Manifestasi Nawa Samadhi Uttamopadesa dalam Kehidupan Sehari-hari
Pendalaman diri sering dianggap sebagai sesuatu yang hanya dapat dilakukan ketika manusia sedang menyepi, bermeditasi, atau berada jauh dari kesibukan kehidupan.
Padahal, manusia justru paling mudah mengenali keadaan dirinya ketika berhadapan dengan kehidupan yang lebih nyata.
Ketika dipuji, bagaimana reaksinya?
Ketika dicela, apakah ia mampu menahan diri?
Ketika keinginannya tidak terpenuhi, apakah ia mudah marah?
Ketika memperoleh keberhasilan, apakah ia merasa lebih tinggi?
Ketika menghadapi orang yang berbeda pandangan, apakah ia masih mampu menghormati?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari sebenarnya merupakan tempat berlangsungnya pendalaman diri.
Samadhi Bukan Hanya Keheningan.
Keheningan memang dapat menjadi sarana untuk melihat ke dalam diri. Ketika seseorang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, ia mempunyai kesempatan untuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya.
Namun, jika ketenangan hanya muncul ketika sedang menyepi, sementara ketika kembali ke tengah masyarakat ia kembali mudah marah, mudah tersinggung, penuh pamrih, dan gemar menyalahkan orang lain, maka ketenangan tersebut belum sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan.
Karena itu, Samadhi perlu dipahami secara lebih luas. Samadhi adalah pendalaman. Pendalaman berarti manusia semakin mampu melihat apa yang terjadi dalam dirinya sebelum sesuatu itu berubah menjadi ucapan atau perbuatan.
Ada kemarahan yang muncul.
Ia menyadarinya.
Ada keinginan membalas.
Ia menyadarinya.
Ada keinginan dipuji.
Ia menyadarinya.
Ada rasa iri.
Ia menyadarinya.
Kesadaran terhadap gerak-gerak tersebut memberikan ruang bagi manusia untuk memilih tindakan yang lebih baik.
Kehidupan adalah Cermin Diri.
Manusia sering menganggap munculnya masalah berada di luar dirinya. Orang lain dianggap penyebab kemarahan. Keadaan dianggap penyebab kegelisahan. Kegagalan dianggap penyebab penderitaan.
Padahal, keadaan luar dan tanggapan manusia terhadap keadaan tersebut merupakan dua hal yang berbeda.
Dua orang dapat menghadapi peristiwa yang sama tetapi memberikan tanggapan yang berbeda. Yang satu menjadi marah. Yang lain tetap tenang. Yang satu membalas. Yang lain memilih menyelesaikan persoalan.
Perbedaannya bukan semata-mata pada peristiwa yang terjadi, tetapi pada keadaan cipta, rasa, dan karsa masing-masing.
Karena itu, kehidupan dapat menjadi cermin untuk melihat sejauh mana manusia telah mampu mendalami dirinya.
Ketika Mendapat Pujian.
Pujian merupakan salah satu ujian yang sering tidak disadari. Ketika seseorang dipuji, muncul rasa senang. Itu manusiawi.
Namun, jika pujian membuat seseorang mulai merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, maka pujian telah menjadi makanan bagi keakuan.
Pendalaman diri mengajarkan manusia untuk menerima pujian tanpa diperbudak olehnya.
Ia dapat bersyukur ketika dihargai, tetapi tidak menggantungkan harga dirinya pada penilaian orang lain.
Dengan demikian, pujian tidak membuatnya meninggi dan celaan tidak membuatnya runtuh.
Ketika mendapat celaan.
Celaan sering menjadi ujian yang lebih berat.
Seseorang dapat terlihat tenang ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Tetapi ketika dirinya direndahkan, dituduh, atau diperlakukan tidak menyenangkan, keadaan cipta, rasa, dan karsanya mulai terlihat.
Apakah ia langsung membalas?
Apakah ia menyimpan dendam?
