MEMAHAMI GERAK PERASAAN DENGAN WENING
Mengenali Rasa merupakan tataran keempat dalam laku pangawikaning dhiri. Setelah mengenali raga sebagai sarana menjalani kehidupan, indriya sebagai pintu menerima berbagai tanda dari lingkungan, dan cipta sebagai tempat mengolah pengalaman menjadi pemikiran, manusia kemudian perlu mengenali rasa sebagai daya yang memberikan warna terhadap seluruh pengalaman kehidupan.
Melalui rasa, manusia tidak hanya mengetahui bahwa suatu peristiwa terjadi, tetapi juga mengalami bagaimana peristiwa tersebut dirasakan dalam dirinya.
Kegembiraan, kesedihan, ketenteraman, kekhawatiran, kesukaan, kebencian, cinta, kecewa, dan berbagai perasaan lainnya merupakan bagian dari dinamika rasa dalam kehidupan.
Rasa membuat kehidupan menjadi penuh warna. Namun, rasa juga dapat menjadi sumber kekeliruan apabila manusia tidak mampu mengenali dan mengolahnya dengan baik.
Rasa sebagai Bagian dari Panguripan.
Rasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang mengalami berbagai gerak rasa sepanjang kehidupannya.
Ketika mendapatkan sesuatu yang diharapkan, rasa bahagia dapat muncul.
Ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, rasa sedih dapat hadir.
Ketika menghadapi keadaan yang belum diketahui, rasa khawatir dapat muncul.
Ketika mendapatkan perlakuan yang dianggap tidak adil, rasa kecewa atau marah dapat timbul.
Semua itu merupakan pengalaman yang wajar.
Karena itu, mengenali rasa bukan berarti berusaha menghilangkan rasa dari kehidupan. Manusia tidak perlu menjadi pribadi yang tidak memiliki kegembiraan, kesedihan, kasih, atau kekhawatiran.
Yang perlu dilakukan adalah mengenali setiap gerak rasa tanpa langsung menjadi pengikutnya.
Rasa boleh hadir, tetapi manusia tetap perlu mawas terhadap apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Rasa Memberikan Warna pada Kehidupan.
Jika cipta membantu manusia memahami sesuatu melalui pemikiran, rasa memberikan pengalaman terhadap apa yang dipahami tersebut.
Satu peristiwa dapat dipikirkan dengan cara tertentu, tetapi rasa yang menyertainya dapat membuat pengalaman menjadi berbeda.
Seseorang dapat mengetahui bahwa hujan turun, tetapi rasa yang muncul dapat berbeda-beda. Bagi seseorang yang sedang membutuhkan air, hujan dapat terasa menggembirakan. Bagi orang yang sedang bepergian, hujan dapat terasa mengganggu.
Peristiwa yang sama dapat melahirkan rasa yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa rasa memberikan warna terhadap pengalaman manusia.
Namun, warna tersebut tidak selalu menggambarkan keadaan secara utuh.
Rasa merupakan pengalaman manusia terhadap suatu keadaan, bukan ukuran mutlak mengenai keadaan itu sendiri.
Ketika Rasa Menjadi Penguasa.
Masalah muncul ketika manusia tidak lagi mengenali rasa sebagai bagian dari pengalaman, tetapi menjadikan rasa sebagai penentu utama seluruh kehidupannya.
Rasa suka dapat membuat manusia menerima sesuatu tanpa memeriksa dengan baik.
Rasa benci dapat membuat manusia menolak sesuatu tanpa memahami keadaan sebenarnya.
Rasa takut dapat membuat manusia melihat ancaman yang belum tentu ada.
Rasa kecewa dapat membuat manusia menilai seluruh keadaan berdasarkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Dalam keadaan demikian, rasa dapat memengaruhi cipta dan karsa.
Cipta menjadi sulit melihat dengan wening karena telah dipengaruhi rasa. Karsa pun dapat terdorong untuk bertindak hanya demi mengikuti gerak rasa.
Karena itu, manusia perlu belajar mengenali rasa sebelum rasa tersebut menguasai laku kehidupan.
Rasa Tidak Perlu Dilawan.
Mengenali rasa bukan berarti melawan rasa.
Semakin manusia berusaha memaksa dirinya agar tidak merasakan sesuatu, semakin besar kemungkinan rasa tersebut justru menjadi beban yang tidak dipahami.
Jika sedih, manusia dapat menyadari bahwa rasa sedih sedang muncul.
Jika kecewa, manusia dapat menyadari adanya rasa kecewa.
Jika marah, manusia dapat menyadari bahwa rasa marah sedang bergerak dalam dirinya.
Kesadaran tersebut berbeda dengan mengikuti rasa.
Merasakan kemarahan tidak berarti harus bertindak berdasarkan kemarahan.
