NAWA PRATANDHA CETANA WENING

nawa pratandha cetana wening
Sembilan Tanda Cetana Wening

Nawa Pratandha Cetana Wening merupakan pembahasan mengenai sembilan tanda kesadaran yang mulai mencapai keadaan bening dalam memahami diri, keadaan, dan kehidupan. Istilah nawa berarti sembilan, pratandha berarti tanda atau ciri, cetana berarti kesadaran, sedangkan wening berarti bening, jernih, tidak keruh, dan tidak banyak tertutup oleh dorongan yang mengaburkan pandangan.

Jika Cetana Kaiket menggambarkan kesadaran yang masih mudah terikat, sedangkan Cetana Waspada menggambarkan kesadaran yang mulai mampu mengenali keterikatan tersebut, maka Cetana Wening menunjukkan tahap ketika kewaspadaan mulai menghasilkan kejernihan.

Pembahasan ini merupakan bagian dari rangkaian Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa yang sudah ditulis di blog LESTARI Uttamopadesa ini.

Dalam rangkaian tersebut, perkembangan kesadaran dipahami melalui kemampuan seseorang mengenali keadaan dirinya, mengamati gerak cipta, rasa, dan karsa, serta perlahan membebaskan diri dari berbagai hal yang mengaburkan pandangan terhadap kasunyatan.

Wening bukan berarti tidak memiliki pikiran, rasa, atau keinginan. Wening juga bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami marah, sedih, kecewa, atau senang. Keadaan wening lebih berkaitan dengan kemampuan untuk mengalami semua itu tanpa membiarkan semuanya mengeruhkan kesadaran.

Kesadaran yang wening mampu melihat pikiran sebagai pikiran, rasa sebagai rasa, dan keinginan sebagai keinginan. Semuanya dikenali, tetapi tidak serta-merta dijadikan penguasa diri.

Dengan demikian, Cetana Wening bukan sekadar keadaan tenang. Ia merupakan kejernihan dalam melihat dan memahami.

1. Tidak Mudah Terpengaruh oleh Pandangan Orang Lain.
Tanda pertama Cetana Wening adalah kemampuan menerima pandangan orang lain tanpa kehilangan kejernihan diri.

Seseorang tetap mau mendengarkan nasihat, pendapat, kritik, maupun penilaian dari orang lain. Namun, semua itu tidak langsung menentukan apa yang harus dipercayai atau dilakukan.

Ia mampu mengambil sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai tanpa didorong oleh rasa suka atau tidak suka.

Pada Cetana Kaiket, pandangan orang lain mudah mengikat. Pada Cetana Waspada, pengaruh tersebut mulai dikenali. Sedangkan pada Cetana Wening, pengaruh dapat dilihat dengan lebih jernih sehingga tidak mudah menguasai cipta.

Kejernihan semacam ini membuat seseorang tidak perlu selalu mencari pembenaran dari luar. Ia dapat mendengarkan tanpa kehilangan pusat kesadarannya sendiri.

2. Tidak Mudah Goyah oleh Perubahan Keadaan
Tanda kedua adalah kemampuan menjaga kejernihan ketika keadaan berubah. Kehidupan selalu bergerak. Ada keberhasilan dan kegagalan, keuntungan dan kehilangan, pujian dan celaan, kedatangan dan kepergian. Kesadaran yang masih terikat mudah berubah mengikuti semuanya.

Cetana Wening mulai memiliki ketenangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan luar.

Ketika memperoleh sesuatu, ia dapat bersyukur tanpa menjadi berlebihan. Ketika kehilangan sesuatu, ia dapat merasakan kesedihan tanpa kehilangan seluruh kejernihan.

Hal ini bukan berarti menjadi tidak peduli. Justru karena kesadarannya lebih jernih, ia dapat menghadapi keadaan dengan lebih tepat.

Keadaan berubah, tetapi kejernihan tidak harus ikut menjadi keruh.

3. Mampu Melihat Pendapat Tanpa Terikat oleh Keakuan.
Tanda ketiga adalah kemampuan melihat pendapat sendiri tanpa menjadikannya sebagai bagian dari harga diri yang harus selalu dipertahankan.

Seseorang dapat memiliki pendirian yang kuat, tetapi tidak harus merasa bahwa dirinya selalu benar.

Ketika menemukan alasan yang lebih baik, ia mampu memperbaiki pendapat. Ketika mengetahui bahwa pemahamannya kurang tepat, ia tidak merasa kehilangan martabat karena mengakuinya.

