Penjelasan awal ... BUKA
Tujuan hidup bukan sekadar memperoleh kesenangan dan kekayaan, tetapi mengembangkan budi, membersihkan cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, serta menghasilkan laku yang membawa ketenteraman dan manfaat.
- Kawruh Uttamopadesa -
Jatining Janma Manusa merupakan salah satu pokok penting dalam memahami kehidupan manusia secara lebih mendalam, karena manusia tidak cukup dipahami hanya berdasarkan apa yang tampak oleh pandangan lahir, melainkan perlu dipahami melalui asal-usulnya, susunan dirinya, kedudukannya dalam tatanan kehidupan, serta tujuan yang hendak dicapainya selama menjalani kehidupan di dunia.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, manusia dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang berasal dari Sang Sumber Panguripan, hadir di jagad gumelar dengan membawa raga, sukma, cipta, rasa, karsa, dan budi sebagai piranti untuk menjalani kehidupan.
Pemahaman tersebut memiliki hubungan yang erat dengan Kawruh Sejati, sebab kawruh sejati tidak berhenti pada banyaknya pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran, tetapi mengarah kepada kemampuan manusia untuk mengenali dirinya, memahami hakikat kehidupan, membersihkan batin, serta mewujudkan pengetahuan itu dalam laku nyata.
Dengan demikian, memahami jatining janma manusa bukan sekadar membahas siapa manusia secara lahiriah, melainkan merupakan jalan untuk melihat hubungan antara raga, sukma, cipta, rasa, karsa, budi, kehidupan, dan Sang Sumber Panguripan.
Dalam lingkup LESTARI Uttamopadesa, pemahaman mengenai jatining janma manusa juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga keselarasan antara kesadaran batin dan kehidupan nyata, karena manusia yang memahami dirinya dengan benar diharapkan mampu menjadikan kesadaran dan kejernihan batin sebagai tameng dalam menentukan setiap pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan.
1. Sangkaning Janma Manusa.
Sangkaning Janma Manusa membicarakan asal-usul dan dumadinipun manusia, yaitu dari mana manusia berasal dan bagaimana keberadaannya ditempatkan dalam jagad gumelar.
Menurut Kawruh Uttamopadesa, manusia bukanlah sesuatu yang hadir tanpa dasar, dan manusia juga tidak dapat dipandang semata-mata sebagai raga yang terbentuk lalu menjalani kehidupan secara kebetulan.
Segala sesuatu yang ada dalam jagad gumelar berasal dari Sang Sumber Panguripan, yang menjadi wiwitan sekaligus dasar bagi seluruh kehidupan.
Manusia kemudian hadir dalam kehidupan dengan membawa raga sebagai piranti untuk menjalani kehidupan lahiriah, sementara di dalam raga terdapat sukma yang menjadi tempat cipta, rasa, dan karsa. Melalui ketiga daya tersebut manusia mampu berpikir, merasakan, menghendaki, mempertimbangkan, memilih, dan kemudian mewujudkan pilihannya dalam tindakan.
Karena itu, keberadaan manusia tidak berhenti pada tubuh jasmani, sebab tubuh hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan susunan diri manusia.
Pemahaman mengenai sangkan menjadi penting dalam Kawruh Sejati, karena seseorang yang mengetahui asal keberadaannya akan lebih mudah memahami bahwa kehidupan bukan semata-mata miliknya sendiri.
Kehidupan merupakan bagian dari tatanan yang lebih luas sehingga manusia memiliki tanggung jawab untuk menjalani hidup dengan kesadaran, kebajikan, dan keselarasan.
Kesadaran mengenai asal juga menjadi pengingat agar manusia tidak mudah terjebak dalam kesombongan ketika memperoleh keberhasilan dan tidak kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan.
2. Susunaning Janma Manusa.
Manusia memiliki susunan yang tidak sederhana. Secara lahiriah manusia tampak sebagai raga, tetapi kehidupan manusia juga mencakup sukma, cipta, rasa, karsa, dan Jatining Panguripan. Masing-masing memiliki kedudukan dan fungsi, tetapi seluruhnya saling berkaitan dalam menjalankan kehidupan.
