Sembilan Tanda Kesadaran yang Mampu Melihat dengan Terang
Dalam perjalanan memahami kesadaran manusia, terdapat proses yang tidak selalu tampak dari luar. Seseorang dapat terlihat tenang, berpikir baik, bahkan mampu mengambil keputusan dengan mantap, tetapi belum tentu telah mampu melihat kenyataan secara utuh.
Semua itu telah diuraikan di dalam bab Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa, yang telah dibahas di blog LESTARI Uttamopadesa ini, beberapa waktu yang lalu.
Kesadaran manusia memiliki tahapan perkembangan yang membuat seseorang semakin mampu mengenali dirinya, memahami keadaan, serta melihat hubungan antara apa yang terjadi di dalam diri dan apa yang berlangsung di luar dirinya.
Dalam rangkaian Nawa Tataraning Cetana Uttamopadesa, perkembangan tersebut dapat dipahami melalui beberapa keadaan kesadaran, yaitu Cetana Kaiket, Cetana Waspada, Cetana Wening, Cetana Mantep, kemudian berkembang menuju Cetana Kawawas.
Cetana Kaiket menggambarkan kesadaran yang masih mudah terikat oleh pengaruh, keadaan, keinginan, rasa, maupun keakuan.
Kemudian Cetana Waspada menunjukkan mulai tumbuhnya kemampuan untuk menyadari berbagai gerak yang memengaruhi diri.
Setelah itu, Cetana Wening menunjukkan kesadaran yang semakin jernih sehingga tidak mudah dikaburkan oleh cipta, rasa, dan karsa.
Cetana Mantep menunjukkan kesadaran yang semakin teguh dan ajeg dalam menjalani laku.
Adapun Cetana Kawawas merupakan perkembangan berikutnya, ketika kesadaran yang telah wening dan mantep tidak hanya mampu menjaga dirinya agar tidak mudah goyah, tetapi juga semakin mampu mewawas kenyataan dengan terang.
Kawawas berarti sesuatu yang dapat dilihat atau diwawas dengan jelas. Dalam konteks kesadaran, kawawas menunjuk pada kemampuan batin untuk melihat gerak kehidupan tanpa segera tertutup oleh prasangka, kepentingan, keinginan, ataupun penilaian pribadi.
Kesadaran yang kawawas tidak berarti mengetahui segala sesuatu. Ia justru menyadari bahwa apa yang dilihatnya harus terus diperiksa dengan kejernihan. Karena itu, kemampuan mewawas bukanlah merasa paling tahu, melainkan mampu melihat dengan lebih jernih apa yang sedang terjadi.
Nawa Pratandha Cetana Kawawas.
1. Mampu Melihat Keadaan Tanpa Segera Terbawa.
Tanda pertama Cetana Kawawas adalah kemampuan melihat suatu keadaan tanpa segera terseret ke dalamnya.
Ketika menghadapi persoalan, seseorang tidak langsung dikuasai rasa takut, marah, kecewa, senang, atau keinginan untuk segera bertindak. Ia terlebih dahulu melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia memberikan ruang bagi kesadaran untuk mengamati keadaan sebelum menentukan sikap.
Hal ini berbeda dengan sikap acuh. Orang yang kawawas tetap memperhatikan keadaan, tetapi tidak membiarkan keadaan tersebut langsung menguasai dirinya.
Ia dapat melihat masalah tanpa menjadi masalah itu sendiri. Ia dapat melihat kemarahan tanpa harus menjadi marah. Ia dapat melihat kesedihan tanpa membiarkan kesedihan mengaburkan seluruh pandangannya.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran mulai memiliki jarak yang sehat terhadap apa yang sedang dialaminya.
2. Mampu Melihat Gerak Cipta, Rasa, dan Karsa.
Pada tahap sebelumnya, Cetana Wening ditandai oleh semakin selarasnya cipta, rasa, dan karsa. Dalam Cetana Kawawas, kesadaran mulai mampu melihat gerak ketiganya secara lebih jelas.
Seseorang dapat mengenali bagaimana sebuah pikiran muncul, bagaimana rasa menyertainya, lalu bagaimana keinginan mendorong dirinya untuk bertindak.
Misalnya, ketika mendapatkan kritik, cipta mungkin segera menyusun pembelaan, rasa mungkin merasa tersinggung, sedangkan karsa ingin membalas. Kesadaran yang kawawas tidak langsung mengikuti salah satunya. Ia mampu melihat seluruh gerak tersebut.
Dengan demikian, cipta, rasa, dan karsa bukan hanya dialami, tetapi juga diwawas.
Dari sinilah seseorang mulai memahami bahwa tidak setiap pikiran harus dipercaya, tidak setiap rasa harus diikuti, dan tidak setiap keinginan harus diwujudkan.