Keadaan ini menunjukkan bahwa cipta mulai bebas dari kebutuhan untuk selalu menang.
Perbedaan pendapat tidak lagi semata-mata dipandang sebagai pertentangan.

Perbedaan dapat menjadi jalan untuk melihat sesuatu dari sudut yang sebelumnya belum diketahui.

Cipta yang wening tidak membutuhkan kemenangan untuk membuktikan kebenaran.

4. Rasa Tidak Lagi Mudah Mengaburkan Pandangan.
Tanda keempat adalah rasa tetap hadir, tetapi tidak lagi mudah mengeruhkan pandangan. Kesedihan tetap dapat dirasakan. Kegembiraan tetap dapat dinikmati. Kemarahan tetap dapat muncul. Namun, rasa tersebut tidak langsung mengambil alih seluruh kesadaran.

Seseorang mulai mampu merasakan tanpa kehilangan kemampuan melihat. Ketika marah, ia masih dapat mengetahui bahwa dirinya sedang marah. Ketika kecewa, ia masih mampu melihat keadaan di luar rasa kecewanya. Ketika bahagia, ia tidak kehilangan kewaspadaan hanya karena sedang mengalami kesenangan.

Inilah salah satu perbedaan penting antara rasa yang menguasai kesadaran dan rasa yang berada dalam kesadaran.

Wening bukan menghilangkan rasa, melainkan tidak membiarkan rasa menutup pandangan.

5. Karsa Mulai Bergerak dari Pertimbangan yang Jernih.
Tanda kelima adalah kehendak yang mulai bergerak bukan semata-mata karena dorongan keinginan.

Keinginan masih dapat muncul, tetapi seseorang mulai mampu membedakan antara apa yang diinginkan dengan apa yang memang perlu dilakukan.

Ia tidak lagi selalu bertanya, “Apa yang aku inginkan?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang semestinya dilakukan dalam keadaan ini?”

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa karsa mulai memiliki dasar yang lebih jernih.

Kehendak tidak lagi sekadar mengejar kesenangan, pengakuan, kemenangan, atau keuntungan pribadi. Ia mulai mempertimbangkan akibat, kepantasan, dan keselarasan antara tindakan dengan pemahaman yang dimiliki.

Karsa yang wening bukan karsa yang kehilangan daya. Justru kehendak menjadi lebih terarah karena tidak terus-menerus ditarik oleh keinginan yang berubah-ubah.

6. Cipta, Rasa, dan Karsa Mulai Selaras.
Tanda keenam adalah semakin selarasnya cipta, rasa, dan karsa. Apa yang diketahui tidak terlalu bertentangan dengan apa yang dirasakan. Apa yang dirasakan tidak selalu bertentangan dengan apa yang hendak dilakukan. Kehendak pun tidak bergerak berlawanan dengan pemahaman yang telah dimiliki.

Keselarasan tersebut membuat laku menjadi lebih tetap.

Seseorang tidak hanya mengetahui kebaikan secara pikiran, tetapi mulai mampu merasakannya dan mewujudkannya dalam tindakan.

Demikian pula ketika mengetahui sesuatu yang tidak tepat, ia tidak terus-menerus mencari alasan untuk melakukannya hanya karena menguntungkan dirinya.

Cipta memberikan arah, rasa memberikan kepekaan, dan karsa mewujudkannya dalam laku. Ketiganya mulai berjalan dalam keselarasan.

7. Pamrih Mulai Menipis.
Tanda ketujuh adalah berkurangnya pamrih dalam laku. Pada tahap ini, seseorang mulai dapat melakukan sesuatu tanpa selalu membutuhkan pujian, penghargaan, pengakuan, atau balasan.

Ia tidak berarti sama sekali tidak senang ketika mendapat penghargaan. Namun, penghargaan tersebut tidak lagi menjadi alasan utama untuk berbuat.

Laku baik dilakukan karena memang dipandang baik, bukan semata-mata agar dirinya dianggap baik.

Keadaan ini menunjukkan adanya perubahan dalam hubungan antara diri dan pengakuan dari luar.

Seseorang mulai memahami bahwa nilai sebuah laku tidak selalu ditentukan oleh apakah orang lain mengetahui atau memujinya.

Semakin tipis pamrih, semakin ringan gerak kesadaran.

8. Mawas Diri Menjadi Kebiasaan.
Tanda kedelapan adalah mawas diri tidak lagi hanya dilakukan ketika menghadapi masalah.
Mawas diri mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Seseorang memperhatikan bagaimana dirinya berbicara, berpikir, merasa, dan bertindak. Ia dapat melihat ketika keakuan mulai muncul, ketika rasa mulai mengeras, ketika keinginan mulai berlebihan, atau ketika pamrih mulai menyusup ke dalam laku.

