KESADARAN “AKU” YANG SEJATI
Penjelasan awal ... BUKA
Jatining Dhiri adalah kesadaran “Aku” yang sejati, yaitu kesadaran yang menyadari raga, cipta, rasa, karsa, dan seluruh laku kehidupan tanpa menyamakan hakikat dirinya dengan sesuatu yang selalu berubah.
- Kawruh Uttamopadesa -
Dalam perjalanan mengenali diri, manusia sering menganggap apa yang tampak dan dirasakan sebagai dirinya sendiri. Raga disebut “aku”, pikiran disebut “aku”, perasaan disebut “aku”, bahkan kehendak dan tindakan juga disebut “aku”. Padahal, semuanya dapat berubah.
Cipta bisa berubah.
Rasa bisa berganti.
Karsa tidak selamanya luhur.
Raga pun terus berubah mengikuti perjalanan waktu.
Jika demikian, siapakah sebenarnya Diri Sejati? Apakah manusia hanya merupakan raga yang berpikir, merasa, menghendaki, dan bertindak? Ataukah terdapat sesuatu yang lebih mendasar di balik seluruh perubahan tersebut?
Pertanyaan inilah yang mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Jatining Dhiri atau Sejatining Dhiri.
Raga, Cipta, Rasa, Karsa, dan Laku.
Manusia menjalani kehidupan melalui raga. Dengan raga, manusia bergerak, bekerja, berbicara, melihat, mendengar, dan mengalami berbagai keadaan kehidupan.
Namun, raga tidak pernah tetap.
Tubuh mengalami pertumbuhan, menjadi dewasa, menua, lalu mengalami berbagai perubahan. Apa yang dahulu kuat dapat menjadi lemah. Apa yang dahulu sehat dapat mengalami sakit. Bentuk tubuh pun berubah seiring waktu.
Karena itu, raga adalah yang mengalami, tetapi raga bukan keseluruhan dari Diri Sejati.
Di dalam kehidupan terdapat pula cipta, yaitu daya untuk berpikir, memahami, mengingat, menimbang, dan mengenali berbagai hal.
Akan tetapi, cipta juga selalu bergerak. Pemikiran seseorang dapat berubah karena pengalaman, pengetahuan, pembelajaran, maupun keadaan.
Apa yang dahulu dianggap benar dapat dipahami secara berbeda setelah memperoleh kawruh baru.
Maka, cipta adalah yang berpikir, tetapi pikiran yang berubah-ubah tidak dapat begitu saja dianggap sebagai Diri Sejati.
Demikian halnya dengan rasa.
Rasa dapat mengalami kegembiraan, kesedihan, kasih, kecewa, takut, tenang, marah, dan berbagai keadaan lainnya. Rasa dapat berganti sesuai dengan pengalaman dan keadaan yang sedang dihadapi.
Hari ini seseorang dapat merasa bahagia, tetapi esok dapat merasa sedih. Saat ini merasa dekat, kemudian dapat merasa jauh.
Karena rasa senantiasa bergerak, maka rasa adalah yang merasakan, tetapi rasa yang berubah juga bukan keseluruhan dari Diri Sejati.
Kemudian terdapat karsa, yaitu daya untuk menghendaki, memilih, menentukan arah, dan mendorong manusia untuk melakukan sesuatu.
Karsa dapat menjadi luhur, tetapi tidak selamanya luhur. Keinginan manusia dapat berubah. Kehendak yang dahulu baik dapat dipengaruhi kepentingan, nafsu, ketakutan, atau keadaan tertentu.
Karena itu, karsa adalah yang menghendaki, tetapi setiap kehendak belum tentu mencerminkan Diri Sejati.
Semua itu kemudian diwujudkan melalui laku.
Laku adalah tindakan nyata manusia dalam menjalani kehidupan. Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dikehendaki akhirnya dapat terlihat melalui perbuatan.
Dengan demikian:
Raga adalah yang mengalami.
Cipta adalah yang berpikir.
