Tataran Kedelapan dalam Nawa Tataraning Cetana.
Cetana Resik merupakan tataran kedelapan dalam Nawa Tataraning Cetana, yaitu tataran ketika kesadaran manusia semakin bersih dari pamrih pribadi.
Pada tataran sebelumnya, Cetana Pepadhang, manusia mulai mampu menjadikan perkembangan kesadarannya sebagai manfaat bagi kehidupan.
Pengetahuan digunakan untuk membantu, kekuatan digunakan untuk melindungi, kedudukan digunakan untuk memberi manfaat, dan kehadirannya berusaha membuat keadaan menjadi lebih baik.
Namun, pada tahap tersebut masih mungkin terdapat pamrih yang tersembunyi.
Manusia dapat membantu karena ingin dipuji.
Dapat berbuat baik karena ingin dianggap baik.
Dapat menolong karena ingin mendapatkan balasan.
Dapat memimpin karena ingin dihormati.
Dapat mempertahankan kebenaran karena ingin menang.
Karena itu, setelah kesadaran mampu menjadi pepadhang, perkembangan berikutnya adalah membersihkan dorongan yang masih berpusat pada kepentingan diri.
Inilah yang menjadi inti Cetana Resik.
Resik Bukan Berarti Tidak Memiliki Keinginan.
Cetana Resik tidak berarti manusia sudah tidak mempunyai keinginan sama sekali. Keinginan merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Manusia tetap memiliki kebutuhan, cita-cita, tanggung jawab, dan tujuan.
Yang mengalami perubahan adalah hubungan manusia dengan keinginannya.
Pada tataran yang lebih rendah, keinginan dapat menjadi penguasa.
Manusia melakukan sesuatu terutama agar mendapatkan apa yang diinginkan.
Pada Cetana Resik, manusia mulai mampu bertindak benar meskipun hasil yang diharapkan tidak diperoleh.
Ia tetap membantu meskipun tidak dipuji.
Ia tetap jujur meskipun kejujuran tidak memberikan keuntungan.
Ia tetap melakukan kewajiban meskipun tidak ada yang melihat.
Ia tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan penghargaan.
Dengan demikian, kebebasan kesadaran mulai tumbuh.
Pamrih Semakin Berkurang.
Pamrih adalah dorongan untuk mendapatkan sesuatu bagi kepentingan diri dari apa yang dilakukan.
Pamrih tidak selalu tampak jelas. Kadang-kadang pamrih sangat halus. Seseorang dapat membantu orang lain, tetapi diam-diam mengharapkan ucapan terima kasih.
Seseorang dapat memberikan nasihat, tetapi berharap nasihatnya selalu dianggap benar.
Seseorang dapat melakukan pelayanan, tetapi kecewa ketika tidak mendapatkan penghargaan.
Bahkan keinginan untuk dikenal sebagai orang baik dapat menjadi pamrih.
Karena itu, membersihkan pamrih bukan hanya berarti berhenti mengejar keuntungan materi.
Yang perlu diperhatikan juga adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan, penghormatan, pujian, dan pembenaran dari orang lain.
Cetana Resik membuat manusia mulai melihat pamrih-pamrih halus tersebut dalam dirinya sendiri.
Tidak Membutuhkan Pujian untuk Berbuat Baik.
Salah satu tanda penting Cetana Resik adalah kemampuan melakukan kebaikan tanpa membutuhkan pujian.
Pada tahap sebelumnya, manusia mungkin mulai senang membantu.
Pada tahap ini, ia mulai tidak terlalu memikirkan apakah orang lain mengetahui kebaikannya.
Jika perbuatan tersebut memang benar dan bermanfaat, ia tetap melakukannya.
Pujian tidak menjadi alasan untuk berbuat baik.
Celaan juga tidak menjadi alasan untuk berhenti melakukan sesuatu yang benar.
Dengan demikian, tindakan mulai berdiri di atas kesadaran tentang kebenaran dan manfaat, bukan atas penilaian orang lain.