Namun, mawas diri tidak dilakukan dengan kebencian terhadap diri sendiri. Ia melihat kekurangan tanpa merendahkan diri. Ia melihat kelebihan tanpa membanggakan diri. Ia melihat kesalahan tanpa terus-menerus menyiksa diri dengan penyesalan.

Mawas diri yang wening adalah kemampuan melihat diri dengan jujur dan tenang.

9. Mulai Mampu Melihat Kasunyatan dengan Lebih Jernih.
Tanda kesembilan adalah kemampuan melihat kasunyatan tanpa terlalu banyak ditutupi oleh kepentingan pribadi.
Seseorang mulai mampu membedakan antara apa yang terjadi dengan apa yang ia harapkan terjadi.

Ia dapat membedakan antara kenyataan dengan penilaiannya sendiri, antara peristiwa dengan reaksinya terhadap peristiwa, serta antara kebutuhan dengan keinginannya.

Hal ini membuat pandangannya terhadap kehidupan menjadi lebih jernih.

Kasunyatan tidak selalu sesuai dengan keinginan. Namun, ketidaksesuaian tersebut tidak lagi menjadi alasan untuk memutarbalikkan kenyataan agar sesuai dengan kehendak diri.

Kesadaran yang wening belajar menerima kenyataan sebagaimana adanya, kemudian menentukan laku yang tepat berdasarkan kejernihan tersebut.

Dari Waspada Menuju Wening.
Perbedaan antara Cetana Waspada dan Cetana Wening terletak pada kedalaman kesadaran dalam mengamati dan memahami.

Pada Cetana Kaiket, seseorang mudah terseret.

Pada Cetana Waspada, seseorang mulai menyadari bahwa dirinya sedang terseret.

Pada Cetana Wening, seseorang mulai mampu melihat dorongan tersebut dengan lebih jernih sehingga tidak mudah terseret.

Dengan kata lain:
Cetana Kaiket → mudah terikat.
Cetana Waspada → menyadari keterikatan.
Cetana Wening → melihat keterikatan dengan jernih dan tidak mudah dikuasainya.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kesadaran bukan sekadar bertambahnya pengetahuan. Yang berubah adalah cara seseorang berhubungan dengan apa yang terjadi di dalam dirinya.

Ia tidak lagi sepenuhnya menjadi pelaku yang terseret oleh dorongan, tetapi mulai mampu menjadi pengamat terhadap gerak dirinya sendiri.

Wening Bukan Berarti Kosong dari Rasa.
Kesalahpahaman yang mungkin muncul adalah menganggap wening sebagai keadaan tanpa rasa, tanpa keinginan, atau tanpa persoalan.

Padahal wening tidak berarti kosong. Air yang bening tetap merupakan air. Yang membedakannya adalah tidak banyak kotoran yang mengaburkan pandangan ke dalamnya.

Demikian pula kesadaran yang wening tetap memiliki pikiran, rasa, dan kehendak. Namun, semuanya tidak terlalu dipenuhi oleh keakuan, pamrih, prasangka, dan dorongan yang membuat pandangan menjadi keruh.

Karena itu, seseorang yang wening bukan berarti tidak pernah marah, tidak pernah sedih, atau tidak pernah memiliki keinginan.

Yang semakin berubah adalah kemampuannya untuk mengenali semua itu dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya dasar dalam melihat kehidupan.

Wening dalam Kehidupan Sehari-hari
Cetana Wening tidak hanya dapat dikenali ketika seseorang sedang melakukan perenungan. Ia justru dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mendapat kritik, ia mampu mendengarkan tanpa langsung merasa direndahkan.

Ketika mendapat pujian, ia mampu menerimanya tanpa merasa dirinya lebih tinggi.

Ketika menghadapi perbedaan pendapat, ia mampu mempertahankan pemahaman tanpa harus merendahkan orang lain.

Ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia mampu menerima keadaan tanpa kehilangan arah.

Ketika melakukan kesalahan, ia mampu mengakuinya tanpa harus mencari kambing hitam.

Dan ketika melakukan kebaikan, ia tidak selalu membutuhkan orang lain untuk mengetahuinya.

Hal-hal sederhana tersebut menjadi tempat kesadaran menunjukkan kejernihannya.

Penutup.
Nawa Pratandha Cetana Wening menunjukkan sembilan tanda kesadaran yang mulai menjadi bening dalam melihat diri dan kehidupan.