Rasa adalah yang merasakan.
Karsa adalah yang menghendaki.
Laku adalah yang menjalankan.
Namun, apabila semuanya dapat berubah, maka muncul pertanyaan yang lebih dalam:
Siapakah “Aku” yang menyadari semuanya itu?
Siapakah Diri Sejati?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan mengenai nama, pekerjaan, kedudukan, asal-usul, ataupun kepribadian.
Pertanyaan ini mengarah kepada sesuatu yang lebih mendasar:
Siapakah Aku sebelum Aku menyebut diriku sebagai raga, pikiran, rasa, kehendak, atau segala sesuatu yang melekat dalam kehidupan?
Manusia dapat menyadari tubuhnya.
Manusia dapat menyadari pikirannya.
Manusia dapat menyadari perasaannya.
Manusia dapat menyadari kehendaknya.
Manusia bahkan dapat menyadari tindakannya sendiri.
Jika raga dapat disadari, pikiran dapat disadari, rasa dapat disadari, karsa dapat disadari, dan laku dapat disadari, maka terdapat suatu kesadaran yang memungkinkan semua itu dikenali.
Di sinilah pengertian Jatining Dhiri mulai menjadi jelas.
Jatining Dhiri adalah kesadaran “Aku” yang sejati.
Jatining Dhiri bukan sekadar pikiran tentang “Aku”. Bukan pula sebuah gambaran yang dibuat oleh pikiran mengenai siapa diri seseorang.
Jatining Dhiri adalah kesadaran yang menyadari.
Raga dialami dalam kesadaran.
Cipta berlangsung dalam kesadaran.
Rasa dirasakan dalam kesadaran.
Karsa muncul dalam kesadaran.
Laku dijalankan dalam kehidupan yang disadari.
Karena itu, Jatining Dhiri tidak perlu dicari sebagai sesuatu yang berada di suatu tempat tertentu di dalam tubuh. Ia bukan benda yang dapat ditemukan dengan penglihatan lahiriah.
Jatining Dhiri dikenali melalui kejernihan dalam menyadari diri.
Jatining Dhiri dan Sejatining Dhiri.
Jatining Dhiri dapat dipahami sebagai hakikat dari diri, sedangkan Sejatining Dhiri menunjuk pada Diri Sejati.
Dalam pengertian ini, keduanya menunjuk kepada satu pemahaman:
Jatining Dhiri yaiku Sejatining Dhiri, yaiku kesadaran “Aku” kang sejati.
Dalam bahasa Indonesia:
Jatining Dhiri adalah Sejatining Dhiri, yaitu Diri Sejati berupa kesadaran “Aku” yang sejati.
Kesadaran “Aku” yang sejati tidak berarti menjadikan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru sebaliknya.
Semakin seseorang mengenali Jatining Dhiri, semakin ia memahami bahwa raga, pikiran, rasa, dan kehendak dapat berubah. Karena itu, ia tidak mudah melekat pada keadaan yang sedang dialaminya.
Ketika pikirannya jernih, ia tidak menjadi sombong karena merasa paling benar.
Ketika hatinya tenang, ia tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ketika kehendaknya baik, ia tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan mereka yang belum mampu melakukan hal yang sama.
Pengenalan terhadap Diri Sejati justru melahirkan andhap asor, kesabaran, kasih, kebijaksanaan, dan keselarasan dalam laku.
Bukan Melepaskan Raga, Cipta, Rasa, dan Karsa.
Mengenali Jatining Dhiri bukan berarti menolak raga, membuang pikiran, mematikan rasa, atau menghilangkan karsa. Semua itu tetap menjadi bagian penting dari kehidupan manusia.
Raga diperlukan untuk menjalani kehidupan.
Cipta diperlukan untuk memahami.
Rasa diperlukan untuk menghayati.
Karsa diperlukan untuk menentukan arah.
Laku diperlukan untuk mewujudkan semuanya dalam kehidupan nyata.
Yang berubah adalah cara manusia memandangnya.