3. Mampu Melihat Sebab dan Akibat dengan Lebih Jernih.
Cetana Kawawas juga ditandai oleh kemampuan melihat sesambunganing sebab lan akibat, yaitu hubungan antara sebab dan akibat yang muncul dalam kehidupan.
Seseorang tidak hanya melihat apa yang terjadi pada permukaan. Ia mulai bertanya mengapa sesuatu terjadi, apa yang mendahuluinya, dan bagaimana suatu tindakan dapat melahirkan akibat tertentu.
Kemampuan ini membuat seseorang tidak mudah menyalahkan keadaan atau orang lain.
Ketika menghadapi suatu akibat, ia berusaha melihat sebab-sebab yang melahirkannya.
Ketika hendak melakukan sesuatu, ia juga mulai mempertimbangkan akibat yang mungkin muncul.
Dengan demikian, kawawas membuat pandangan terhadap kehidupan menjadi lebih menyeluruh. Apa yang terjadi tidak dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari rangkaian yang saling berhubungan.
4. Tidak Mudah Tertipu oleh Yang Tampak di Permukaan.
Kesadaran yang kawawas tidak berhenti pada apa yang tampak. Seseorang mulai memahami bahwa perkataan belum tentu sama dengan maksud, tindakan belum tentu menunjukkan seluruh keadaan batin, dan suatu keadaan belum tentu sebagaimana kesan pertama yang muncul.
Karena itu, ia tidak tergesa-gesa menyimpulkan.
Ia melihat, mendengarkan, mempertimbangkan, kemudian memahami secara perlahan.
Bukan karena ragu tanpa alasan, tetapi karena mengetahui bahwa kenyataan sering memiliki lapisan yang lebih dalam daripada apa yang tampak pada permukaannya.
Sikap semacam ini menjadikan seseorang lebih hati-hati dalam menilai orang lain maupun dirinya sendiri.
5. Mampu Melihat Keakuan yang Masih Bergerak.
Walaupun kesadaran telah mencapai keadaan mantep, keakuan belum tentu sepenuhnya lenyap. Justru pada tahap kawawas, seseorang semakin mampu melihat bagaimana keakuan dapat bergerak secara halus.
Keakuan tidak selalu muncul sebagai kesombongan yang kasar. Ia dapat muncul dalam keinginan untuk dianggap benar, kebutuhan untuk dipuji, keinginan agar pendapat diterima, atau dorongan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Kesadaran yang kawawas mampu menangkap gerak tersebut sebelum berkembang menjadi laku.
Ketika muncul keinginan untuk dipuji, ia dapat melihatnya. Ketika muncul rasa ingin menang sendiri, ia dapat menyadarinya.
Ketika muncul keinginan untuk merendahkan orang lain, ia dapat mengamatinya.
Dengan demikian, mawas diri berkembang menjadi kemampuan mewawas diri secara lebih dalam.
6. Mampu Melihat Kenyataan Tanpa Memaksakan Keinginan.
Salah satu penghalang terbesar dalam melihat kenyataan adalah keinginan agar kenyataan sesuai dengan kehendak diri.
Seseorang sering kali tidak melihat apa adanya, tetapi melihat apa yang ingin dilihatnya. Ia menerima sesuatu ketika sesuai dengan keinginannya dan menolak sesuatu ketika bertentangan dengan kepentingannya.
Cetana Kawawas mulai melepaskan kecenderungan tersebut.
Ia berusaha melihat kenyataan sebagaimana adanya, sekalipun kenyataan itu tidak selalu menyenangkan. Ia dapat menerima bahwa dirinya keliru, bahwa pendapatnya perlu diperbaiki, atau bahwa keadaan tidak berjalan sesuai harapannya.
Kemampuan menerima kenyataan seperti ini bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran semakin bebas dari tuntutan keinginan pribadi.
7. Mampu Melihat Diri sebagai Bagian dari Keterhubungan.
Pada tahap ini, kesadaran tidak lagi memandang diri sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Seseorang mulai melihat bahwa pikiran, perkataan, tindakan, hubungan dengan orang lain, keadaan lingkungan, serta berbagai kejadian dalam kehidupan saling berhubungan.
Apa yang dilakukan terhadap orang lain dapat membawa akibat bagi hubungan. Apa yang dipelihara dalam pikiran dapat memengaruhi rasa.
Apa yang terus dirasakan dapat memengaruhi karsa. Apa yang dilakukan berulang-ulang dapat membentuk kebiasaan.
Kesadaran kawawas mampu melihat hubungan tersebut tanpa harus memisahkan segala sesuatu secara kaku.
Ia memahami bahwa kehidupan merupakan rangkaian sesambungan yang terus bergerak.