Apakah ia mencari kesempatan untuk menjatuhkan kembali?
Ataukah ia mampu berhenti, melihat persoalan dengan jernih, lalu memilih tindakan yang tidak memperpanjang keburukan?
Di sinilah pendalaman diri menemukan bentuknya.
Bukan berarti manusia harus menerima semua perlakuan buruk.
Manusia tetap dapat bersikap tegas.
Namun ketegasan tidak harus lahir dari
kebencian.
Ketika Keinginan Tidak Terpenuhi.
Karsa manusia sering diuji oleh keinginan.
Manusia menginginkan sesuatu, kemudian berharap kehidupan berjalan sesuai kehendaknya. Ketika keinginan terpenuhi, ia merasa senang.
Ketika tidak terpenuhi, ia kecewa. Kekecewaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kemarahan, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan orang lain.
Pendalaman diri tidak berarti manusia tidak boleh mempunyai keinginan. Yang perlu dipelajari adalah jangan sampai keinginan menjadi penguasa diri.
Manusia boleh berusaha keras mencapai sesuatu. Tetapi ia juga perlu memiliki kejernihan untuk menerima kenyataan ketika hasil tidak sesuai dengan harapan.
Dengan demikian, karsa tetap kuat tetapi tidak menjadi liar.
Ketika Berhadapan dengan Perbedaan.
Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan.
Perbedaan pendapat, watak, kebiasaan, pilihan, dan cara melihat kehidupan akan selalu ada.
Manusia yang belum mampu mendalami dirinya cenderung menganggap perbedaan sebagai ancaman.
Jika orang lain tidak setuju, ia merasa dirinya diserang.
Jika orang lain mempunyai pandangan berbeda, ia merasa harus mengalahkan.
Pendalaman diri membawa manusia kepada keadaan yang berbeda.
Ia dapat mempertahankan pendirian tanpa harus membenci orang yang berbeda.
Ia dapat mengatakan tidak tanpa menghina.
Ia dapat menyampaikan kebenaran menurut pemahamannya tanpa merasa harus memaksa semua orang menerima pemahamannya.
Inilah salah satu buah penting dari pendalaman diri.
Dari Samadhi Menuju Laku.
Nawa Samadhi akan kehilangan maknanya apabila hanya menjadi istilah yang dibicarakan.
Pengetahuan tentang Samadhi harus mempunyai hubungan dengan laku.
Jika seseorang memahami pentingnya kejernihan, maka ia belajar menjaga cipta.
Jika memahami pentingnya ketertataan rasa, ia belajar tidak mudah dikuasai kebencian.
Jika memahami pentingnya kebersihan karsa, ia belajar memeriksa tujuan sebelum bertindak.
Dengan demikian, Samadhi tidak berhenti sebagai kegiatan tertentu.
Ia menjadi cara manusia menjalani kehidupan.
Samadhi sebagai Proses yang Terus Berlangsung.
Pendalaman diri bukan pekerjaan sekali selesai.
Hari ini seseorang mungkin mampu menahan amarah.Besok mungkin ia kembali kehilangan kendali.
Hari ini ia mampu menerima perbedaan. Besok mungkin ia kembali tersulut oleh perkataan seseorang.
Hal tersebut bukan alasan untuk berhenti.
Manusia memang sedang belajar.
Yang penting adalah kemauan untuk melihat kekurangan diri, mengakuinya, lalu memperbaikinya.
Karena itu, Nawa Samadhi sebaiknya tidak dipahami sebagai gelar yang setelah dicapai kemudian selesai.
Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung sepanjang kehidupan.
Jangan Terjebak Mengejar Tingkatan.
Ada bahaya lain dalam mempelajari konsep bertingkat.
Manusia dapat mulai sibuk bertanya:
“Sudah sampai tahap berapa saya?”
Pertanyaan tersebut justru dapat menjauhkan manusia dari hakekat pendalaman diri.