Manusia menjadi lebih bebas dari kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.
Tidak Harus Mendapat Keuntungan untuk Membantu.
Cetana Resik juga mengubah hubungan manusia dengan keuntungan. Manusia mulai mampu membantu tanpa selalu menghitung apa yang akan diperolehnya.
Namun, hal ini tidak berarti manusia harus memberikan segala sesuatu tanpa pertimbangan.
Membantu tetap membutuhkan kebijaksanaan.
Ada bantuan yang tepat.
Ada bantuan yang justru membuat seseorang semakin bergantung.
Ada keadaan ketika memberikan sesuatu memang bermanfaat.
Ada pula keadaan ketika yang lebih baik adalah mengajarkan kemampuan agar orang lain dapat berdiri sendiri.
Karena itu, bebas dari pamrih tidak berarti bertindak tanpa pertimbangan. Justru cipta yang jernih tetap diperlukan agar kebaikan dilakukan dengan tepat.
Tidak Harus Menang untuk Mempertahankan Kebenaran.
Salah satu bentuk pamrih yang sangat halus adalah keinginan untuk menang. Manusia dapat memperjuangkan sesuatu yang benar, tetapi kemudian perjuangan tersebut berubah menjadi usaha untuk membuktikan bahwa dirinya paling benar.
Pada Cetana Resik, manusia mulai mampu membedakan keduanya.
Mempertahankan kebenaran tidak selalu berarti memenangkan perdebatan.
Terkadang kebenaran dapat disampaikan dengan tenang.
Terkadang orang lain belum dapat menerimanya.
Terkadang manusia harus menunggu.
Terkadang manusia perlu mengakui bahwa dirinya belum memiliki cukup pengetahuan.
Karena itu, manusia yang semakin resik tidak terlalu membutuhkan kemenangan pribadi.
Yang lebih penting baginya adalah kebenaran tetap terjaga dan kehidupan tidak dirusak oleh keakuan.
Keakuan Semakin Halus.
Ketika pamrih kasar mulai berkurang, manusia dapat menemukan bentuk keakuan yang lebih halus.
Keakuan tidak selalu berbentuk kesombongan yang terang-terangan.
Ia dapat muncul dalam bentuk:
“Saya yang paling memahami.”
“Saya yang paling tulus.”
“Saya yang paling banyak membantu.”
“Saya yang paling benar.”
“Saya sudah tidak memiliki pamrih.”
Pernyataan terakhir pun dapat menjadi jebakan.
Seseorang dapat merasa bangga karena menganggap dirinya sudah tidak memiliki pamrih.
Karena itu, Cetana Resik bukan keadaan untuk dibanggakan.
Semakin bersih kesadaran, semakin manusia berhati-hati terhadap keakuannya sendiri.
Ia tidak sibuk mengumumkan bahwa dirinya telah baik.
Ia membiarkan kehidupan memperlihatkan buah dari tindakannya.
Kebaikan Menjadi Sifat, Bukan Strategi.
Pada Cetana Resik, kebaikan mulai berubah dari strategi menjadi sifat dalam kehidupan.
Pada tingkat yang lebih rendah, seseorang dapat melakukan kebaikan karena ada alasan tertentu.
Ia membantu agar mendapatkan balasan.
Ia berbuat baik agar mendapatkan penghormatan.
Ia bersikap ramah agar mendapatkan keuntungan.
Pada Cetana Resik, kebaikan tidak lagi selalu membutuhkan alasan seperti itu.
Manusia melakukan sesuatu yang baik
karena memang memahami bahwa hal tersebut baik dan perlu dilakukan.
Tidak ada perhitungan yang berlebihan mengenai apa yang akan diperoleh setelahnya.
Dengan demikian, kebaikan menjadi lebih alami.
Kebebasan dari Balasan.
Semakin berkurangnya pamrih membuat manusia semakin bebas.
