yang berlangsung terus-menerus.
Manunggal Bukan Menjadi Sang Sumber Panguripan.
Makna manunggal perlu dipahami dengan hati-hati. Jika manunggal dipahami sebagai manusia menjadi satu hakikat dengan Sang Sumber Panguripan, maka batas antara manusia dan sumber kehidupan menjadi hilang.
Pemahaman seperti itu tidak sesuai dengan pengertian yang digunakan dalam Nawa Tataraning Cetana.
Manusia tetap memiliki keberadaan sebagai manusia.
Ia tetap memiliki cipta, rasa, dan karsa.
Ia tetap menjalani kehidupan, menghadapi perubahan, mengambil keputusan, bekerja, berhubungan dengan sesama, dan bertanggung jawab terhadap tindakannya.
Yang berubah adalah cara manusia menjalani keberadaannya.
Ia semakin mampu hidup selaras dengan kenyataan.
Ia tidak lagi terus-menerus memaksakan kehidupan agar mengikuti kepentingan pribadinya.
Ia belajar menerima apa yang memang menjadi kenyataan dan mengubah apa yang memang dapat diubah melalui laku yang benar.
Tidak Ada Lagi Pertentangan yang Kuat dalam Diri.
Salah satu ciri penting Cetana Manunggal adalah semakin berkurangnya pertentangan antara apa yang diketahui, dirasakan, dikehendaki, dan dilakukan.
Manusia sering mengalami keadaan ketika ia mengetahui sesuatu yang benar tetapi melakukan hal yang berlawanan.
Ia mengetahui bahwa kemarahan tidak menyelesaikan masalah, tetapi tetap marah.
Ia mengetahui bahwa kebohongan merusak kepercayaan, tetapi tetap berbohong demi kepentingan pribadi.
Ia mengetahui bahwa menyakiti orang lain tidak benar, tetapi tetap melakukannya karena dorongan emosi.
Pada Cetana Manunggal, jarak antara kawruh dan laku semakin kecil.
Apa yang dipahami mulai benar-benar dijalani.
Cipta, rasa, dan karsa semakin selaras.
Kawruh tidak bertentangan dengan laku.
Rasa tidak bertentangan dengan kebenaran.
Karsa tidak bertentangan dengan kabecikan.
Inilah salah satu bentuk keutuhan manusia.
Cipta, Rasa, dan Karsa Menjadi Selaras.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan unsur penting dalam perkembangan kesadaran manusia.
Cipta berkaitan dengan kemampuan memahami dan mempertimbangkan.
Rasa berkaitan dengan kemampuan menghayati kehidupan.
Karsa berkaitan dengan dorongan untuk melakukan sesuatu.
Ketiganya dapat bergerak ke arah yang berbeda.
Cipta dapat mengetahui yang benar, tetapi rasa masih dikuasai kebencian.
Rasa dapat memiliki welas asih, tetapi cipta belum mampu memahami persoalan secara jernih.
Karsa dapat memiliki semangat, tetapi tidak memiliki pertimbangan yang baik.
Pada Cetana Manunggal, ketiganya semakin menemukan keselarasan.
Cipta memberikan kejernihan.
Rasa memberikan kedalaman.
Karsa memberikan perwujudan.
Apa yang dipahami dapat dirasakan kebenarannya dan diwujudkan melalui tindakan.
Dengan demikian, kesadaran tidak berhenti sebagai pemahaman dalam pikiran.
Ia menjadi kehidupan yang nyata.
Kabecikan Tidak Lagi Dipaksakan.
Pada tahap perkembangan yang lebih awal, manusia sering membutuhkan aturan, nasihat, atau pengendalian diri untuk melakukan kebaikan.
Hal tersebut merupakan bagian penting dari proses.
Namun, ketika kesadaran semakin berkembang, kebaikan mulai menjadi bagian dari sifat kehidupan manusia.
Ia tidak perlu terus-menerus memaksa dirinya untuk jujur.
Kejujuran mulai menjadi kebiasaan.
Ia tidak perlu selalu mengingatkan dirinya agar tidak menyakiti orang lain.
Rasa hormat terhadap kehidupan semakin melekat dalam dirinya.
Ia tidak perlu melakukan kebaikan hanya karena takut mendapatkan akibat buruk.
Kebaikan mulai dilakukan karena manusia memahami nilai kebaikan itu sendiri.
Dengan demikian, kabecikan tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi bagian dari cara menjalani kehidupan.
Welas Asih Tidak Perlu Dipertontonkan.