Raga merupakan badan lahir yang dapat dilihat dan digunakan manusia untuk berhubungan dengan jagad gumelar. Raga memungkinkan manusia melihat, mendengar, merasakan, bergerak, bekerja, serta berhubungan dengan sesama dan alam.
Karena raga merupakan piranti kehidupan, maka raga perlu dipelihara dengan baik agar dapat digunakan untuk menjalankan laku yang bermanfaat.
Sukma merupakan ruang daya batin yang memuat cipta, rasa, dan karsa. Sukma memang tidak terlihat oleh pandangan lahir, tetapi keberadaannya dapat dikenali melalui pikiran, perasaan, kehendak, serta perilaku manusia. Oleh sebab itu, kebersihan sukma sangat berkaitan dengan bagaimana seseorang mengolah kehidupan batinnya dari hari ke hari.
Cipta merupakan daya untuk berpikir, memahami, menimbang, dan mencari pengetahuan. Cipta memungkinkan manusia mengamati berbagai peristiwa, memahami kenyataan, serta membedakan hal yang patut dan tidak patut. Namun, cipta juga dapat menjadi keruh ketika terikat oleh hawa nafsu, kepentingan, dan keinginan yang tidak terkendali.
Rasa merupakan daya pangrasa yang memungkinkan manusia mengalami kasih, sih, ketenteraman, kesedihan, kebahagiaan, dan berbagai pengalaman batin yang lebih dalam daripada sekadar sensasi raga. Rasa yang bersih dapat membantu manusia memahami sesuatu dengan lebih mendalam, sedangkan rasa yang dikuasai kebencian, keserakahan, atau kepentingan diri dapat mengaburkan pandangan batin.
Karsa merupakan daya kehendak yang mendorong manusia untuk mewujudkan apa yang telah dipikirkan dan dirasakan menjadi tindakan nyata. Karena itu, karsa mempunyai kedudukan penting, sebab pengetahuan dan perasaan yang baik tidak akan memiliki makna yang sempurna apabila tidak diwujudkan melalui laku yang baik.
Di atas keseluruhan proses tersebut terdapat Jatining Panguripan, yang dalam naskah ini ditempatkan sebagai dasar kehidupan manusia.
Raga dapat menua dan akhirnya sirna, sedangkan cipta, rasa, dan karsa dapat mengalami perubahan mengikuti perjalanan hidup, tetapi Jatining Panguripan tetap menjadi dasar dari keberadaan.
Inilah salah satu titik penting hubungan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa, yaitu manusia perlu membedakan antara apa yang berubah dan apa yang menjadi dasar kehidupan, agar tidak keliru menganggap segala sesuatu yang dialami oleh raga, pikiran, perasaan, atau kehendak sebagai keseluruhan jatining diri.
3. Kalenggahaning Janma Manusa.
Setelah memahami asal dan susunan diri, manusia perlu memahami kalenggahannya dalam tatanan kehidupan. Manusia bukan penguasa mutlak atas jagad gumelar, tetapi merupakan salah satu bagian dari jejaring kehidupan yang saling berhubungan dengan sesama, alam, dan Sang Sumber Panguripan.
Karena itu, kehidupan yang utama bukan dibangun melalui penguasaan dan penaklukan, melainkan melalui keselarasan.
Alam memberikan banyak hal yang menopang kehidupan manusia. Tumbuhan memberikan perlindungan dan sumber kehidupan, air memberikan kehidupan, angin memungkinkan manusia bernapas, sedangkan tanah menjadi tempat tumbuh dan berpijak.
Dalam tatanan tersebut manusia diberi budi, cipta, rasa, dan karsa bukan semata-mata agar dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya, melainkan agar mampu menjaga, merawat, dan mengembangkan kebaikan dalam kehidupan.
Di sinilah nilai-nilai yang diuraikan dalam LESTARI Uttamopadesa menjadi relevan sebagai penghayatan terhadap kehidupan yang menempatkan kesadaran dan kejernihan batin sebagai dasar dalam menjalani laku.
Manusia yang memiliki kesadaran akan kedudukannya tidak akan mudah menggunakan kebebasannya secara semaunya sendiri, karena setiap pilihan memiliki akibat dan setiap tindakan menghasilkan buah yang pada akhirnya kembali menjadi bagian dari pengalaman hidup.