Kesadaran mulai tidak mudah dipengaruhi oleh pandangan orang lain, tidak mudah goyah oleh keadaan, tidak terlalu terikat pada pendapat sendiri, tidak membiarkan rasa mengaburkan pandangan, mampu mengarahkan karsa dengan lebih jernih, mulai menyelaraskan cipta-rasa-karsa, mengurangi pamrih, menjadikan mawas diri sebagai kebiasaan, dan semakin mampu melihat kasunyatan sebagaimana adanya.

Dalam rangkaian Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa yang ditulis di blog LESTARI Uttamopadesa ini, Cetana Wening dapat dipahami sebagai perkembangan dari kewaspadaan menuju kejernihan.

Waspada membuat seseorang mengetahui apa yang sedang terjadi.

Wening membuat seseorang mampu melihatnya dengan lebih jernih.

Keduanya saling berhubungan. Tanpa kewaspadaan, kejernihan sulit dipelihara.

Tanpa kejernihan, kewaspadaan dapat berubah menjadi ketegangan dan kekhawatiran.

Karena itu, Cetana Wening bukan keadaan ketika kehidupan telah terbebas dari persoalan. Kehidupan tetap berjalan dengan segala perubahan dan tantangannya. Yang berubah adalah cara kesadaran menghadapinya.

Kesadaran yang wening tidak harus menunggu keadaan menjadi sempurna untuk menjadi jernih. Justru di tengah keadaan yang berubah, ia belajar menjaga kejernihan.

Pada akhirnya, wening bukan sekadar ketenangan, melainkan kemampuan melihat tanpa terlalu banyak kabut yang berasal dari keakuan, keinginan, pamrih, dan penilaian yang tergesa-gesa.

Semakin bening kesadaran, semakin jelas sesuatu dapat dilihat.

Semakin jelas sesuatu dilihat, semakin tepat seseorang menentukan laku.

Dan semakin tepat laku dijalankan, semakin selaras cipta, rasa, dan karsa dalam menjalani kehidupan.

FAQ Nawa Pratandha Cetana Wening.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Pratandha Cetana Wening?
Nawa Pratandha Cetana Wening adalah sembilan tanda kesadaran yang mulai berada dalam keadaan bening dan jernih dalam melihat diri, keadaan, serta kehidupan.

Apa perbedaan Cetana Wening dengan Cetana Waspada?
Cetana Waspada menekankan kemampuan menyadari dan mengamati gerak batin, sedangkan Cetana Wening menunjukkan tahap ketika kesadaran mulai mampu melihat gerak tersebut dengan lebih jernih sehingga tidak mudah dikuasai olehnya.

Apakah Cetana Wening berarti tidak memiliki emosi?
Tidak. Cetana Wening bukan keadaan tanpa rasa. Emosi tetap dapat muncul, tetapi kesadaran tidak mudah membiarkan emosi mengaburkan pandangan atau menentukan seluruh tindakan.

Apakah orang yang wening tidak pernah marah?
Tidak demikian. Kemarahan masih mungkin muncul. Yang membedakan adalah kemampuan menyadari kemarahan tersebut sehingga tidak langsung menjadikannya dasar untuk berbicara atau bertindak.

Mengapa cipta, rasa, dan karsa harus selaras?
Karena ketiganya memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan. Cipta memberikan pemahaman, rasa memberikan kepekaan, sedangkan karsa mendorong tindakan. Ketika ketiganya selaras, laku menjadi lebih utuh dan tidak mudah berubah-ubah.

Apa hubungan Cetana Wening dengan pamrih?
Kesadaran yang semakin wening mulai mengenali dan mengurangi pamrih dalam laku. Perbuatan tidak lagi semata-mata dilakukan untuk mendapatkan pujian, pengakuan, keuntungan, atau balasan.

Apakah Cetana Wening berarti sudah mencapai kesempurnaan?
Tidak. Wening menunjukkan kejernihan yang semakin berkembang, bukan klaim bahwa seseorang telah sempurna. Kesadaran tetap perlu dipelihara melalui mawas diri dan laku yang terus-menerus.

Apa hubungan Cetana Wening dengan kasunyatan?
Cetana Wening membantu seseorang melihat kenyataan dengan lebih sedikit pengaburan dari keinginan, keakuan, pamrih, dan penilaian pribadi. Karena itu, kemampuan melihat kasunyatan dengan lebih jernih menjadi salah satu tanda penting Cetana Wening.

Komentar