Ia tidak terus-menerus menghitung:
“Saya sudah berbuat baik kepada siapa?”
“Apa yang saya dapatkan?”
“Mengapa mereka tidak membalas?”
“Mengapa saya tidak dihargai?”
Perhitungan semacam itu sering membuat kebaikan berubah menjadi utang moral.
Manusia merasa bahwa orang lain wajib membalas karena dirinya pernah membantu.
Pada Cetana Resik, hubungan tersebut mulai dilepaskan.
Jika memang membantu, maka membantu.
Jika memang benar, maka dilakukan.
Jika memang perlu, maka dijalankan.
Tidak semua tindakan harus menghasilkan balasan.
Kesadaran menjadi lebih ringan karena tidak terus-menerus menagih kehidupan.
Resik Bukan Berarti Pasif.
Bebas dari pamrih bukan berarti menjadi orang yang pasif. Manusia tetap dapat memiliki cita-cita.
Tetap dapat bekerja keras.
Tetap dapat memperjuangkan keadilan.
Tetap dapat menolak ketidakbenaran.
Tetap dapat memimpin.
Tetap dapat menggunakan kekuatan dan kemampuan.
Perbedaannya terletak pada dasar tindakan.
Ia tidak lagi terutama digerakkan oleh
kebutuhan untuk membesarkan dirinya sendiri.
Ia bekerja karena ada sesuatu yang perlu dikerjakan.
Ia memimpin karena ada tanggung jawab.
Ia berbicara karena ada sesuatu yang perlu disampaikan.
Ia menolak karena ada sesuatu yang perlu dicegah.
Dengan demikian, karsa tetap kuat, tetapi semakin bebas dari kepentingan pribadi yang berlebihan.
Cipta, Rasa, dan Karsa dalam Cetana Resik.
Cetana Resik membutuhkan keselarasan antara cipta, rasa, dan karsa. Cipta membantu manusia mengenali pamrih yang muncul dalam dirinya.
Rasa membuat manusia mampu merasakan akibat tindakannya terhadap kehidupan.
Karsa mengarahkan tindakan agar tidak kembali dikendalikan oleh kepentingan pribadi.
Jika cipta tidak jernih, manusia mungkin tidak menyadari pamrihnya.
Jika rasa tidak berkembang, ia mungkin tidak
peduli terhadap akibat tindakannya.
Jika karsa tidak terarah, ia dapat kembali mengikuti keinginan sesaat.
Karena itu, keselarasan ketiganya menjadi semakin penting.
Pada tataran ini, manusia tidak hanya berusaha melakukan kebaikan.
Ia juga berusaha membersihkan alasan di balik kebaikan tersebut.
Bagaimana Menguji Ketulusan?
Ketulusan sulit diukur dari kata-kata.
Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya tulus, tetapi hanya dirinya sendiri yang benar-benar dapat memeriksa dorongan yang ada di dalam dirinya.
Salah satu cara untuk mengujinya adalah memperhatikan keadaan setelah melakukan sesuatu.
Apakah kecewa ketika tidak dipuji?
Apakah marah ketika bantuan tidak dibalas?
Apakah merasa sakit hati ketika kebaikannya tidak diketahui?
Apakah merasa perlu menceritakan jasanya?
Apakah ingin orang lain mengetahui bahwa dirinya telah berbuat baik?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan diri.
Pertanyaan tersebut merupakan pangilon dhiri.
Dengan melihatnya secara jujur, manusia dapat mengetahui bagian mana dari dirinya yang masih perlu dibersihkan.
Pangilon Dhiri Cetana Resik.
Beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan untuk mawas diri:
• Apakah saya tetap melakukan kebaikan ketika tidak ada yang melihat?
• Apakah saya kecewa ketika kebaikan saya tidak dihargai?
• Apakah saya membantu karena peduli atau karena mengharapkan balasan?
• Apakah saya ingin dikenal sebagai orang baik?