8. Mampu Melihat Kekurangan Diri Tanpa Kehilangan Keteguhan.
Cetana Mantep memberikan keteguhan. Namun keteguhan yang benar tidak berarti menutup diri dari koreksi.
Karena itu, Cetana Kawawas menunjukkan perkembangan penting: seseorang mampu melihat kekurangannya sendiri tanpa kehilangan kemantapan.
Ketika mengetahui bahwa dirinya salah, ia tidak harus runtuh.
Ketika mendapatkan koreksi, ia tidak langsung merasa direndahkan.
Ketika menemukan bahwa pemahamannya belum lengkap, ia bersedia memperbaikinya.
Di sinilah terlihat perbedaan antara mantep dan keras kepala.
Keras kepala mempertahankan diri karena terikat keakuan. Mantep mempertahankan apa yang dipandang benar, tetapi tetap terbuka apabila ditemukan pemahaman yang lebih jernih.
Kesadaran kawawas membuat seseorang mampu melihat kekurangan tanpa harus kehilangan arah.
9. Mampu Mewawas Kasunyatan dengan Cipta yang Jernih.
Tanda kesembilan sekaligus inti dari Cetana Kawawas adalah kemampuan untuk mewawas kasunyatan dengan cipta yang semakin jernih.
Ia tidak hanya melihat apa yang menyenangkan, tetapi juga apa yang tidak menyenangkan.
Ia tidak hanya menerima apa yang sesuai dengan pendapatnya, tetapi juga mampu mempertimbangkan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak hanya melihat kejadian, tetapi berusaha memahami sesambungan yang berada di balik kejadian tersebut.
Dalam keadaan ini, kesadaran tidak lagi sekadar menjadi penonton terhadap kehidupan. Ia menjadi kesadaran yang mampu melihat, memahami, dan kemudian menentukan laku dengan lebih tepat.
Kawawas bukan berarti telah mencapai pengetahuan yang sempurna. Justru semakin jernih seseorang dalam melihat, semakin ia memahami bahwa kenyataan tidak boleh dipaksa mengikuti keinginannya.
Karena itu, Cetana Kawawas merupakan kesadaran yang terbuka terhadap kenyataan, tetapi tidak mudah ditarik oleh kenyataan.
Kawawas sebagai Perkembangan dari Mantep.
Jika Cetana Mantep merupakan kesadaran yang telah memiliki keteguhan, maka Cetana Kawawas merupakan kesadaran yang menggunakan keteguhan tersebut untuk melihat dengan lebih luas dan lebih dalam.
Orang yang belum mantep mudah berubah ketika keadaan berubah. Setelah mantep, ia tidak mudah goyah. Namun setelah kawawas, ia tidak hanya teguh mempertahankan laku, melainkan juga mampu melihat apakah laku tersebut benar-benar sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya.
Dengan demikian, keteguhan tidak berubah menjadi kekakuan.
Urutannya dapat dipahami seperti ini:
Kaiket — kesadaran masih mudah terikat.
Waspada — kesadaran mulai menyadari berbagai pengaruh.
Wening — kesadaran mulai jernih dan tidak mudah dikaburkan.
Mantep — kesadaran menjadi teguh dan ajeg.
Kawawas — kesadaran yang teguh mampu melihat kenyataan dengan lebih terang.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran tidak hanya bergerak dari keadaan terikat menuju keadaan bebas, tetapi juga dari keadaan mudah terbawa menuju kemampuan melihat.
Kawawas dalam Kehidupan Sehari-hari.
Cetana Kawawas tidak hanya berkaitan dengan laku batin yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru kehidupan sehari-hari menjadi tempat yang paling nyata untuk melihat apakah kesadaran seseorang telah berkembang.
Dalam percakapan, ia mampu mendengarkan sebelum menjawab.
Dalam perbedaan pendapat, ia mampu melihat persoalan tanpa segera menganggap orang lain sebagai lawan.
Dalam menghadapi kegagalan, ia mampu melihat sebab tanpa tenggelam dalam rasa kecewa.
Dalam menerima keberhasilan, ia mampu menikmati hasil tanpa menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Ketika menghadapi suatu persoalan, ia tidak hanya bertanya, "Apa yang terjadi?", tetapi juga "Mengapa hal itu terjadi?", "Apa yang sedang bergerak dalam diriku?", dan "Apa akibat dari laku yang akan kulakukan?"
Pertanyaan semacam itu menunjukkan bahwa kesadaran mulai bekerja secara menyeluruh.
Kawawas membuat seseorang tidak tergesa-gesa menyimpulkan kehidupan hanya berdasarkan apa yang tampak pada satu saat.
Kawawas Bukan Berarti Merasa Paling Tahu.
