Sembilan Tanda Tataran Cetana Mantep
Nawa Pratandha Cetana Mantep merupakan pembahasan mengenai sembilan tanda kesadaran yang mulai memiliki kemantapan dalam memahami diri, menghadapi keadaan, menentukan sikap, dan menjalankan laku. Istilah nawa berarti sembilan, pratandha berarti tanda atau ciri, cetana berarti kesadaran, sedangkan mantep berarti mantap, teguh, kukuh, dan tidak mudah goyah.
Jika Cetana Kaiket menggambarkan kesadaran yang masih mudah terikat, Cetana Waspada menunjukkan kesadaran yang mulai mengenali keterikatan, dan Cetana Wening menunjukkan kesadaran yang mulai mampu melihat dengan bening, maka Cetana Mantep menggambarkan keadaan ketika kejernihan tersebut mulai menjadi dasar yang teguh dalam kehidupan.
Pembahasan ini merupakan bagian dari rangkaian Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa yang ditulis di LESTARI Uttamopadesa.
Dalam rangkaian ini, perkembangan kesadaran tidak hanya dilihat dari kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu, tetapi juga dari bagaimana pemahaman tersebut menjadi sikap dan laku yang semakin ajeg.
Kemantapan tidak berarti keras kepala. Teguh tidak berarti tidak mau mendengar. Mantep bukan berarti merasa diri paling benar. Justru kemantapan yang lahir dari kejernihan membuat seseorang dapat menerima pandangan lain tanpa kehilangan pendirian, menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah, dan menjalankan kebaikan tanpa selalu menunggu pengakuan.
Cetana Mantep merupakan kesadaran yang mulai memiliki pusat pijakan di dalam dirinya. Ia tidak mudah berubah hanya karena pujian, celaan, keuntungan, kerugian, atau perubahan keadaan.
1. Tidak Mudah Goyah oleh Pengaruh.
Tanda pertama Cetana Mantep adalah tidak mudah goyah oleh pengaruh dari luar. Seseorang tetap dapat mendengarkan pendapat orang lain, menerima nasihat, dan mempertimbangkan kritik.
Namun, pendapat tersebut tidak langsung membuatnya berubah arah tanpa alasan yang jelas.
Kemantapan bukan berarti menolak perubahan. Jika ditemukan pemahaman yang lebih tepat, ia mampu memperbaiki pendiriannya. Yang tidak mudah berubah adalah keteguhan untuk mencari dan menjalankan sesuatu yang dipandang benar setelah melalui pertimbangan yang jernih.
Karena itu, Cetana Mantep berbeda dengan keras kepala. Keras kepala mempertahankan pendapat karena keakuan, sedangkan kemantapan mempertahankan pendirian karena kejernihan dan pertimbangan.
2. Tetap Teguh di Tengah Perubahan Keadaan.
Tanda kedua adalah kemampuan menjaga arah ketika keadaan berubah. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada keberhasilan dan kegagalan, kedatangan dan kehilangan, kemudahan dan kesulitan.
Kesadaran yang belum mantap mudah berubah mengikuti semuanya.
Cetana Mantep mulai mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan pegangan.
Ketika keadaan baik, ia tidak berlebihan dalam kegembiraan hingga melupakan kewaspadaan. Ketika keadaan buruk, ia tidak segera kehilangan harapan atau meninggalkan prinsip yang diyakininya.
Kemantapan membuat seseorang mampu berkata dalam dirinya bahwa keadaan boleh berubah, tetapi arah hidup tidak harus berubah setiap kali keadaan berubah.
3. Pendapat Tidak Mudah Dikuasai Keakuan.
Tanda ketiga adalah mampu memiliki pendirian tanpa dikuasai keakuan. Seseorang yang mantap dapat mengatakan bahwa dirinya memiliki pandangan tertentu, tetapi tidak merasa harus memaksa semua orang memiliki pandangan yang sama.
Ia tidak menganggap perubahan pendapat sebagai kekalahan. Jika menemukan alasan yang lebih kuat, ia dapat mengubah pemahamannya tanpa merasa harga dirinya runtuh.
Hal tersebut merupakan bentuk kemantapan yang sehat. Yang dipertahankan bukan ego, melainkan ketulusan dalam mencari sesuatu yang benar dan tepat.
Dengan demikian, semakin mantap kesadaran, semakin kecil kebutuhan untuk memenangkan perdebatan hanya demi membuktikan diri.