Merasakan ketakutan tidak berarti harus mengikuti ketakutan.
Merasakan kesukaan tidak berarti harus memenuhi semua keinginan yang muncul darinya. Di sinilah letak pentingnya mawas rasa.
Rasa Selalu Bergerak dan Berubah.
Salah satu hal penting dalam mengenali rasa adalah memahami sifatnya yang berubah.
Rasa bahagia dapat berubah menjadi biasa.
Rasa sedih dapat berkurang. Kemarahan dapat mereda. Kekhawatiran dapat hilang setelah keadaan menjadi jelas. Rasa suka pun dapat berubah menjadi tidak suka.
Tidak ada rasa yang terus berada dalam keadaan yang sama.
Kesadaran terhadap perubahan tersebut membantu manusia tidak terlalu melekat kepada rasa tertentu.
Ketika bahagia, ia tidak menganggap kebahagiaan tersebut akan berlangsung selamanya.
Ketika sedih, ia tidak menganggap kesedihan tersebut akan menetap selamanya.
Ketika kecewa, ia tidak menjadikan kekecewaan sebagai dasar untuk menilai seluruh kehidupannya.
Dengan demikian, manusia dapat mengalami rasa secara utuh tanpa kehilangan keweningan.
Membedakan Rasa dan Kasunyatan.
Rasa dapat memberikan kesan tertentu terhadap suatu keadaan. Namun, kesan tersebut belum tentu sama dengan keadaan yang sebenarnya.
Ketika seseorang merasa tidak disukai, misalnya, rasa tersebut merupakan pengalaman yang nyata bagi dirinya. Tetapi perasaan tersebut belum otomatis membuktikan bahwa orang lain benar-benar tidak menyukainya.
Demikian pula ketika seseorang merasa bahwa dirinya gagal. Perasaan gagal merupakan keadaan yang sedang dialaminya, tetapi belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan mengenai dirinya.
Karena itu, manusia perlu membedakan antara apa yang dirasakan dan apa yang sebenarnya terjadi.
Rasa perlu dihargai sebagai pengalaman, tetapi tidak selalu dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan kasunyatan.
Rasa, Cipta, dan Karsa.
Rasa memiliki hubungan erat dengan cipta dan karsa.
Cipta dapat memberikan pemahaman terhadap suatu keadaan. Rasa memberikan pengalaman terhadap keadaan tersebut.
Karsa kemudian dapat menentukan tindakan.
Ketiganya saling memengaruhi.
Pemikiran tertentu dapat menimbulkan rasa. Rasa tertentu dapat memengaruhi pemikiran. Keduanya kemudian dapat mendorong karsa untuk bertindak.
Karena itu, apabila rasa tidak diwaspadai, pengaruhnya dapat menjalar ke cipta dan karsa.
Sebaliknya, rasa yang dikenali dan diolah dengan baik dapat membantu cipta tetap jernih dan karsa tetap teguh.
Tujuannya bukan membuat manusia menjadi tanpa rasa, melainkan membuat rasa berada dalam tatanan yang selaras dengan kehidupan.
Rasa yang Bening.
Menurut kawruh Uttamopadesa, rasa yang bening bukan berarti rasa yang kosong atau tidak memiliki perasaan.
Rasa yang bening adalah rasa yang semakin bersih dari keinginan, pamrih, kebencian, dan keterikatan yang membuat pandangan menjadi kabur.
Rasa tetap dapat merasakan kebahagiaan, kasih, kesedihan, maupun keprihatinan.
Namun, rasa tersebut tidak lagi dengan mudah menyeret manusia kepada tindakan yang bertentangan dengan kebaikan.
Rasa bening membuat manusia mampu merasakan tanpa kehilangan keweningan.
Ia dapat mencintai tanpa memiliki secara
berlebihan.
Ia dapat menikmati tanpa menjadi terikat.
Ia dapat bersedih tanpa tenggelam dalam kesedihan.
Ia dapat menghadapi penolakan tanpa membangun kebencian.
Dengan demikian, rasa menjadi bagian yang memperkaya kehidupan tanpa menguasainya.
Mawas terhadap Gerak Rasa.
Latihan mengenali rasa dapat dilakukan dengan memperhatikan perubahan yang terjadi dalam diri.
Ketika rasa tertentu muncul, manusia dapat bertanya:
Apa yang sedang kurasakan?
Kemudian:
Apa yang menyebabkan rasa ini muncul?
Dan:
Apakah rasa ini sedang memengaruhi cara berpikir dan tindakanku?
Pertanyaan tersebut membantu manusia melihat hubungan antara rasa, cipta, dan karsa.
Dengan mawas seperti itu, manusia tidak lagi sekadar mengalami rasa, tetapi juga memahami geraknya.
Pemahaman tersebut menjadi bagian dari proses membersihkan dan menjernihkan kehidupan.
