MENGENALI PENGHALANG

mengenali penghalang
MENYADARI SESUATU YANG MENUTUPI KASUNYATAN

Mengenali Penghalang merupakan tataran ketujuh dalam laku pangawikaning dhiri. Setelah manusia belajar mengenali raga, indriya, cipta, rasa, dan bagian-bagian diri lainnya, ia mulai melihat bahwa perjalanan menuju kasunyatan tidak selalu terhalang oleh keadaan di luar dirinya. Sering kali, penghalang justru tumbuh dari dalam diri sendiri.

Penghalang tersebut tidak selalu tampak secara lahiriah. Ia dapat berupa cara berpikir, gerak rasa, keinginan, kebiasaan, ataupun sikap terhadap kehidupan. Semua itu dapat menyelimuti cipta, rasa, dan karsa sehingga manusia kesulitan melihat keadaan sebagaimana adanya.

Karena itu, mengenali penghalang merupakan bagian penting dari pangawikaning dhiri. Manusia belajar melihat apa yang membuat dirinya sulit menerima, sulit memahami, sulit mengakui kesalahan, dan sulit menjalani kehidupan secara selaras dengan Tatananing Panguripan.

Penghalang Tumbuh dari Dalam Diri
Tidak semua kesulitan dalam kehidupan berasal dari luar.

Kadang-kadang keadaan sebenarnya tidak terlalu berat, tetapi cara manusia memandangnya membuat keadaan tersebut terasa semakin sulit. Sebuah nasihat dianggap sebagai serangan. Perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman.

Kehilangan sesuatu dianggap sebagai akhir dari segala-galanya. Keinginan yang tidak terpenuhi dianggap sebagai ketidakadilan.

Dalam keadaan seperti itu, yang menjadi penghalang bukan semata-mata peristiwa yang terjadi, melainkan gerak cipta, rasa, dan karsa dalam menghadapi peristiwa tersebut.

Karena itu, mengenali penghalang membutuhkan keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Manusia tidak hanya bertanya, “Apa yang menghalangiku?”, tetapi juga bertanya, “Apa dalam diriku yang membuatku terhalang?”

Pertanyaan kedua membawa laku kepada mawas dhiri yang lebih dalam.

Kesombongan sebagai Penghalang.
Salah satu penghalang yang kuat adalah kesombongan. Kesombongan membuat manusia merasa dirinya lebih benar, lebih tahu, atau lebih tinggi daripada orang lain. Ia sulit menerima nasihat karena menganggap pemikirannya sendiri sudah cukup.

Ketika kesombongan menguasai cipta, pintu kawruh menjadi semakin sempit. Bukan karena tidak ada pengetahuan yang dapat diterima, tetapi karena manusia telah menutup dirinya sendiri terhadap kemungkinan untuk belajar.

Kesombongan juga dapat membuat seseorang sulit mengakui kesalahan.

Padahal, pengakuan terhadap kekeliruan merupakan bagian penting dari pangawikaning dhiri. Manusia yang mampu mengatakan, “Pemahamanku mungkin belum benar,” justru memiliki ruang untuk belajar lebih jauh.

Karena itu, mengurangi kesombongan bukan berarti merendahkan diri. Yang dilakukan adalah menempatkan diri secara wajar dan menyadari bahwa pemahaman manusia selalu memiliki batas.

Keterikatan sebagai Penghalang.
Penghalang lainnya adalah keterikatan. Keterikatan dapat muncul terhadap harta, kedudukan, pujian, hubungan, kebiasaan, maupun pemikiran sendiri.

Keterikatan membuat manusia sulit melihat sesuatu dengan jujur karena penilaiannya selalu dipengaruhi oleh apa yang ingin dipertahankan.

Seseorang yang terlalu terikat pada kedudukan akan sulit menerima keadaan ketika kedudukannya berubah. Orang yang terlalu terikat pada pujian akan mudah kecewa ketika tidak lagi mendapatkan penghargaan. Orang yang terlalu terikat pada pendapat sendiri akan sulit menerima pandangan yang berbeda.