4. Rasa Tidak Mudah Mengubah Arah Laku.
Tanda keempat adalah rasa tidak lagi mudah menentukan seluruh arah tindakan. Perasaan tetap hadir, tetapi tidak selalu menjadi penguasa keputusan.
Ketika mendapat pujian, seseorang tidak langsung merasa dirinya paling baik. Ketika mendapat celaan, ia tidak langsung merasa dirinya paling buruk.
Ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan, ia mampu menjaga sikap agar tidak segera berubah menjadi tindakan yang disesali.
Kemantapan bukan berarti tidak merasakan apa pun. Justru rasa dapat hadir secara utuh tanpa harus menguasai karsa.
Seseorang dapat merasa kecewa tetapi tetap menjalankan hal yang perlu dilakukan. Ia dapat merasa takut tetapi tetap berani melakukan sesuatu yang dipandang benar. Ia dapat merasa sedih tetapi tidak kehilangan arah hidup.
Inilah tanda bahwa rasa mulai berada dalam keselarasan dengan kesadaran yang lebih jernih.
5. Karsa Teguh pada Laku yang Dipandang Benar
Tanda kelima adalah karsa yang semakin teguh menjalankan laku yang telah dipertimbangkan dengan jernih.
Mengetahui sesuatu yang baik belum tentu membuat seseorang mampu melakukannya secara konsisten. Banyak hal dapat membuat seseorang berhenti di tengah jalan: rasa malas, godaan, keinginan sesaat, penilaian orang lain, atau keadaan yang tidak mendukung.
Cetana Mantep mulai memiliki kemampuan untuk tetap menjalankan sesuatu yang dipandang tepat meskipun tidak selalu mudah.
Ia tidak selalu membutuhkan dorongan dari luar untuk melakukan hal yang telah diyakininya perlu dilakukan.
Karsa menjadi lebih ajeg karena tidak terus-menerus ditarik oleh keinginan yang berubah-ubah.
6. Cipta, Rasa, dan Karsa Semakin Selaras.
Tanda keenam adalah semakin kuatnya keselarasan antara cipta, rasa, dan karsa.
Cipta memahami arah. Rasa mampu menerima dan menghayati. Karsa kemudian menjalankan.
Ketiganya tidak lagi terlalu sering saling bertentangan.
Seseorang yang memahami bahwa sebuah tindakan baik perlu dilakukan, mulai mampu menerimanya dalam rasa dan mewujudkannya dalam laku.
Sebaliknya, ketika mengetahui bahwa sesuatu tidak tepat, ia semakin mampu menahan kehendak meskipun ada keinginan untuk melakukannya.
Keselarasan tersebut membuat seseorang menjadi lebih ajeg. Perkataannya lebih dekat dengan tindakannya, pemahamannya lebih dekat dengan lakunya, dan kehendaknya tidak mudah berubah hanya karena dorongan sesaat.
7. Laku Tidak Bergantung pada Pujian
Tanda ketujuh adalah semakin tidak bergantungnya laku pada pengakuan orang lain.
Seseorang yang belum mantap mungkin membutuhkan pujian agar terus berbuat baik. Ketika tidak mendapatkan penghargaan, semangatnya berkurang.
Cetana Mantep mulai mampu melakukan sesuatu karena memahami bahwa hal tersebut memang perlu dilakukan.
Pujian boleh diterima dengan wajar, tetapi tidak menjadi sumber utama kemauan untuk berbuat.
Demikian pula celaan tidak langsung membuat seseorang meninggalkan laku yang benar.
Kemantapan menjadikan nilai sebuah laku tidak sepenuhnya bergantung pada apakah orang lain melihat, memuji, atau menghargainya.
8. Mawas Diri Tanpa Kehilangan Keteguhan.
Tanda kedelapan adalah mampu melakukan mawas diri tanpa kehilangan kemantapan.
Mawas diri diperlukan agar seseorang tidak terjebak dalam rasa paling benar. Namun, mawas diri juga tidak berarti setiap saat meragukan dirinya sendiri.
Cetana Mantep mampu memeriksa diri sekaligus tetap memiliki pegangan.
Ketika menemukan kesalahan, ia memperbaikinya. Ketika menemukan kekurangan, ia membenahinya. Ketika menemukan bahwa suatu pemahaman perlu diubah, ia mengubahnya.
Namun setelah melalui pemeriksaan tersebut, ia tidak terus-menerus hidup dalam keraguan.
Kemantapan lahir bukan dari keyakinan bahwa diri tidak pernah salah, melainkan dari kesediaan untuk terus memperbaiki diri tanpa kehilangan arah.