Sebelum mengenali Diri Sejati, manusia dapat menganggap:
“Aku adalah tubuhku.”
Kemudian:
“Aku adalah pikiranku.”
Atau:
“Aku adalah perasaanku.”
Bahkan:
“Aku adalah keinginanku.”
Setelah mawas dhiri semakin dalam, manusia mulai memahami bahwa semua itu merupakan bagian dari pengalaman diri, tetapi tidak seluruhnya dapat disebut sebagai hakikat “Aku”.
Dengan demikian, manusia tidak lagi sepenuhnya terseret oleh perubahan yang berlangsung di dalam dirinya.
Ketika marah, ia menyadari kemarahan.
Ketika sedih, ia menyadari kesedihan.
Ketika pikirannya berubah, ia menyadari perubahan itu.
Ketika kehendaknya muncul, ia mampu melihatnya sebelum menjadikannya tindakan.
Kesadaran seperti inilah yang membuat manusia memiliki ruang untuk memilih laku yang lebih selaras.
Jatining Dhiri Dikenali Melalui Laku.
Jatining Dhiri tidak cukup dipahami sebagai gagasan. Seseorang dapat berbicara panjang tentang kesadaran, tetapi jika kehidupannya masih dipenuhi kesombongan, kebencian, ketamakan, dan ketidakselarasan, maka kawruh tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.
Kawruh yang sejati semestinya memberikan perubahan dalam kehidupan. Ketika cipta semakin wening, cara berpikir menjadi lebih jernih. Ketika rasa semakin tulus, hubungan dengan sesama menjadi lebih penuh kasih. Ketika karsa semakin utama, kehendak tidak hanya mengejar kepentingan diri. Ketika laku semakin selaras, kehidupan menjadi lebih tertata dan berguna.
Karena itu, pengenalan terhadap Jatining Dhiri bukanlah pengakuan bahwa seseorang telah mencapai tingkat tertentu. Justru semakin mengenali Diri Sejati, seseorang semakin memahami bahwa kawruh masih harus diwujudkan dalam setiap laku kehidupan.
Jatining Dhiri sebagai Puncak Nawa Pangawikaning Dhiri.
Dalam Nawa Pangawikaning Dhiri, yang telah di bahas dalam LESTARI Uttamopadesa ini, pengenalan terhadap Jatining Dhiri ditempatkan sebagai tataran terakhir.
Namun, “terakhir” bukan berarti segala sesuatu telah selesai. Tataran ini merupakan buah dari seluruh proses mawas dhiri.
Manusia terlebih dahulu mengenali berbagai unsur dalam dirinya. Ia melihat raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, berbagai penghalang, serta keselarasan dalam kehidupan.
Dari pengenalan tersebut, tumbuh kejernihan. Manusia mulai membedakan antara apa yang berubah dengan kesadaran yang menyadari perubahan.
Pada titik inilah Jatining Dhiri mulai dikenali.
Ia bukan sesuatu yang baru muncul.
Yang berubah adalah kejernihan manusia dalam menyadarinya.
Karena itu, Jatining Dhiri tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia dikenali melalui kedalaman mawas dhiri, melalui cipta yang wening, rasa yang bening, karsa yang utama, dan laku yang selaras.
Penutup.
Pada akhirnya, pertanyaan “Siapakah Diri Sejati?” tidak dapat dijawab hanya dengan menyebut nama, tubuh, pikiran, perasaan, keinginan, ataupun peran kehidupan.
Raga berubah.
Cipta berubah.
Rasa berganti.
Karsa juga dapat berubah.
Laku pun berubah mengikuti keadaan.
Namun manusia tetap dapat menyadari seluruh perubahan tersebut.
Maka, Jatining Dhiri adalah kesadaran “Aku” yang sejati—kesadaran yang menyadari raga, cipta, rasa, karsa, dan seluruh laku kehidupan tanpa terseret sepenuhnya oleh perubahan yang terjadi di dalamnya.