Cetana Manunggal juga ditandai oleh semakin hilangnya kebutuhan untuk memperlihatkan kualitas dirinya kepada orang lain.
Welas asih tidak perlu dipamerkan. Pertolongan tidak harus selalu diketahui. Kebaikan tidak harus selalu diceritakan. Ketulusan tidak membutuhkan panggung.
Manusia tetap dapat berbuat baik secara nyata, tetapi tidak menjadikan perbuatan tersebut sebagai alat untuk membangun citra dirinya.
Hal ini merupakan kelanjutan langsung dari Cetana Resik.
Pada Cetana Resik, pamrih mulai dibersihkan.
Pada Cetana Manunggal, kehidupan yang bersih dari pamrih tersebut semakin menjadi keadaan yang alami.
Manembah Menjadi Bagian dari Kehidupan.
Pada tataran ini, manembah tidak hanya dipahami sebagai ungkapan atau kegiatan tertentu.
Manembah tercermin dalam seluruh kehidupan. Kejujuran dapat menjadi bagian dari manembah. Menjaga kehidupan dapat menjadi bagian dari manembah. Menghormati sesama dapat menjadi bagian dari manembah. Menjaga alam dapat menjadi bagian dari manembah. Menjalankan tanggung jawab dengan benar dapat menjadi bagian dari manembah.
Dengan demikian, manembah tidak berhenti pada kata-kata.
Manembah menjadi sikap hidup.
Keselarasan dengan Sang Sumber Panguripan diwujudkan melalui cara manusia memperlakukan kehidupan.
Menyadari Diri sebagai Bagian dari Kehidupan.
Cetana Manunggal juga membawa manusia keluar dari pandangan yang terlalu berpusat pada dirinya sendiri.
Ia mulai memahami bahwa dirinya bukan kehidupan yang berdiri sendiri.
Manusia hidup bersama manusia lain.
Manusia bergantung kepada alam.
Tindakan seseorang dapat mempengaruhi keluarga, masyarakat, lingkungan, bahkan kehidupan yang lebih luas.
Karena itu, setiap keputusan mulai dipertimbangkan dengan lebih luas.
Bukan hanya:
“Apa yang menguntungkan saya?”
Tetapi juga:
“Apa akibatnya bagi sesama?”
“Apa akibatnya bagi alam?”
“Apakah tindakan ini memperbaiki atau merusak kehidupan?”
Cara pandang tersebut menunjukkan bahwa kesadaran telah berkembang dari kepentingan pribadi menuju keselarasan dengan kehidupan.
Tanggung Jawab Menjadi Semakin Luas.
Kesadaran yang semakin tinggi bukan berarti manusia semakin bebas melakukan apa saja.
Sebaliknya, kebebasan membawa tanggung jawab.
Semakin manusia memahami hubungan antara dirinya dengan kehidupan, semakin ia menyadari akibat dari tindakannya.
Ia tidak mudah menyalahkan keadaan.
Ia berusaha bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi bagian dari tindakannya.
Jika melakukan kesalahan, ia berusaha memperbaikinya.
Jika merugikan orang lain, ia berusaha memulihkan keadaan.
Jika memiliki kekuasaan, ia menggunakannya secara bertanggung jawab.
Jika memiliki kemampuan, ia menggunakannya untuk manfaat.
Dengan demikian, kesadaran yang matang menghasilkan tanggung jawab yang semakin luas, bukan kebebasan tanpa batas.
Keselarasan dengan Kasunyatan Sejati.
Manunggal juga berkaitan dengan hubungan manusia terhadap kasunyatan. Manusia tidak lagi menjadikan keinginannya sebagai ukuran tunggal kebenaran.
Ia belajar menerima bahwa kenyataan tidak selalu sesuai dengan keinginannya.
Kegagalan tetap dapat terjadi.
Kehilangan tetap dapat terjadi.
Perubahan tetap terjadi.
Kematian tetap menjadi bagian dari kehidupan.
Namun, manusia tidak lagi terus-menerus melawan kenyataan dengan kemarahan dan penolakan.
Ia berusaha melihat kenyataan sebagaimana adanya, kemudian menentukan tindakan yang tepat.
Inilah bentuk penting dari keselarasan.
Menerima kenyataan bukan berarti menyerah kepada keadaan.
Menerima berarti mampu melihat keadaan dengan jernih sebelum menentukan tindakan.
Pangilon Dhiri Cetana Manunggal.