9. Mampu Menjalani Kasunyatan dengan Teguh.
Tanda kesembilan adalah kemampuan menghadapi kasunyatan tanpa terus-menerus menuntut agar kenyataan sesuai dengan keinginan.
Kesadaran yang mantap mulai mampu menerima bahwa kehidupan memiliki hal-hal yang tidak dapat dipaksakan.
Ada sesuatu yang dapat diubah dan ada sesuatu yang harus diterima. Ada keadaan yang dapat diperbaiki dan ada keadaan yang hanya dapat dihadapi dengan sikap yang tepat.
Cetana Mantep tidak berarti pasrah tanpa laku. Ia justru mampu membedakan kapan harus bertindak dan kapan harus menerima.
Ketika sesuatu masih dapat diperbaiki, ia bertindak. Ketika sesuatu berada di luar kuasanya, ia tidak menghabiskan seluruh tenaga untuk melawan kenyataan yang tidak dapat diubah.
Kemampuan tersebut membuat kesadaran menjadi lebih kukuh dalam menghadapi kehidupan.
Mantep Bukan Keras Kepala.
Kemantapan sering kali disalahartikan sebagai keteguhan mempertahankan pendapat dalam segala keadaan. Padahal, kemantapan dan keras kepala memiliki dasar yang berbeda.
Keras kepala bertahan karena keakuan.
Kemantapan bertahan karena kejernihan.
Keras kepala sulit menerima koreksi karena merasa dirinya harus selalu benar. Kemantapan mampu menerima koreksi apabila koreksi tersebut memang membawa pemahaman yang lebih tepat.
Keras kepala takut berubah. Kemantapan tidak takut berubah selama perubahan tersebut lahir dari pertimbangan yang lebih jernih.
Karena itu, seseorang yang mantap tidak harus selalu mengatakan, “Aku benar.” Ia justru mampu mengatakan, “Setelah kupahami dan kutimbang, inilah yang menurutku tepat,” sambil tetap membuka ruang untuk belajar.
Dari Wening Menuju Mantep.
Hubungan antara tiga tahap sebelumnya dapat dilihat sebagai perkembangan yang berkesinambungan.
Cetana Kaiket adalah kesadaran yang mudah terseret.
Cetana Waspada adalah kesadaran yang mulai menyadari ketika dirinya terseret.
Cetana Wening adalah kesadaran yang mulai melihat keterikatan dengan jernih.
Cetana Mantep adalah kesadaran yang mulai menjadikan kejernihan tersebut sebagai pijakan yang teguh dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian, wening dan mantep memiliki hubungan yang erat.
Kejernihan tanpa kemantapan dapat membuat seseorang mengetahui banyak hal tetapi mudah kembali goyah.
Sebaliknya, kemantapan tanpa kejernihan dapat berubah menjadi kekakuan atau keras kepala.
Karena itu, kemantapan yang baik perlu berdiri di atas kejernihan.
Mantep dalam Kehidupan Sehari-hari.
Cetana Mantep dapat dikenali bukan dari kata-kata yang besar, tetapi dari laku sehari-hari.
Ia tetap sopan ketika tidak diperlakukan sebagaimana yang diharapkan.
Ia tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pujian.
Ia mampu menerima kritik tanpa langsung merasa direndahkan.
Ia mampu mengubah pendapat ketika menemukan alasan yang lebih tepat.
Ia tidak mudah mengikuti sesuatu hanya karena sedang banyak dilakukan orang.
Ia tidak meninggalkan prinsip hanya karena menghadapi kesulitan.
Ia mampu mengakui kesalahan tanpa kehilangan harga diri.
Dan ia mampu menjalankan apa yang telah dipertimbangkan dengan jernih meskipun tidak selalu mendapatkan dukungan dari lingkungan.
Kemantapan dengan demikian bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Ia terlihat dari konsistensi laku.
Kemantapan dan Kebebasan Kesadaran
Semakin mantap kesadaran, semakin kecil kebutuhan untuk dikendalikan oleh keadaan luar.
Seseorang tidak lagi harus selalu mendapatkan pujian agar merasa bernilai. Ia tidak harus selalu menang dalam perbedaan pendapat. Ia tidak harus selalu memperoleh apa yang diinginkan untuk merasa hidupnya baik.
Hal tersebut bukan berarti tidak memiliki tujuan atau keinginan. Justru tujuan dapat dijalankan dengan lebih tenang karena tidak seluruh ketenteraman digantungkan pada hasil.
