WADAH PENGHAYAT KEPERCAYAAN BERDASARKAN KAWRUH UTTAMOPADESA
Makna LESTARI.
LESTARI merupakan nama sekaligus landasan nilai bagi sebuah wadah Penghayat Kepercayaan yang mendasarkan pemahaman spiritualnya pada Kawruh Uttamopadesa.
LESTARI merupakan singkatan dari Liling Ening Samongko Tameng Dhiri, yang mengandung makna bahwa kesadaran dan kejernihan batin merupakan pelindung utama bagi diri manusia.
Ungkapan tersebut dapat dipahami dengan beberapa penekanan makna. Pertama, “Kesadaran yang jernih hendaknya menjadi tameng bagi diri.” Kedua, “Kesadaran dan kejernihan batin adalah pelindung diri.”
Sementara dalam nuansa filosofis, maknanya dapat dirumuskan menjadi “Jadikan kesadaran yang hening sebagai perisai bagi jati diri.”
Ketiga pemaknaan tersebut memiliki inti yang sama, yaitu menempatkan kesadaran dan kejernihan batin sebagai kekuatan utama manusia dalam menghadapi kehidupan.
LESTARI tidak dimaksudkan hanya sebagai nama organisasi atau paguyuban. LESTARI mengandung pandangan mengenai bagaimana manusia seharusnya menjaga dirinya.
Perlindungan terhadap diri tidak semata-mata dipahami sebagai perlindungan yang bersifat lahiriah, tetapi juga sebagai kemampuan menjaga kejernihan batin agar manusia tidak mudah kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
LESTARI dan Kawruh Uttamopadesa.
LESTARI adalah wadah Penghayat Kepercayaan yang mendasarkan pemahaman spiritualnya pada Kawruh Uttamopadesa.
Kawruh Uttamopadesa menjadi landasan dalam memahami manusia, kehidupan, kesadaran, cipta, rasa, laku, serta berbagai hubungan yang membentuk perjalanan hidup manusia.
Dalam penghayatan LESTARI, Kawruh Uttamopadesa tidak hanya diposisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang dipelajari secara teoritis.
Kawruh Uttamopadesa menjadi dasar untuk melihat, memahami, dan menghayati kehidupan.
Hal tersebut penting karena pengetahuan yang hanya berhenti pada pemahaman pikiran belum tentu mengubah kehidupan seseorang. Kawruh akan mempunyai arti yang lebih dalam apabila dapat dihayati dan diwujudkan melalui sikap serta laku sehari-hari.
Karena itu, LESTARI Uttamopadesa menempatkan kesadaran sebagai bagian penting dari perjalanan penghayatan. Manusia diajak untuk mengenali keadaan dirinya sendiri, memahami gerak batinnya, dan berusaha menjaga kejernihan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Kesadaran sebagai Tameng Diri.
Makna Liling Ening Samongko Tameng Dhiri berangkat dari pandangan bahwa manusia menghadapi berbagai pengaruh dalam kehidupannya.
Pengaruh tersebut dapat datang dari lingkungan, keadaan, pengalaman, keinginan, pikiran, maupun perasaan yang muncul dari dalam diri.
Tanpa kesadaran, manusia mudah terbawa oleh keadaan. Pikiran yang tidak jernih dapat menyebabkan seseorang mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Perasaan yang tidak dipahami dapat memengaruhi sikap. Keinginan yang tidak dikendalikan dapat membawa seseorang kepada tindakan yang kemudian menimbulkan akibat.
Dalam keadaan seperti itu, kesadaran menjadi tameng bagi diri.
Tameng dalam pengertian LESTARI bukan berarti manusia harus menutup diri dari kehidupan. Tameng berarti memiliki kemampuan batin untuk menyadari apa yang sedang terjadi sebelum memberikan tanggapan.
Seseorang yang memiliki kesadaran tidak berarti tidak pernah mengalami kemarahan, kesedihan, ketakutan, atau kegelisahan. Namun, ia berusaha menyadari keadaan tersebut sehingga tidak langsung dikuasai olehnya.
Di sinilah kejernihan batin mempunyai peran penting.
Kejernihan Batin sebagai Dasar Penghayatan.
Kejernihan batin merupakan keadaan ketika manusia mampu melihat sesuatu dengan lebih jernih dan tidak mudah dikaburkan oleh gejolak dirinya sendiri.
Kejernihan bukan berarti tidak mempunyai pikiran atau perasaan, melainkan mampu memahami pikiran dan perasaan tersebut tanpa kehilangan kesadaran.
Dalam LESTARI, kejernihan batin dapat menjadi dasar untuk menjalani kehidupan secara lebih bijaksana. Ketika batin jernih, seseorang mempunyai kesempatan lebih besar untuk melihat suatu persoalan secara menyeluruh.