Walaupun Cetana Manunggal merupakan tataran puncak, manusia tetap perlu melakukan mawas diri.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:
• Apakah cipta, rasa, dan karsa saya semakin selaras?
• Apakah yang saya ketahui sudah benar-benar saya jalani?
• Apakah kebaikan saya masih membutuhkan pengakuan?
• Apakah saya masih melakukan sesuatu terutama demi kepentingan pribadi?
• Apakah saya mampu menerima kenyataan tanpa kehilangan kejernihan?
• Apakah saya mampu memperbaiki kesalahan tanpa mencari alasan?
• Apakah keputusan saya mempertimbangkan dampaknya terhadap sesama?
• Apakah saya memperlakukan alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati?
• Apakah manembah saya tercermin dalam perilaku sehari-hari?
• Apakah kehidupan saya semakin memberikan manfaat bagi kehidupan yang lebih luas?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menentukan siapa yang sudah mencapai tataran tertentu.
Nawa Tataraning Cetana terutama merupakan peta untuk melihat perkembangan diri sendiri.
Wohing Cetana Manunggal.
Buah dari Cetana Manunggal tidak terutama terlihat dari pengakuan bahwa seseorang telah mencapai tingkat kesadaran tertentu.
Buahnya terlihat dari kehidupannya.
Ia semakin jujur.
Semakin bertanggung jawab.
Semakin tenang dalam menghadapi perubahan.
Semakin mampu memahami tanpa tergesa-gesa menghakimi.
Semakin mampu merasakan keadaan sesama.
Semakin bersih dalam melakukan kebaikan.
Semakin berhati-hati menggunakan kekuatan dan kedudukan.
Semakin menghormati kehidupan.
Dan yang paling penting, semakin kecil pertentangan antara apa yang diketahui, apa yang dirasakan, apa yang dikehendaki, dan apa yang dilakukan.
Dengan demikian, kehidupan menjadi semakin utuh.
Cetana Manunggal sebagai Puncak, Bukan Akhir Laku.
Disebut sebagai tataran puncak bukan berarti setelah mencapai Cetana Manunggal manusia tidak perlu lagi belajar atau mawas diri.
Kehidupan tetap berubah.
Situasi baru dapat menghadirkan tantangan baru.
Karena itu, perkembangan kesadaran tidak seharusnya dipahami sebagai gelar yang dapat dimiliki seseorang.
Nawa Tataraning Cetana lebih tepat dipahami sebagai peta perkembangan manusia dalam menjalani kehidupan.
Seseorang dapat menunjukkan kemantapan dalam satu keadaan, tetapi menghadapi kelemahan dalam keadaan lain.
Karena itu, sikap rendah hati tetap diperlukan.
Puncak perkembangan justru ditandai oleh semakin kecilnya kebutuhan untuk menyatakan diri telah mencapai puncak.
Hubungan dengan Nawaprabodha
Cetana Manunggal menjadi dasar penting bagi Nawaprabodha. Cetana menggambarkan perkembangan kesadaran manusia.
Prabodha menggambarkan berkembangnya pemahaman yang semakin menerangi kehidupan.
Karena itu, hubungan keduanya bukan dua hal yang terpisah.
Perkembangan cetana menyediakan dasar bagi berkembangnya prabodha.
Ketika kesadaran semakin waspada, wening, mantep, kawawas, pangrasa, pepadhang, dan resik, manusia semakin memiliki kemampuan untuk memahami kehidupan secara lebih utuh.
Pada puncaknya, Cetana Manunggal menunjukkan keselarasan antara pemahaman, penghayatan, kehendak, dan tindakan.
Dari keselarasan tersebut, kehidupan dapat bergerak menuju Prabodha yang semakin matang.
Kesimpulan.
Cetana Manunggal merupakan tataran kesembilan sekaligus puncak Nawa Tataraning Cetana.
Manunggal tidak berarti manusia berubah menjadi Sang Sumber Panguripan dan tidak pula berarti manusia kehilangan keberadaannya sebagai manusia.
Manunggal berarti keselarasan yang mendalam antara kesadaran manusia, kasunyatan sejati, tatananing panguripan, dan Sang Sumber Panguripan.
Pada tahap ini, cipta, rasa, dan karsa semakin selaras.
Kawruh tidak bertentangan dengan laku.
Rasa tidak bertentangan dengan kebenaran.
Karsa tidak bertentangan dengan kabecikan.
Kebaikan tidak lagi terutama dilakukan demi pujian.
Welas asih tidak perlu dipertontonkan.
Kejujuran tidak digunakan untuk membangun citra.