Keterikatan bukan hanya membuat manusia takut kehilangan, tetapi juga dapat mengubah cara melihat kasunyatan.

Karena itu, mengenali keterikatan berarti belajar bertanya apakah sesuatu memang perlu dipertahankan atau sebenarnya hanya dipertahankan karena keakuan dan kebiasaan.

Ketakutan yang Menghalangi.
Ketakutan juga dapat menjadi penghalang dalam perjalanan menuju kasunyatan.

Ketakutan terhadap perubahan dapat membuat manusia mempertahankan keadaan yang sebenarnya sudah tidak selaras.

Ketakutan terhadap penilaian orang lain dapat membuat manusia tidak berani menjadi jujur.

Ketakutan terhadap kesalahan dapat membuat seseorang tidak berani belajar.

Ketakutan memiliki manfaat ketika membantu manusia berhati-hati terhadap bahaya.

Namun, ketakutan yang tidak diperiksa dapat berkembang menjadi sesuatu yang membatasi kehidupan.

Manusia akhirnya tidak lagi bertindak berdasarkan apa yang benar-benar diperlukan, tetapi berdasarkan apa yang ingin dihindarinya.

Karena itu, ketakutan perlu dikenali, bukan langsung dituruti.

Manusia dapat bertanya, “Apa yang sebenarnya kutakutkan?” dan “Apakah ketakutan ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya?”

Dengan cara tersebut, manusia mulai membedakan antara bahaya nyata dan bayangan yang dibentuk oleh cipta.

Kebencian yang Menutupi Pamawas.
Kebencian juga dapat menjadi penghalang yang kuat. Ketika rasa benci tumbuh, perhatian manusia sering tertuju kepada kesalahan atau kekurangan orang yang dibenci. Kebaikan yang ada dapat menjadi tidak terlihat. Penilaian menjadi berat sebelah.

Kebencian dapat membuat cipta terus mengulang pengalaman yang tidak menyenangkan. Semakin sering diingat, semakin kuat pula rasa tersebut.

Akibatnya, manusia tidak lagi melihat keadaan yang sedang terjadi, tetapi melihatnya melalui pengalaman buruk yang telah tersimpan.

Karena itu, kebencian perlu dikenali sebagai gerak rasa yang dapat mengaburkan pamawas.

Mengenali kebencian tidak berarti membenarkan kesalahan orang lain. Manusia tetap dapat mengetahui bahwa suatu tindakan tidak baik tanpa harus memelihara kebencian terhadap pelakunya.

Di sinilah rasa kasih memiliki ruang untuk tumbuh.

Keinginan yang Tidak Terawat.
Keinginan merupakan bagian dari kehidupan. Manusia membutuhkan kehendak untuk bergerak, bekerja, belajar, dan mencapai sesuatu.

Namun, keinginan yang tidak terawat dapat berubah menjadi penghalang.

Ketika manusia terus mengejar sesuatu tanpa batas, ia dapat kehilangan kemampuan untuk melihat apa yang sudah dimiliki.

Keinginan dapat membuat seseorang mengorbankan ketenteraman, hubungan, bahkan nilai yang seharusnya dijaga.

Masalahnya bukan semata-mata pada keinginan, tetapi pada keadaan ketika keinginan mulai menguasai karsa.

Karsa tidak lagi bertanya apakah sesuatu selaras dengan Tatananing Panguripan.

Karsa hanya mencari cara untuk memenuhi kehendak.

Karena itu, keinginan perlu dikenali dan dirawat agar tetap berada dalam tatanan yang wajar.

Penghalang Tidak Harus Dilawan.
Menurut Uttamopadesa, penghalang tidak harus dilawan dengan paksaan. Semakin manusia membenci kesombongannya, membenci ketakutannya, atau memaksa dirinya agar tidak memiliki keinginan, belum tentu penghalang tersebut hilang.

