SEMBAH SEBAGAI LAKU HIDUP

sembah sebagai laku hidup
UPAYA MENATA CIPTA, RASA, DAN KARSA

Kata Sembah sering dipahami sebatas sebagai suatu bentuk penghormatan kepada Yang Mahakuasa. Padahal, jika dipahami lebih dalam, sembah tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan seseorang pada saat berhadapan dengan Yang Dipuja Muliakan.

Sembah juga dapat dipahami sebagai sebuah sikap hidup yang tercermin dalam cara manusia berpikir, merasa, berbicara, dan bertindak.

Sembah yang hanya berhenti pada ucapan belum tentu mengubah kehidupan. Seseorang dapat berbicara banyak tentang kebaikan, tetapi kehidupannya belum tentu mencerminkan kebaikan itu sendiri.

Karena itu, ukuran sembah tidak semata-mata terletak pada banyaknya kata yang diucapkan, melainkan pada bagaimana nilai yang diyakini benar-benar hidup dalam diri dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan ini, prosesi sembah mempunyai hubungan yang erat dengan cipta, rasa, dan karsa.

Cipta berkaitan dengan bagaimana manusia memahami sesuatu. Rasa berkaitan dengan bagaimana manusia menghayati dan merasakan kehidupan. Karsa berkaitan dengan kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu.

Ketiganya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

Cipta yang jernih perlu menghasilkan pemahaman yang benar.

Rasa yang baik perlu melahirkan kepedulian dan kasih terhadap sesama.

Karsa yang luhur perlu diwujudkan melalui perbuatan yang selaras dengan nilai-nilai kebaikan universal.

Dengan demikian, sembah tidak berhenti sebagai hubungan antara manusia dengan Yang Mahakuasa, tetapi juga tampak dalam hubungan manusia dengan kehidupan.

Sembah yang hidup dalam perilaku.
Sembah yang benar-benar hidup akan terlihat dari perubahan perilaku. Orang yang memahami pentingnya sembah akan berusaha menjaga pikirannya agar tidak dipenuhi niat buruk.

Ia belajar menjaga perasaannya agar tidak mudah dikuasai kebencian. Ia juga belajar mengendalikan kehendaknya agar tidak digunakan untuk merugikan sesama.

Di sinilah sembah menjadi laku kehidupan.

Laku bukan sekadar kegiatan yang dilakukan pada waktu tertentu. Laku adalah proses membentuk diri melalui kehidupan sehari-hari.

Cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, cara menghadapi perbedaan, cara menggunakan kekuasaan, bahkan cara menyikapi kesalahan diri sendiri, semuanya dapat menjadi cermin dari kualitas sembah seseorang.

Karena itu, semakin dalam sebuah sembah dihayati, seharusnya semakin nyata pula pengaruhnya terhadap kehidupan.

Dari penghormatan menuju penghayatan.
Penghormatan kepada Yang Mahakuasa merupakan awal. Namun penghormatan yang mendalam tidak berhenti pada sikap tunduk secara lahiriah.

Penghormatan akan berkembang menjadi penghayatan. Manusia mulai menyadari bahwa kehidupan bukan miliknya seorang diri. Ia hidup bersama sesama, bergantung pada alam, menerima kehidupan dari sumber yang tidak diciptakannya sendiri, dan pada akhirnya akan kembali kepada sumber kehidupan tersebut.

Kesadaran semacam ini seharusnya melahirkan kerendahan hati. Manusia tidak lagi merasa sebagai pusat dari segala sesuatu. Ia belajar menempatkan dirinya secara wajar di tengah kehidupan.

Dari sinilah tumbuh sikap menghargai, menjaga, mengasihi, dan tidak sewenang-wenang terhadap sesama.

Sembah memiliki banyak jalan penghayatan.
Karena manusia memiliki cipta, rasa, dan karsa, penghayatan sembah pun tidak cukup dilihat hanya dari satu sisi.

Ada sembah yang berhubungan dengan pengenalan kepada Sang Sumber Kehidupan.

Ada sembah yang berkaitan dengan penataan cipta.

Ada sembah yang mengarah pada pemurnian rasa.

Ada pula sembah yang diwujudkan melalui perbuatan nyata.

Keseluruhannya dapat dipandang sebagai jalan yang saling berhubungan.

Dari sinilah muncul gagasan Nawa Sembah Uttamopadesa, yaitu penguraian sembah ke dalam sembilan jalan penghayatan yang saling melengkapi.

Nawa Sembah tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang harus dihafalkan sebagai sebuah istilah. Yang lebih penting adalah memahami isi dan hakikat setiap sembah, kemudian melihat bagaimana semuanya dapat diterapkan dalam kehidupan yang nyata.

Dengan cara demikian, sembah tidak menjadi pengetahuan yang hanya tersimpan dalam pikiran, tetapi menjadi bagian dari kehidupan.

Sembah dan perubahan manusia.
Pada akhirnya, nilai sebuah sembah dapat dilihat dari perubahan yang ditimbulkannya.

Apakah cipta menjadi lebih tertata?

Apakah rasa menjadi lebih matang?

Apakah kehendak menjadi lebih terkendali?

Apakah perilaku menjadi lebih baik?

Apakah hubungan dengan sesama menjadi lebih selaras?

Jika sembah semakin dalam tetapi kehidupan tidak mengalami perubahan, mungkin yang bertambah baru pengetahuan tentang sembah, belum merujuk kepada penghayatan sembah itu sendiri.

Sebaliknya, apabila sembah membuat manusia semakin mampu mengendalikan dirinya, semakin menghargai sesama, semakin jernih dalam berpikir, semakin lembut dalam merasa, dan semakin baik dalam bertindak, maka sembah telah menemukan tempatnya dalam kehidupan.

Karena itu, makna sembah bukan hanya sesuatu yang dilakukan. Sembah adalah sesuatu yang wajib dihidupkan.

Dan ketika sembah telah hidup dalam cipta, rasa, dan karsa, manusia tidak lagi sekadar mengetahui tentang kebaikan, tetapi mulai menjadikan kebaikan sebagai bagian dari kehidupannya.

Untuk memahami susunan sembah tersebut secara lebih utuh, pembahasan mengenai Nawa Sembah Uttamopadesa dapat menjadi salah satu jalan untuk melihat sembah sebagai rangkaian penghayatan yang menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia.

FAQ - Sembah sebagai Laku Hidup.
1. Apa yang dimaksud sembah sebagai laku hidup?
Sembah sebagai laku hidup adalah penghayatan sembah yang tidak berhenti pada bentuk lahiriah, tetapi diwujudkan dalam cara berpikir, merasa, berkehendak, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

2. Apa hubungan sembah dengan cipta, rasa, dan karsa?
Sembah dapat menjadi jalan untuk menata cipta agar lebih jernih, rasa agar lebih matang, dan karsa agar lebih terkendali sehingga ketiganya dapat berjalan secara selaras.

3. Apakah sembah hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Yang Mahakuasa?
Tidak. Penghayatan sembah juga tercermin dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, dan kehidupan secara keseluruhan.

4. Apa yang dimaksud Nawa Sembah Uttamopadesa?
Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan penguraian sembah menjadi sembilan jalan penghayatan yang saling berkaitan dan dapat diterapkan dalam kehidupan manusia.

5. Apakah Nawa Sembah Uttamopadesa harus dihafalkan?
Tidak. Yang lebih utama adalah memahami isi dan hakikatnya, kemudian menghayati serta menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Komentar