Manembah tidak hanya diucapkan, tetapi tercermin dalam seluruh kehidupan.
Manusia juga semakin menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan yang lebih luas. Karena itu, setiap tindakan tidak hanya dilihat dari kepentingan diri sendiri, tetapi juga dari dampaknya terhadap sesama, alam, dan keseluruhan kehidupan.
Dengan demikian, puncak Nawa Tataraning Cetana bukanlah pencapaian yang membuat manusia semakin jauh dari kehidupan.
Justru sebaliknya.
Semakin berkembang cetana, semakin utuh manusia menjalani kehidupan.
Ia semakin memahami, semakin menghayati, semakin mampu bertindak, dan semakin mampu menyelaraskan kehidupannya dengan kasunyatan.
Pada akhirnya, ukuran Cetana Manunggal bukanlah seberapa tinggi seseorang merasa dirinya telah mencapai kesadaran, melainkan seberapa selaras kehidupan yang dijalaninya dengan kebenaran, kabecikan, tanggung jawab, dan manfaat bagi kehidupan.
FAQ - Cetana Manunggal.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Manunggal?
Cetana Manunggal adalah tataran kesembilan sekaligus puncak Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia semakin utuh dan selaras dengan kasunyatan sejati, tatananing panguripan, serta Sang Sumber Panguripan.
Apakah Manunggal berarti manusia menjadi satu dengan Sang Sumber Panguripan?
Tidak. Manunggal tidak berarti manusia berubah menjadi Sang Sumber Panguripan atau kehilangan keberadaannya. Manunggal berarti keselarasan yang mendalam dalam menjalani kehidupan.
Apa tanda utama Cetana Manunggal?
Salah satu tanda utamanya adalah semakin kecilnya pertentangan antara apa yang diketahui, dirasakan, dikehendaki, dan dilakukan. Cipta, rasa, dan karsa semakin selaras.
Apakah Cetana Manunggal berarti manusia tidak pernah mengalami kesedihan atau kemarahan?
Tidak. Manusia tetap mengalami berbagai rasa dan keadaan. Perbedaannya adalah ia semakin mampu menghadapi semuanya tanpa membiarkan gejolak tersebut menguasai seluruh kehidupannya.
Apakah orang yang mencapai Cetana Manunggal tidak memiliki keinginan?
Tidak. Keinginan tetap ada sebagai bagian dari kehidupan. Yang berubah adalah manusia tidak lagi menjadikan keinginan pribadi sebagai penguasa utama dalam menentukan tindakan.
Apa hubungan Cetana Resik dengan Cetana Manunggal?
Cetana Resik menekankan semakin bersihnya kesadaran dari pamrih pribadi. Cetana Manunggal merupakan kelanjutan ketika kebersihan tersebut berkembang menjadi keselarasan yang semakin utuh antara cipta, rasa, karsa, kawruh, laku, dan kehidupan.
Apakah Cetana Manunggal berarti tidak perlu lagi belajar?
Tidak. Puncak tataran bukan berarti berhenti belajar. Kehidupan selalu memberikan keadaan baru yang membutuhkan mawas diri, pemahaman, dan pembelajaran.
Bagaimana manembah terlihat pada Cetana Manunggal?
Manembah tidak hanya berupa ungkapan, tetapi tercermin dalam seluruh kehidupan: kejujuran, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, kepedulian terhadap alam, dan tindakan yang selaras dengan kebaikan.
Mengapa Cetana Manunggal mempertimbangkan alam?
Karena manusia merupakan bagian dari tatanan kehidupan yang lebih luas. Tindakan manusia dapat memengaruhi alam dan kehidupan lainnya. Kesadaran yang semakin utuh memperluas pertimbangan dari kepentingan pribadi menuju kepentingan kehidupan secara keseluruhan.
Apa hubungan Cetana Manunggal dengan Nawaprabodha?
Perkembangan cetana menjadi dasar bagi berkembangnya prabodha. Cetana Manunggal menunjukkan keselarasan kesadaran manusia, sedangkan Nawaprabodha berkaitan dengan berkembangnya pemahaman yang semakin menerangi kehidupan.
Apa puncak dari Nawa Tataraning Cetana?
Puncaknya adalah Cetana Manunggal, yaitu keadaan ketika kesadaran manusia semakin utuh, cipta-rasa-karsa semakin selaras, dan kehidupan dijalani dengan keselarasan terhadap kasunyatan, kabecikan, sesama, alam, serta Sang Sumber Panguripan.
**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.