• Apakah saya merasa lebih tinggi karena pernah membantu orang lain?
• Apakah saya harus menang agar merasa benar?
• Apakah saya mudah tersinggung ketika pendapat saya tidak diterima?
• Apakah saya masih menghitung jasa dan balasan?
• Apakah saya mampu melakukan yang benar meskipun tidak mendapatkan keuntungan?
• Apakah saya mampu mengakui bahwa keakuan masih dapat muncul dalam diri saya?
Pertanyaan tersebut membantu manusia mengenali pamrih yang kasar maupun yang sangat halus.
Wohing Cetana Resik.
Buah Cetana Resik terlihat dari semakin ringannya hubungan manusia dengan penghargaan dan balasan.
Ia dapat berbuat baik tanpa harus diketahui.
Ia dapat membantu tanpa harus disebut.
Ia dapat bekerja tanpa selalu menuntut pujian.
Ia dapat menerima kritik tanpa merasa seluruh harga dirinya runtuh.
Ia dapat mempertahankan kebenaran tanpa harus merendahkan orang lain.
Ia dapat meminta maaf tanpa merasa kalah.
Ia dapat mengakui kesalahan tanpa merasa dirinya menjadi tidak berharga.
Ia juga dapat menerima keberhasilan tanpa menjadikannya alasan untuk mengunggulkan diri.
Kebaikan semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bukan karena manusia sedang membangun citra sebagai orang baik, tetapi karena kebaikan mulai tumbuh sebagai kebiasaan dan sifat dalam dirinya.
Menuju Cetana Manunggal.
Cetana Resik merupakan tataran kedelapan dan menjadi persiapan menuju Cetana Manunggal, tataran kesembilan.
Pada Pepadhang, kesadaran mulai memberi manfaat kepada kehidupan.
Pada Resik, manfaat tersebut semakin dibersihkan dari pamrih pribadi.
Namun, selama masih ada kebutuhan untuk mempertahankan “saya” sebagai pelaku kebaikan, masih terdapat jarak antara kebaikan yang dilakukan dan kepentingan diri.
Karena itu, perkembangan berikutnya menuju Cetana Manunggal berkaitan dengan semakin utuhnya keselarasan antara diri, kehidupan, dan sumber kehidupan.
Urutannya menjadi semakin jelas:
Cetana Kaiket — kesadaran masih terikat.
Cetana Waspada — mulai menyadari gerak diri.
Cetana Wening — mulai jernih melihat.
Cetana Mantep — semakin kokoh.
Cetana Kawawas — semakin memahami.
Cetana Pangrasa — semakin menghayati.
Cetana Pepadhang — mulai memberi manfaat.
Cetana Resik — semakin bebas dari pamrih.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tataran kesadaran, semakin berkurang kepentingan untuk mengunggulkan diri.
Kesimpulan.
Cetana Resik merupakan tataran kedelapan dalam Nawa Tataraning Cetana, ketika kesadaran manusia semakin bersih dari pamrih pribadi.
Pada tahap ini, manusia tidak lagi terlalu membutuhkan pujian untuk berbuat baik.
Ia tidak harus mendapatkan keuntungan untuk membantu.
Ia tidak harus menang untuk mempertahankan kebenaran.
Ia mulai menyadari bahwa bahkan keinginan untuk dianggap baik dapat menjadi bentuk pamrih.
Karena itu, kebersihan kesadaran bukan hanya soal menghilangkan kepentingan yang kasar, tetapi juga mengenali keakuan yang semakin halus.
Cetana Resik tidak berarti manusia kehilangan keinginan, cita-cita, atau tujuan.
Yang berubah adalah dasar dari tindakannya.
Ia tetap bekerja, tetapi tidak semata-mata demi membesarkan diri.
Ia tetap memimpin, tetapi tidak semata-mata demi kekuasaan.
Ia tetap membantu, tetapi tidak menjadikan bantuan sebagai alat untuk mendapatkan penghargaan.