Dengan demikian, kebebasan bukan berarti melakukan segala sesuatu berdasarkan keinginan, melainkan memiliki kemampuan untuk memilih tindakan yang utama setelah mempertimbangkan akibatnya bagi diri sendiri, sesama, dan alam.
Kesadaran semacam ini menjadi salah satu bentuk nyata dari kawruh yang telah turun dari cipta menuju rasa, dari rasa menuju karsa, dan dari karsa menuju laku.
4. Ancasing Gesang Manungsa.
Ancasing Gesang merupakan pertanyaan mengenai untuk apa manusia menjalani kehidupan.
Menurut Kawruh Uttamopadesa, tujuan hidup tidak hanya berkaitan dengan kebahagiaan lahir, kedudukan, kekayaan, atau berbagai pencapaian duniawi, karena semua itu dapat berubah mengikuti perjalanan waktu.
Tujuan yang lebih dalam adalah mengupayakan kebenaran, mengembangkan budi, membersihkan cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, serta menjalani kehidupan yang selaras dengan tatanan kehidupan.
Setiap pengalaman hidup dapat menjadi sarana pembelajaran. Kebahagiaan, kesedihan, keberhasilan, kegagalan, maupun berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan dapat menjadi bahan untuk mengembangkan kebijaksanaan apabila manusia mampu melihatnya dengan kesadaran.
Karena itu, ukuran kehidupan tidak hanya terletak pada seberapa nyaman seseorang menjalani hidup, tetapi juga pada seberapa jauh pengalaman tersebut mampu membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih utama.
Dalam pandangan Kawruh Sejati, pengetahuan yang benar seharusnya menghasilkan perubahan dalam diri. Jika seseorang mengetahui banyak hal tetapi cipta semakin dipenuhi kesombongan, rasa semakin kasar, karsa semakin dikuasai kepentingan, dan laku semakin menjauh dari kebajikan, maka pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjadi kawruh yang hidup.
Sebaliknya, apabila pengetahuan membuat seseorang semakin mampu mawas diri, semakin berhati-hati dalam bertindak, semakin menghargai sesama, semakin menjaga alam, dan semakin mampu mengendalikan dorongan yang menyesatkan, maka pengetahuan telah mulai menjadi bagian dari kehidupan.
Inilah hubungan mendasar antara Kawruh Sejati dan LESTARI Uttamopadesa, yaitu menjadikan pengetahuan bukan hanya sebagai bahan pemikiran, tetapi sebagai dasar kesadaran yang membimbing kehidupan.
5. Kasampurnaning Janma.
Kasampurnaning Janma tidak berarti manusia menjadi makhluk yang tidak pernah salah atau menjadi lebih tinggi daripada semua makhluk lainnya. Kasampurnan dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa lebih tepat dipahami sebagai proses ketika manusia semakin mengenali jatining kehidupan, mampu mengolah cipta, menuntun rasa, mengarahkan karsa, serta menjalani kehidupan dengan keselarasan.
Ada perbedaan antara sekadar hidup dan hidup dengan kawruh. Orang dapat menjalani kehidupan bertahun-tahun tanpa sungguh-sungguh memahami untuk apa dirinya hidup, sedangkan orang yang hidup dengan kawruh akan berusaha memahami setiap pengalaman sebagai bagian dari proses pengenalan diri dan pembentukan budi.
Kasampurnan tidak dicapai hanya melalui banyaknya kata, luasnya pengetahuan, atau banyaknya ajaran yang diketahui, tetapi melalui perubahan nyata dalam kehidupan.
Cipta yang semakin jernih, rasa yang semakin halus, karsa yang semakin baik, dan budi yang semakin luhur merupakan tanda bahwa kawruh mulai berakar dalam diri manusia.
Karena itu, Kawruh Sejati dapat dipahami sebagai pengetahuan yang tidak berhenti sebagai konsep, sedangkan Kawruh Uttamopadesa menjadi landasan ajaran mengenai bagaimana manusia memahami asal, susunan, kedudukan, dan tujuan hidupnya. Sementara itu, LESTARI Uttamopadesa dapat ditempatkan sebagai wadah uraian atau wadah pembelajaran, yang menekankan pentingnya kesadaran dan kejernihan batin sebagai dasar dalam menjaga diri dan menjalani kehidupan yang selaras.