Rasa sebagai Pintu Cahaya Kawruh.
Rasa yang tidak terawat dapat menjadi kabut yang menutupi kasunyatan. Sebaliknya, rasa yang bening dapat menjadi bagian penting dalam membuka jalan menuju kawruh.
Ketika rasa tidak lagi dikuasai oleh kebencian, keinginan, pamrih, dan keterikatan, manusia dapat melihat keadaan dengan lebih tenang.
Cipta menjadi lebih terang karena tidak terus-
menerus digerakkan oleh gejolak rasa.
Karsa menjadi lebih teguh karena tidak mudah berubah mengikuti dorongan sesaat.
Pada akhirnya, manusia mampu menjalani kehidupan dengan keseimbangan yang lebih baik.
Mengenali Rasa sebagai Laku Pangawikaning Dhiri.
Mengenali rasa merupakan bagian penting dari perjalanan pangawikaning dhiri.
Setelah mengenali raga, manusia belajar mengenali indriya. Setelah itu, manusia belajar mengenali cipta. Selanjutnya, manusia belajar mengenali rasa sebagai gerak yang memberikan warna pada pengalaman kehidupan.
Dari sini manusia mulai memahami bahwa tidak semua rasa harus diikuti.
Rasa perlu dirasakan, dikenali, dipahami, dan diolah.
Dengan mawas terhadap rasa, manusia belajar menerima kegembiraan tanpa kesombongan, menghadapi kesedihan tanpa keputusasaan, menerima kasih tanpa keterikatan, dan menghadapi kebencian tanpa membiarkannya menguasai tindakan.
Pada akhirnya, rasa yang bening tidak menghilangkan rasa, tetapi menempatkan rasa pada kedudukannya yang tepat.
Ketika rasa semakin bening, cipta semakin terang dan karsa semakin teguh. Ketiganya kemudian dapat diarahkan untuk menjalani kehidupan secara lebih bijaksana dan selaras dengan Tatananing Panguripan.
FAQ - Mengenali Rasa.
1. Apa yang dimaksud dengan rasa?
Rasa adalah daya yang menyertai pengalaman kehidupan dan memungkinkan manusia merasakan berbagai keadaan seperti bahagia, sedih, tenang, khawatir, suka, benci, cinta, dan kecewa.
2. Apakah rasa harus dihilangkan?
Tidak. Rasa merupakan bagian dari panguripan. Yang perlu dilakukan adalah mengenali dan mengolah rasa agar manusia tidak terseret oleh geraknya.
3. Mengapa rasa dapat mengaburkan kasunyatan?
Karena manusia dapat menilai keadaan berdasarkan rasa suka, benci, takut, kecewa, atau keinginan. Akibatnya, pengalaman rasa dapat dianggap sebagai gambaran keadaan yang sebenarnya.
4. Apa yang dimaksud dengan mawas rasa?
Mawas rasa berarti memperhatikan dan menyadari setiap gerak rasa yang muncul tanpa terburu-buru mengikuti atau menolaknya.
5. Apakah mengikuti rasa selalu salah?
Tidak semua rasa harus ditolak, tetapi tidak semua rasa harus diikuti. Manusia perlu melihat apakah dorongan yang muncul selaras dengan cipta yang wening, rasa yang bening, dan karsa yang utama.
6. Apa yang dimaksud dengan rasa yang bening?
Rasa yang bening adalah rasa yang tidak lagi dikuasai oleh keinginan, pamrih, kebencian, dan keterikatan yang membuat pandangan terhadap kehidupan menjadi kabur.
7. Apakah rasa bahagia juga perlu diwaspadai?
Ya, dalam arti perlu disadari. Kebahagiaan merupakan pengalaman yang baik, tetapi manusia tetap perlu memahami bahwa rasa tersebut dapat berubah dan tidak sepatutnya menjadi sumber keterikatan.
8. Apa hubungan rasa dengan cipta dan karsa?
Rasa dapat mempengaruhi cipta dan karsa. Rasa tertentu dapat mengubah cara berpikir dan mendorong tindakan tertentu. Karena itu, rasa perlu dikenali agar cipta tetap wening dan karsa tetap teguh.
9. Bagaimana cara mulai mengenali rasa?
Perhatikan rasa ketika muncul, beri ruang untuk menyadarinya, kemudian amati penyebabnya dan pengaruhnya terhadap pemikiran serta tindakan. Jangan langsung mengikuti dorongan tersebut.
10. Apa tujuan akhir mengenali rasa?
Tujuannya agar manusia mampu mengalami berbagai rasa tanpa diperbudak oleh rasa tersebut. Dengan rasa yang semakin bening, cipta menjadi lebih terang dan karsa semakin teguh dalam menjalani Tatananing Panguripan.
NAWA PANGAWIKANING DHIRI.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.