Inilah salah satu bentuk kebebasan kesadaran: mampu menjalankan apa yang dipandang tepat tanpa terus-menerus menjadi tawanan penilaian, keadaan, atau keinginan sesaat.
Penutup.
Nawa Pratandha Cetana Mantep menunjukkan sembilan tanda kesadaran yang mulai memiliki keteguhan setelah melalui proses kewaspadaan dan kejernihan.
Kesadaran mulai tidak mudah terpengaruh, tetap teguh ketika keadaan berubah, mampu memiliki pendirian tanpa dikuasai keakuan, tidak membiarkan rasa mengubah seluruh arah laku, mampu menjalankan kehendak dengan lebih ajeg, menyelaraskan cipta-rasa-karsa, tidak bergantung pada pujian, mampu mawas diri tanpa kehilangan pegangan, serta mampu menghadapi kasunyatan dengan keteguhan.
Dalam rangkaian Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa yang ditulis di LESTARI Uttamopadesa, Cetana Mantep dapat dipahami sebagai perkembangan setelah kesadaran mulai wening.
Waspada membuat kesadaran tidak lengah.
Wening membuat kesadaran menjadi jernih.
Mantep membuat kejernihan tersebut memiliki pijakan yang teguh dalam laku.
Kemantapan bukan berarti berhenti belajar. Justru kesadaran yang benar-benar mantap tetap terbuka terhadap pengetahuan dan pengalaman baru. Ia tidak mudah goyah, tetapi juga tidak tertutup.
Pada akhirnya, kemantapan dapat dilihat dari keselarasan antara apa yang diketahui, apa yang dirasakan, apa yang dikehendaki, dan apa yang dilakukan.
Ketika cipta telah memiliki arah, rasa tidak mudah mengaburkan, dan karsa mampu menjalankan dengan ajeg, maka kesadaran mulai memiliki keteguhan.
Mantep bukan karena merasa paling benar, melainkan karena telah belajar melihat dengan jernih, menimbang dengan sadar, dan menjalankan laku dengan teguh.
FAQ Nawa Pratandha Cetana Mantep.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Pratandha Cetana Mantep?
Nawa Pratandha Cetana Mantep adalah sembilan tanda kesadaran yang mulai memiliki kemantapan, keteguhan, dan keajegan setelah berkembang melalui kewaspadaan dan kejernihan.
Apa perbedaan Cetana Wening dan Cetana Mantep?
Cetana Wening menekankan kejernihan dalam melihat diri dan kenyataan, sedangkan Cetana Mantep menekankan kemampuan menjadikan kejernihan tersebut sebagai dasar yang teguh dalam sikap dan laku.
Apakah Cetana Mantep berarti keras kepala?
Tidak. Keras kepala mempertahankan pendapat karena keakuan, sedangkan kemantapan tetap terbuka terhadap koreksi dan perubahan apabila ditemukan pemahaman yang lebih tepat.
Apakah orang yang mantep tidak boleh mengubah pendirian?
Tetap boleh. Kemantapan bukan berarti tidak pernah berubah. Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan yang lebih jernih justru menunjukkan bahwa seseorang tidak terikat pada keakuan.
Apa hubungan Cetana Mantep dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cetana Mantep ditandai oleh semakin selarasnya cipta, rasa, dan karsa. Apa yang dipahami semakin dekat dengan apa yang dirasakan dan dilakukan sehingga laku menjadi lebih ajeg.
Mengapa tidak bergantung pada pujian menjadi tanda Cetana Mantep?
Karena seseorang yang mantap tidak menjadikan pengakuan dari luar sebagai satu-satunya alasan untuk berbuat baik. Ia tetap menjalankan sesuatu yang dipandang tepat meskipun tidak selalu mendapat penghargaan.
Apa hubungan Cetana Mantep dengan mawas diri?
Mawas diri membantu menjaga agar kemantapan tidak berubah menjadi kesombongan atau keras kepala. Dengan mawas diri, seseorang tetap dapat memeriksa dan memperbaiki dirinya tanpa kehilangan keteguhan.
Apa hubungan Cetana Mantep dengan kasunyatan?
Cetana Mantep membantu seseorang menghadapi kasunyatan dengan teguh. Ia mampu membedakan keadaan yang dapat diubah dengan keadaan yang perlu diterima, kemudian menentukan laku secara tepat.
Apakah Cetana Mantep merupakan akhir perkembangan kesadaran?
Tidak. Cetana Mantep merupakan salah satu tahap dalam rangkaian Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa. Kemantapan dapat menjadi dasar bagi perkembangan kesadaran menuju tahap-tahap berikutnya.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.