Yang lebih penting adalah menyadarinya dengan wening.

Ketika kesombongan muncul, sadari.

Ketika keterikatan muncul, lihat.

Ketika ketakutan muncul, pahami.

Ketika kebencian muncul, amati.

Ketika keinginan muncul, periksa.

Kesadaran tersebut memberikan ruang bagi manusia untuk memahami asal-usul dan gerak penghalang.

Memahami Asal dan Geraknya.
Sebuah penghalang menjadi lebih mudah dikenali ketika manusia mengetahui bagaimana penghalang tersebut tumbuh.

Kesombongan mungkin muncul karena kebutuhan untuk dianggap lebih baik.

Keterikatan mungkin tumbuh karena takut kehilangan.

Ketakutan mungkin berasal dari pengalaman masa lalu atau ketidakpastian terhadap masa depan.

Kebencian dapat tumbuh karena luka yang terus dipelihara.

Keinginan yang berlebihan dapat berkembang karena manusia terus mengejar kepuasan.

Dengan melihat asal-usul tersebut, manusia tidak lagi hanya melihat gejalanya, tetapi mulai memahami prosesnya.

Dari pemahaman tersebut, kekuatan penghalang perlahan dapat berkurang.

Cahaya Kawruh sebagai Penerang.
Yang mengurangi kekuatan penghalang bukan semata-mata paksaan, tetapi cahaya kawruh yang tumbuh dari mawas dhiri.

Ketika manusia mampu melihat dirinya sendiri dengan jujur, berbagai penghalang yang sebelumnya tidak disadari mulai terlihat.

Apa yang dahulu dianggap sebagai kebenaran mutlak mungkin ternyata hanya pendapat.

Apa yang dahulu dianggap sebagai kebencian terhadap orang lain mungkin ternyata merupakan luka yang belum dipahami.

Apa yang dahulu dianggap sebagai kebutuhan mungkin ternyata hanya keinginan.

Semakin jelas pengenalan tersebut, semakin kecil kemungkinan manusia dikuasai oleh penghalang.

Penghalang dan Kebersihan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Penghalang pada akhirnya berkaitan erat dengan tiga bagian penting dalam kehidupan manusia: cipta, rasa, dan karsa.

Kesombongan dan prasangka dapat mengeruhkan cipta.

Kebencian dan keterikatan dapat mengeruhkan rasa.

Keinginan yang tidak terawat dapat menyimpangkan karsa.

Karena itu, mengenali penghalang tidak berdiri sendiri. Laku ini menjadi bagian dari usaha membersihkan seluruh diri agar ketiga daya tersebut dapat berjalan secara selaras.

Ketika cipta semakin wening, manusia lebih mudah melihat keadaan.

Ketika rasa semakin bening, manusia tidak mudah dikuasai kebencian dan keterikatan.

Ketika karsa semakin teguh, manusia tidak mudah terseret oleh dorongan sesaat.

Mengenali Penghalang sebagai Laku Pangawikaning Dhiri.
Pada akhirnya, Mengenali Penghalang merupakan latihan untuk melihat apa saja yang menutupi jalan menuju kasunyatan.

Manusia tidak perlu mencari penghalang hanya di luar dirinya. Ia perlu melihat ke dalam dan mengenali berbagai gerak yang membuat pamawas menjadi kabur.

Kesombongan perlu dikenali agar tidak menutup pintu kawruh.

Keterikatan perlu dipahami agar manusia tidak kehilangan kebebasan dalam melihat.

Ketakutan perlu disadari agar tidak menguasai keputusan.

Kebencian perlu dijernihkan agar tidak menutupi rasa kasih.

Keinginan perlu dirawat agar tidak menguasai karsa.

Semua itu bukan dilakukan dengan paksaan, melainkan melalui mawas dhiri dan keweningan.

Ketika penghalang semakin dikenali, manusia semakin mampu melihat dirinya sendiri dengan jujur. Dari sana, cipta menjadi lebih wening, rasa semakin bening, dan karsa semakin teguh.