Ada satu hal penting yang perlu ditegaskan. Kesadaran kawawas tidak sama dengan merasa telah mengetahui segala sesuatu.
Justru orang yang merasa paling tahu sering kali kehilangan kemampuan untuk melihat, karena pandangannya sudah terlebih dahulu ditutup oleh kesimpulannya sendiri.
Kawawas berarti bersedia melihat kembali.
Apabila ternyata pemahaman sebelumnya kurang tepat, ia memperbaikinya. Apabila ditemukan sebab yang belum dipahami, ia mempelajarinya. Apabila kenyataan menunjukkan sesuatu yang berbeda, ia tidak memaksakan pandangan lama.
Dengan demikian, kawawas melahirkan kejernihan sekaligus keluwesan.
Keteguhan tetap ada, tetapi keteguhan tersebut tidak menjadi penghalang bagi kebenaran yang lebih terang.
Penutup.
Nawa Pratandha Cetana Kawawas menggambarkan sembilan tanda berkembangnya kesadaran dari sekadar mampu menjaga keteguhan menuju kemampuan melihat kenyataan dengan lebih terang.
Cetana Kawawas tidak berarti seseorang telah mengetahui seluruh rahasia kehidupan. Ia juga bukan keadaan tanpa masalah, tanpa rasa, ataupun tanpa keinginan. Cipta, rasa, dan karsa tetap ada sebagai bagian dari kehidupan manusia.
Perbedaannya terletak pada kemampuan kesadaran untuk mewawas semuanya tanpa mudah dikuasai olehnya.
Kesadaran yang kaiket mudah terbawa. Kesadaran yang waspada mulai melihat pengaruh. Kesadaran yang wening mulai melihat dengan jernih. Kesadaran yang mantep mampu berdiri teguh. Sedangkan kesadaran yang kawawas mulai mampu menggunakan kejernihan dan keteguhan tersebut untuk melihat kehidupan secara lebih luas, lebih dalam, dan lebih utuh.
Pada akhirnya, kawawas bukan hanya soal mampu melihat apa yang berada di luar diri, tetapi juga mampu melihat apa yang bergerak di dalam diri.
Sebab semakin seseorang mampu mewawas dirinya dengan jernih, semakin terbuka pula kemampuannya untuk memahami kasunyatan.
Dan dari sanalah laku tidak lagi sekadar dilakukan karena kebiasaan, keinginan, atau pengaruh keadaan, melainkan lahir dari kesadaran yang semakin mampu melihat.
FAQ Nawa Pratandha Cetana Kawawas.
Apa arti Cetana Kawawas?
Cetana Kawawas adalah keadaan kesadaran yang semakin mampu melihat, mengamati, dan memahami kenyataan dengan jernih tanpa mudah terseret oleh pikiran, rasa, keinginan, maupun keadaan.
Apa hubungan Cetana Kawawas dengan Cetana Mantep?
Cetana Mantep menekankan keteguhan dan keajegan kesadaran, sedangkan Cetana Kawawas menunjukkan perkembangan ketika kesadaran yang telah teguh tersebut mampu melihat kenyataan dengan lebih terang dan menyeluruh.
Apakah Kawawas berarti sudah mengetahui segala sesuatu?
Tidak. Kawawas bukan berarti merasa paling tahu. Sebaliknya, kesadaran kawawas tetap terbuka terhadap koreksi, pengalaman, dan pemahaman yang lebih jernih.
Apakah Cetana Kawawas berarti tidak memiliki rasa dan keinginan?
Tidak. Rasa dan keinginan tetap ada. Perbedaannya adalah kesadaran tidak lagi mudah dikuasai oleh rasa dan keinginan tersebut sehingga dapat melihatnya dengan lebih jernih.
Apa tanda utama kesadaran yang sudah kawawas?
Salah satu tanda utamanya adalah kemampuan melihat keadaan, gerak cipta, rasa, karsa, sebab-akibat, serta keakuan diri tanpa tergesa-gesa mengikuti atau menolaknya.
Apa tujuan dari Cetana Kawawas?
Tujuannya adalah berkembangnya kemampuan kesadaran untuk melihat kenyataan secara lebih jernih, memahami sesambungan yang terjadi, serta menentukan laku dengan lebih tepat berdasarkan pemahaman yang tidak mudah dikaburkan oleh kepentingan pribadi.
Bagaimana hubungan Cetana Kaiket, Waspada, Wening, Mantep, dan Kawawas?
Kelima istilah tersebut dapat dipahami sebagai rangkaian perkembangan: Kaiket menunjukkan keterikatan, Waspada menunjukkan kewaspadaan, Wening menunjukkan kejernihan, Mantep menunjukkan keteguhan, dan Kawawas menunjukkan kemampuan melihat kenyataan dengan lebih terang.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.