Sebab seseorang yang benar-benar mendalam tidak membutuhkan pengakuan bahwa dirinya telah berada pada tingkat tertentu.
Yang lebih penting adalah pertanyaan:
“Apakah cipta saya hari ini lebih jernih daripada kemarin?”
“Apakah rasa saya semakin mampu memahami sesama?”
“Apakah karsa saya semakin bersih dari pamrih?”
Pertanyaan semacam itu jauh lebih berguna daripada mengejar sebutan.
Buah Nawa Samadhi.
Jika Nawa Samadhi benar-benar dihayati, buahnya seharusnya dapat dirasakan dalam kehidupan.
Manusia menjadi lebih tenang tanpa kehilangan ketegasan. Lebih lembut tanpa menjadi lemah. Lebih mampu memahami tanpa kehilangan pendirian. Lebih banyak mengetahui tetapi tidak merasa paling tahu. Lebih mampu berbuat baik tanpa sibuk menuntut pengakuan. Dan semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Pada akhirnya, pendalaman diri membawa manusia kembali kepada kesadaran bahwa kualitas kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa banyak seseorang berbicara tentang kebaikan, melainkan oleh seberapa banyak kebaikan yang benar-benar hidup dalam cipta, rasa, budi, dan perbuatannya.
Penutup
Nawa Samadhi Uttamopadesa bukan sekadar pembahasan tentang keadaan hening. Ia adalah perjalanan untuk mendalami diri dan membuktikan kedalaman tersebut melalui kehidupan.
Maka rumah, keluarga, pekerjaan, masyarakat, perbedaan pendapat, keberhasilan, kegagalan, pujian, celaan, bahkan konflik sekalipun dapat menjadi tempat belajar.
Tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sepi untuk memulai pendalaman diri. Justru di tengah keramaian kehidupanlah manusia dapat melihat seberapa jauh kejernihan itu telah tumbuh.
Samadhi bukan meninggalkan kehidupan untuk mencari ketenangan. Samadhi adalah mendalami diri agar mampu kembali menjalani kehidupan dengan lebih jernih.
FAQ - Nawa Samadhi Uttamopadesa dalam Kehidupan Sehari-hari.
1. Apakah Nawa Samadhi hanya dilakukan ketika sedang menyepi?
Tidak. Keheningan dapat membantu proses pendalaman, tetapi hasil Samadhi justru dapat dilihat dari perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagaimana cara menerapkan Nawa Samadhi dalam kehidupan sehari-hari?
Dengan belajar mengamati cipta, rasa, dan karsa sebelum berbicara atau bertindak, terutama ketika menghadapi kemarahan, perbedaan, kekecewaan, atau keinginan yang tidak terpenuhi.
3. Apakah orang yang sudah mendalami Samadhi tidak boleh marah?
Marah sebagai gejolak rasa manusiawi dapat muncul. Yang penting adalah manusia tidak membiarkan kemarahan menguasai ucapan dan perbuatannya.
4. Apakah Samadhi berarti harus mengalah kepada orang lain?
Tidak. Pendalaman diri bukan berarti kehilangan pendirian. Manusia tetap dapat tegas, tetapi ketegasan tersebut tidak harus disertai kebencian atau keinginan menyakiti.
5. Mengapa kehidupan sehari-hari dianggap sebagai tempat menguji Samadhi?
Karena dalam kehidupan nyata manusia berhadapan dengan berbagai keadaan yang menguji cipta, rasa, dan karsa. Dari situlah perkembangan dirinya dapat terlihat.
6. Apakah Nawa Samadhi merupakan tingkatan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Tidak. Nawa Samadhi adalah peta pendalaman diri, bukan alat untuk mengukur siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah.
7. Apa hubungan Nawa Samadhi dengan perubahan perilaku?
Pendalaman yang benar semestinya membawa perubahan perilaku. Semakin jernih pemahaman seseorang, semakin baik pula cara ia berbicara, bersikap, dan bertindak.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.