Ia tidak hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi berusaha memahami hubungan yang berada di baliknya. Pemahaman seperti ini sejalan dengan semangat Kawruh Uttamopadesa yang menempatkan proses memahami kehidupan sebagai bagian penting dari perjalanan penghayatan.
LESTARI sebagai Wadah Penghayatan.
Sebagai wadah Penghayat Kepercayaan, LESTARI memiliki fungsi untuk menjadi ruang kebersamaan bagi mereka yang mendalami Kawruh Uttamopadesa. Paguyuban memberikan kesempatan kepada para penghayat untuk belajar, berdiskusi, merenungkan, dan mengembangkan penghayatan secara bersama-sama.
Namun, kebersamaan tidak berarti menghilangkan perjalanan pribadi setiap penghayat. Setiap manusia mempunyai pengalaman, keadaan, dan proses batin yang berbeda. Karena itu, penghayatan tetap merupakan perjalanan yang harus dijalani oleh masing-masing pribadi.
LESTARI menjadi wadah yang membantu perjalanan tersebut melalui kebersamaan.
Dalam paguyuban, seseorang dapat belajar dari pengalaman kehidupan, memperoleh pemahaman yang lebih luas, dan melihat kembali apa yang selama ini dipahami mengenai dirinya sendiri.
Dengan demikian, LESTARI bukan sekadar tempat berkumpul. LESTARI merupakan wadah untuk mengembangkan penghayatan berdasarkan Kawruh Uttamopadesa.
LESTARI dan Jati Diri Manusia.
Makna “tameng dhiri” juga berkaitan erat dengan jati diri manusia. Jati diri tidak hanya berkaitan dengan nama, kedudukan, atau identitas lahiriah. Jati diri berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami keberadaan dirinya dan bagaimana ia menjalani kehidupan.
Apabila manusia tidak mengenali dirinya, ia mudah dibentuk oleh keadaan di luar dirinya. Pendapat orang lain, tekanan lingkungan, keinginan sesaat, atau berbagai dorongan dapat menentukan arah kehidupannya.
Kesadaran membantu manusia kembali melihat dirinya sendiri.
Dalam penghayatan LESTARI Uttamopadesa, manusia diarahkan untuk tidak sekadar bertanya mengenai dunia di luar dirinya, tetapi juga bertanya mengenai keadaan batinnya sendiri. Apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang diinginkan, dan mengapa seseorang bertindak dengan cara tertentu merupakan bagian dari proses memahami diri.
Semakin dalam seseorang memahami dirinya, semakin besar pula kemampuannya untuk menjaga jati dirinya.
Kesadaran dalam Kehidupan Sehari-hari.
Penghayatan LESTARI tidak berhenti pada ruang perenungan. Kesadaran perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran dapat terlihat dari cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, memperlakukan sesama, dan menyikapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Ketika menghadapi persoalan, seseorang yang berusaha menjaga kesadaran akan mencoba melihat keadaan sebelum memberikan tanggapan. Ia tidak mudah bertindak hanya berdasarkan dorongan sesaat.
Dengan demikian, kesadaran menjadi sesuatu yang hidup.
Kawruh Uttamopadesa memberikan dasar pemahaman, sedangkan kehidupan sehari-hari menjadi ruang untuk menguji dan menghayati pemahaman tersebut.
Dhimas Purnomo dan Berdirinya LESTARI.
LESTARI didirikan pada tahun 2026 oleh Dhimas Purnomo, yang sekaligus merupakan penggagas wedharan Kawruh Uttamopadesa.
Berdirinya LESTARI mempunyai hubungan erat dengan upaya menghadirkan wadah penghayatan yang berlandaskan Kawruh Uttamopadesa.
Dengan adanya wadah tersebut, pemahaman yang dikembangkan melalui Kawruh Uttamopadesa dapat ditempatkan dalam ruang kebersamaan dan penghayatan.
LESTARI menjadi bagian dari perjalanan pengembangan Kawruh Uttamopadesa, sekaligus menjadi wadah bagi mereka yang ingin mendalami pemahaman tersebut dalam kehidupan.
LESTARI sebagai Semangat Kelestarian.
Selain makna khusus yang terkandung dalam Liling Ening Samongko Tameng Dhiri, kata LESTARI juga mengandung gagasan mengenai keberlanjutan.
Sesuatu yang lestari adalah sesuatu yang tetap hidup, dijaga, dan diteruskan. Dalam konteks LESTARI Uttamopadesa, kelestarian berarti menjaga agar nilai-nilai penghayatan dan pemahaman yang bersumber dari Kawruh Uttamopadesa tetap hidup dalam diri manusia.
Kelestarian tidak berarti hanya mempertahankan bentuk. Yang lebih penting adalah mempertahankan nilai, pemahaman, dan penghayatan.