Jatining Dhiri itulah yang disebut Diri Sejati atau Sejatining Dhiri.
Mengenalinya bukan berarti menemukan sesuatu yang jauh, melainkan semakin jernih menyadari keberadaan “Aku” di tengah seluruh perubahan kehidupan.
Pada akhirnya, ukuran pengenalan tersebut bukanlah seberapa dalam seseorang mampu berbicara tentang Diri Sejati, melainkan seberapa wening cipta, bening rasa, utama karsa, dan selaras laku kehidupannya.
Sebab kawruh yang sejati bukan hanya membuat manusia mengetahui dirinya, tetapi membuat manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan sadar, bijaksana, penuh kasih, dan selaras dengan Tatananing Panguripan.
FAQ Jatining Dhiri Janma Manungsa.
1. Apa yang dimaksud dengan Jatining Dhiri?
Jatining Dhiri adalah kesadaran “Aku” yang sejati, yaitu kesadaran yang menyadari raga, cipta, rasa, karsa, dan seluruh laku kehidupan tanpa menyamakan hakikat dirinya dengan sesuatu yang selalu berubah.
2. Apakah Jatining Dhiri sama dengan Diri Sejati?
Ya. Dalam kerangka pemikiran ini, Jatining Dhiri, Sejatining Dhiri, dan Diri Sejati menunjuk pada pengertian yang sama, yaitu kesadaran “Aku” yang sejati.
3. Apakah Jatining Dhiri adalah raga?
Bukan. Raga adalah bagian dari kehidupan yang mengalami perubahan. Raga dapat disadari, tetapi Jatining Dhiri adalah kesadaran “Aku” yang menyadari raga tersebut.
4. Apakah Jatining Dhiri adalah pikiran?
Bukan. Cipta atau pikiran dapat berubah mengikuti pengalaman dan kawruh. Jatining Dhiri bukan isi pikiran, melainkan kesadaran yang menyadari muncul dan berubahnya pikiran.
5. Apakah Jatining Dhiri adalah rasa?
Bukan. Rasa dapat berganti sesuai keadaan. Jatining Dhiri adalah kesadaran yang mampu menyadari berbagai perubahan rasa tanpa sepenuhnya terseret olehnya.
6. Apakah Jatining Dhiri berarti tidak memiliki keinginan?
Tidak. Manusia tetap memiliki karsa. Yang berubah adalah kesadarannya terhadap karsa. Dengan mengenali Jatining Dhiri, manusia diharapkan mampu menata kehendak sehingga semakin utama dan selaras.
7. Bagaimana cara mengenali Jatining Dhiri?
Jatining Dhiri dikenali melalui mawas dhiri, dengan mengamati raga, cipta, rasa, karsa, dan laku secara jernih. Proses tersebut menumbuhkan cipta yang wening, rasa yang bening, karsa yang utama, dan laku yang selaras.
8. Apakah mengenali Jatining Dhiri berarti meninggalkan kehidupan?
Tidak. Justru sebaliknya. Pengenalan terhadap Diri Sejati semestinya membuat manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan sadar, bijaksana, berguna, dan selaras dengan Tatananing Panguripan.
9. Apa tanda seseorang mulai mengenali Jatining Dhiri?
Tandanya bukan pengakuan bahwa dirinya telah mencapai sesuatu, melainkan perubahan laku: semakin rendah hati, tidak mudah terseret perubahan batin, semakin mampu menjaga kejernihan, tumbuh kasih, dan semakin menjaga keselarasan dengan kehidupan.
10. Mengapa Jatining Dhiri disebut tataran terakhir Nawa Pangawikaning Dhiri?
Karena pengenalan terhadap Jatining Dhiri merupakan buah dari keseluruhan proses mengenali diri. Setelah berbagai unsur diri dipahami, manusia sampai pada pertanyaan paling mendasar: siapakah “Aku” yang menyadari semuanya itu? Dari sinilah pengenalan terhadap Diri Sejati muncul.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.