Ia tetap mempertahankan kebenaran, tetapi tidak harus menang demi memuaskan keakuan.
Kesadaran menjadi lebih bebas karena tidak terus-menerus menuntut balasan dari kehidupan.
Pada tahap ini, kebaikan semakin menjadi bagian dari sifat manusia.
Ia tidak perlu dipaksa.
Ia tidak perlu dipamerkan.
Ia tidak perlu selalu diberi penghargaan.
Kebaikan dilakukan karena memang baik dan bermanfaat.
Dari kebersihan inilah perjalanan menuju Cetana Manunggal menjadi mungkin, ketika perkembangan kesadaran mencapai tataran yang semakin utuh dalam keselarasan dengan kehidupan dan Sang Sumber Panguripan.
FAQ - Cetana Resik.
Apa yang dimaksud dengan Cetana Resik?
Cetana Resik adalah tataran kedelapan dalam Nawa Tataraning Cetana ketika kesadaran manusia semakin bersih dari pamrih pribadi dan tidak lagi terlalu bergantung pada pujian, keuntungan, atau pengakuan untuk melakukan kebaikan.
Apakah Cetana Resik berarti manusia sudah tidak memiliki keinginan?
Tidak. Keinginan tetap merupakan bagian dari kehidupan. Yang berkembang adalah kemampuan manusia untuk tidak diperbudak oleh keinginannya dan tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai dasar utama setiap tindakan.
Apakah berbuat baik demi mendapatkan pujian termasuk pamrih?
Jika pujian menjadi alasan utama seseorang melakukan kebaikan, maka terdapat unsur pamrih. Cetana Resik mengajarkan manusia untuk semakin mampu berbuat baik tanpa bergantung pada pengakuan.
Apakah ingin dianggap sebagai orang baik juga dapat menjadi pamrih?
Ya. Keinginan untuk memperoleh citra sebagai orang baik dapat menjadi bentuk pamrih yang halus apabila kebaikan dilakukan terutama demi pengakuan tersebut.
Apakah bebas dari pamrih berarti tidak boleh mengharapkan hasil?
Tidak. Manusia tetap boleh memiliki tujuan dan mengharapkan hasil dari usaha yang dilakukan. Yang perlu diwaspadai adalah keterikatan berlebihan terhadap hasil hingga kebaikan hanya dilakukan apabila menghasilkan keuntungan pribadi.
Apakah Cetana Resik berarti harus selalu mengalah?
Tidak. Bebas dari pamrih tidak berarti kehilangan ketegasan. Manusia tetap dapat mempertahankan kebenaran, menolak ketidakadilan, dan mengambil sikap tegas tanpa menjadikannya sarana untuk memuaskan keakuan.
Bagaimana cara mengetahui masih adanya pamrih?
Perhatikan reaksi diri ketika kebaikan tidak dihargai, bantuan tidak dibalas, pendapat tidak diterima, atau jasa tidak diakui. Kekecewaan yang muncul dapat menjadi bahan untuk mawas diri.
Apa hubungan Cetana Resik dengan Cetana Pepadhang?
Cetana Pepadhang menekankan kesadaran yang mulai memberikan manfaat bagi kehidupan, sedangkan Cetana Resik menekankan pembersihan manfaat tersebut dari pamrih dan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan pribadi.
Apa peran cipta, rasa, dan karsa dalam Cetana Resik?
Cipta membantu mengenali pamrih, rasa membantu memahami akibat tindakan terhadap kehidupan, dan karsa mengarahkan tindakan agar tetap berjalan tanpa dikuasai kepentingan pribadi.
Apa tataran setelah Cetana Resik?
Tataran berikutnya adalah Cetana Manunggal, yaitu tataran kesembilan dalam Nawa Tataraning Cetana yang menjadi puncak perkembangan kesadaran dalam rangkaian tersebut.
**Sumber artikel :
NAWA TATARANING CETANA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.