Penutup.
Memahami Jatining Janma Manusa pada akhirnya merupakan perjalanan untuk memahami diri secara utuh. Manusia berasal dari Sang Sumber Panguripan, hadir di jagad gumelar dengan raga sebagai piranti kehidupan, memiliki sukma dengan cipta, rasa, dan karsa, serta dibekali budi agar mampu membedakan dan memilih lampah yang utama.
Berangkat dari pemahaman tersebut, manusia kemudian menyadari bahwa dirinya bukan pusat kehidupan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tatanan yang berkaitan dengan sesama, alam, dan Sang Sumber Panguripan.
Oleh sebab itu, tujuan hidup bukan sekadar memperoleh kesenangan dan kekayaan, tetapi mengembangkan budi, membersihkan cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, serta menghasilkan laku yang membawa ketenteraman dan manfaat.
Pada titik inilah Kawruh Sejati, Kawruh Uttamopadesa, dan LESTARI Uttamopadesa bertemu dalam satu arah pemahaman, yaitu bahwa kawruh seharusnya membawa manusia semakin mengenal dirinya, semakin jernih dalam melihat kehidupan, semakin bijaksana dalam menentukan kehendak, dan semakin bertanggung jawab dalam setiap tindakan.
Sebab pada akhirnya, ukuran kedalaman kawruh bukanlah seberapa banyak pengetahuan yang dapat diucapkan, melainkan seberapa jauh pengetahuan tersebut telah menjadi kesadaran, menjadi budi, dan akhirnya menjadi laku yang menghadirkan katentreman, kaselarasan, serta paƩdah bagi kehidupan.
FAQ Wedharan Jatining Janma Manusa.
Apa yang dimaksud dengan Jatining Janma Manusa?
Jatining Janma Manusa adalah pemahaman mengenai hakikat manusia yang tidak hanya dilihat sebagai raga, tetapi sebagai kesatuan kehidupan yang memiliki raga, sukma, cipta, rasa, karsa, dan dasar kehidupan yang lebih dalam.
Dari mana asal manusia menurut Kawruh Uttamopadesa?
Menurut Kawruh Uttamopadesa dalam naskah ini, manusia berasal dari Sang Sumber Panguripan dan kemudian hadir di jagad gumelar untuk menjalani lampah kehidupan.
Apa hubungan Jatining Janma Manusa dengan Kawruh Sejati?
Jatining Janma Manusa menjadi salah satu dasar untuk mengenali diri dan memahami kehidupan, sedangkan Kawruh Sejati menekankan agar pengetahuan tersebut tidak berhenti sebagai pemahaman pikiran, tetapi diwujudkan dalam perubahan budi dan laku.
Apa fungsi cipta, rasa, dan karsa?
Cipta berfungsi sebagai daya untuk berpikir dan memahami, rasa sebagai daya untuk mengalami dan menghayati, sedangkan karsa sebagai daya kehendak yang mendorong manusia mewujudkan pikiran dan perasaannya dalam tindakan.
Apa tujuan utama kehidupan manusia?
Tujuan kehidupan manusia adalah mengupayakan kebenaran, mengembangkan budi, membersihkan cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, dan menjalani kehidupan yang selaras dengan tatanan kehidupan.
Apa hubungan LESTARI Uttamopadesa dengan Jatining Janma Manusa?
LESTARI Uttamopadesa dapat dipahami sebagai bagian dari penghayatan yang menempatkan kesadaran dan kejernihan batin sebagai dasar dalam menjaga diri, mengarahkan cipta, rasa, dan karsa, serta menjalani kehidupan secara selaras dan bermanfaat.
Apa tanda seseorang mulai memahami kawruh sejati?
Salah satu tandanya adalah perubahan dalam laku, yaitu cipta menjadi lebih jernih, rasa semakin halus, karsa semakin baik, budi semakin luhur, serta tindakan semakin mampu menghadirkan ketenteraman, keselarasan, dan manfaat bagi sesama maupun alam.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.