L E S T A R I

Liling Ening Samongko Tameng Dhiri

"Kesadaran dan kejernihan batin merupakan pelindung utama bagi diri manusia."

LESTARI merupakan akronim dari kalimat Jawa Liling Ening Samongko Tameng Dhiri, yang mengandung ajaran bahwa kesadaran yang jernih adalah benteng utama dalam menjalani kehidupan. Dalam pandangan ini, manusia tidak pertama-tama dilindungi oleh kekuatan lahiriah, kekayaan, kedudukan, maupun kecerdasan semata, melainkan oleh batin yang senantiasa sadar, tenang, dan mampu membedakan yang benar dari yang keliru.

Di tengah kehidupan modern yang penuh dengan kesibukan, arus informasi yang tidak pernah berhenti, serta berbagai godaan yang dapat mengaburkan hati dan pikiran, manusia sering kehilangan pusat dirinya. Banyak persoalan muncul bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena hilangnya kejernihan batin. Ketika seseorang dikuasai amarah, keserakahan, iri hati, atau ketakutan, keputusan yang diambil sering kali menimbulkan penyesalan. Sebaliknya, apabila batin tetap jernih, setiap tindakan akan lebih bijaksana, terarah, dan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun sesama.

Kata "liling" mengandung makna sadar, awas, dan selalu eling terhadap setiap gerak kehidupan. Kesadaran bukan hanya mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar, tetapi juga menyadari apa yang sedang berlangsung di dalam diri sendiri. Manusia diajak mengenali pikiran, perasaan, keinginan, dan dorongan batinnya sebelum semuanya berubah menjadi perkataan atau tindakan. Kesadaran inilah yang menjadi awal dari pengendalian diri.

Sementara itu, "ening" berarti hening, bening, dan jernih. Kejernihan batin tidak lahir dari keadaan yang selalu tenang, melainkan dari kemampuan untuk tidak dikuasai oleh gejolak yang datang silih berganti. Pikiran yang jernih mampu melihat persoalan sebagaimana adanya, tidak dibutakan oleh prasangka maupun kepentingan pribadi. Dalam kejernihan itulah kebijaksanaan tumbuh, sebab manusia mampu mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati yang lapang.

Ungkapan "samongko tameng dhiri" mengajarkan bahwa kesadaran dan kejernihan tersebut menjadi tameng atau pelindung diri. Tameng yang dimaksud bukanlah perlindungan fisik, melainkan perlindungan batin. Seseorang yang memiliki kesadaran yang hidup tidak mudah diperdaya oleh hawa nafsu, tidak mudah terprovokasi oleh kebencian, dan tidak mudah terseret oleh arus yang menjauhkan dirinya dari nilai-nilai kebajikan. Tameng batin ini menjaga manusia agar tetap teguh dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan, pujian maupun celaan, serta suka maupun duka.

LESTARI juga mengingatkan bahwa perlindungan sejati tidak berasal dari luar diri, melainkan tumbuh dari dalam. Manusia boleh memiliki ilmu yang tinggi, harta yang melimpah, atau kedudukan yang terhormat, tetapi tanpa kesadaran dan kejernihan batin semuanya dapat menjadi sumber kesombongan dan penderitaan. Sebaliknya, seseorang yang sederhana namun memiliki batin yang bening akan lebih mudah menjalani kehidupan dengan damai, rendah hati, dan penuh kasih kepada sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran LESTARI dapat diwujudkan melalui kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum bertindak, mengamati keadaan batin sebelum berbicara, serta merenungkan akibat dari setiap keputusan yang akan diambil. Ketika menghadapi persoalan, seseorang diajak untuk tidak tergesa-gesa bereaksi, melainkan memberi ruang bagi kejernihan untuk bekerja. 

Dari kejernihan itu akan lahir keputusan yang lebih bijaksana dan membawa kebaikan.

Ajaran ini juga mengajak setiap orang untuk membangun kebiasaan mawas diri. Mawas diri bukan berarti selalu menyalahkan diri sendiri, melainkan berani melihat kekurangan dengan jujur dan memperbaikinya dengan rendah hati. Orang yang terus melatih kesadaran akan lebih mudah mengenali kesalahan sebelum kesalahan itu berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan. Dengan demikian, pertumbuhan batin berlangsung secara terus-menerus sepanjang kehidupan.

Pada akhirnya, LESTARI bukan sekadar sebuah semboyan, melainkan pedoman hidup. Kesadaran yang jernih menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan, sekaligus tameng yang melindungi manusia dari kegelapan batin. Melalui kesadaran, manusia belajar mengenal dirinya. Melalui kejernihan, manusia belajar memahami sesamanya. Dan melalui keduanya, manusia mampu melangkah menuju kehidupan yang lebih luhur, tenteram, dan selaras dengan Sang Sumber Panguripan.

Semoga setiap insan senantiasa memelihara "Liling Ening Samongko Tameng Dhiri", sehingga setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan lahir dari batin yang jernih, membawa kedamaian bagi diri sendiri, sesama manusia, alam semesta, dan menjadi bagian dari perjalanan menuju kebijaksanaan yang sejati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SASTRA JENDRA UTTAMOPADESA

MAKNA SIMBOLIK PEMBAKARAN DUPA