Kawruh Uttamopadesa akan tetap hidup apabila dipahami, direnungkan, dan diwujudkan dalam kehidupan.
LESTARI menjadi wadah yang membawa semangat tersebut.
Arah Penghayatan LESTARI Uttamopadesa.
Arah penghayatan LESTARI Uttamopadesa pada dasarnya adalah membangun manusia yang semakin sadar terhadap dirinya dan kehidupannya.
Kesadaran menjadi dasar. Kejernihan menjadi keadaan yang diupayakan. Penghayatan menjadi proses. Kehidupan menjadi ruang pembelajaran.
Dengan dasar tersebut, LESTARI tidak mengarahkan penghayatan hanya pada pencarian pengalaman yang bersifat luar biasa. Penghayatan justru dimulai dari kemampuan manusia melihat kehidupan sebagaimana adanya, memahami dirinya, dan menjalani kehidupan dengan kesadaran.
Kawruh Uttamopadesa menjadi landasan untuk memahami perjalanan tersebut.
Penutup.
LESTARI — Liling Ening Samongko Tameng Dhiri merupakan wadah Penghayat Kepercayaan berdasarkan Kawruh Uttamopadesa, yang didirikan oleh Dhimas Purnomo pada tahun 2026, yang sekaligus merupakan penggagas wedharan Kawruh Uttamopadesa.
Makna LESTARI menegaskan bahwa kesadaran dan kejernihan batin merupakan pelindung utama bagi diri manusia.
Kesadaran yang jernih menjadi tameng agar manusia tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi berbagai pengaruh dan keadaan kehidupan.
Dengan menjadikan Kawruh Uttamopadesa sebagai landasan penghayatan, LESTARI berupaya menghadirkan ruang untuk memahami diri, menjernihkan batin, mengembangkan kesadaran, memahami sesambunganing sebab lan akibat, serta menjalani kehidupan dengan lebih selaras.
Pada akhirnya, LESTARI bukan hanya sebuah nama. LESTARI merupakan ajakan untuk menjadikan kesadaran sebagai tameng, kejernihan sebagai perisai, dan penghayatan sebagai jalan untuk menjaga jati diri manusia.
FAQ Lestari Uttamopadesa.
1. Apa arti LESTARI dalam konteks Penghayat Kepercayaan?
LESTARI merupakan singkatan dari Liling Ening Samongko Tameng Dhiri, yang bermakna bahwa kesadaran dan kejernihan batin merupakan pelindung utama bagi diri manusia.
2. Apa makna filosofis LESTARI?
Secara filosofis, LESTARI dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menjadikan kesadaran yang hening dan kejernihan batin sebagai perisai bagi jati diri.
3. Apa dasar pemahaman spiritual LESTARI?
LESTARI mendasarkan pemahaman spiritualnya pada Kawruh Uttamopadesa secara konsisten.
4. Siapa pendiri LESTARI?
LESTARI didirikan pada tahun 2026 oleh Dhimas Purnomo, yang sekaligus merupakan penggagas wedharan Kawruh Uttamopadesa.
5. Apa hubungan LESTARI dengan Kawruh Uttamopadesa?
LESTARI merupakan wadah Penghayat Kepercayaan yang menjadikan Kawruh Uttamopadesa sebagai dasar pemahaman dan penghayatan spiritualnya.
6. Mengapa kesadaran disebut sebagai tameng diri?
Karena kesadaran membantu manusia mengenali pikiran, perasaan, keinginan, dan keadaan sebelum memberikan tanggapan atau melakukan tindakan, sehingga tidak mudah terbawa oleh dorongan sesaat.
7. Apa yang dimaksud dengan kejernihan batin?
Kejernihan batin adalah kemampuan untuk melihat dan memahami keadaan dengan lebih bening, tanpa mudah dikaburkan oleh gejolak pikiran maupun perasaan.
8. Apakah penghayatan LESTARI hanya berkaitan dengan kehidupan batin?
Tidak. Penghayatan LESTARI juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui cara berpikir, berbicara, bertindak, mengambil keputusan, dan membangun hubungan dengan sesama.
9. Apa tujuan penghayatan dalam LESTARI Uttamopadesa?
Tujuannya adalah membantu manusia semakin memahami dirinya, mengembangkan kesadaran, menjaga kejernihan batin, dan menjalani kehidupan secaraplebih selaras berdasarkan Kawruh Uttamopadesa.
10. Apa makna LESTARI bagi keberlanjutan Kawruh Uttamopadesa?
LESTARI mengandung semangat untuk menjaga agar pemahaman dan nilai-nilai Kawruh Uttamopadesa tetap hidup melalui proses belajar, penghayatan, dan penerapannya dalam kehidupan.