Dengan demikian, laku pangawikaning dhiri tidak hanya membuat manusia mengenali apa yang ada dalam dirinya, tetapi juga mengenali apa yang selama ini menutupi dirinya.

Yang disadari dapat diolah. Yang diolah dengan wening dapat dijernihkan. Dan yang semakin jernih akan membuka jalan menuju kasunyatan.

Dari sinilah manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan selaras dengan Tatananing Panguripan.

FAQ - Mengenali Penghalang.
1. Apa yang dimaksud dengan penghalang dalam pangawikaning dhiri?
Penghalang adalah segala sesuatu dalam diri yang dapat menutupi pamawas dan menghambat manusia dalam melihat kasunyatan secara jernih. Penghalang dapat berupa kesombongan, keterikatan, ketakutan, kebencian, maupun keinginan yang tidak terawat.

2. Apakah penghalang selalu berasal dari luar diri?
Tidak. Dalam laku mengenali penghalang, perhatian terutama diarahkan kepada apa yang tumbuh di dalam diri. Keadaan luar memang dapat menjadi pemicu, tetapi cara manusia menerima dan mengolah keadaan tersebut turut menentukan munculnya penghalang.

3. Mengapa kesombongan menjadi penghalang?
Kesombongan membuat manusia merasa paling benar dan sulit menerima kemungkinan bahwa pemikirannya dapat keliru. Akibatnya, cipta menjadi tertutup dan kesempatan untuk menerima kawruh menjadi semakin kecil.

4. Apa yang dimaksud dengan keterikatan?
Keterikatan adalah keadaan ketika manusia terlalu melekat kepada sesuatu sehingga sulit melihat keadaan secara bebas dan jujur. Keterikatan dapat terjadi terhadap harta, kedudukan, pujian, hubungan, kebiasaan, maupun pemikiran sendiri.

5. Apakah ketakutan selalu buruk?
Tidak. Ketakutan dapat membuat manusia berhati-hati terhadap bahaya. Yang menjadi penghalang adalah ketakutan yang tidak dikenali dan kemudian menguasai cara berpikir maupun tindakan.

6. Bagaimana kebencian dapat menjadi penghalang?
Kebencian dapat membuat manusia melihat seseorang atau suatu keadaan hanya melalui pengalaman buruk dan penilaian negatif. Akibatnya, pamawas menjadi kabur dan cipta sulit melihat keadaan secara utuh.

7. Apakah keinginan harus dihilangkan?
Tidak. Keinginan merupakan bagian dari kehidupan dan dapat menjadi dorongan untuk melakukan sesuatu. Yang perlu dilakukan adalah merawat keinginan agar tidak berkembang menjadi keterikatan atau menguasai karsa.

8. Bagaimana cara menghadapi penghalang?
Penghalang perlu dikenali dengan mawas dhiri. Amati ketika kesombongan, keterikatan, ketakutan, kebencian, atau keinginan muncul. Kemudian pahami asal-usul dan pengaruhnya sebelum mengambil tindakan.

9. Mengapa penghalang tidak perlu dilawan dengan paksaan?
Karena paksaan belum tentu membuat manusia memahami akar penghalang. Dengan menyadari dan memahami geraknya secara wening, manusia dapat melihat penyebabnya dan secara bertahap mengurangi kekuatannya.

10. Apa hubungan mengenali penghalang dengan cipta, rasa, dan karsa?
Penghalang dapat mengeruhkan cipta, menggelapkan rasa, dan menyimpangkan karsa. Dengan mengenali penghalang, ketiga daya tersebut dapat kembali ditata agar lebih wening, bening, dan teguh.

11. Apa tujuan mengenali penghalang?
Tujuannya adalah membersihkan segala sesuatu yang menutupi pamawas sehingga manusia dapat melihat kasunyatan dengan lebih jernih dan menjalani kehidupan secara selaras dengan Tatananing Panguripan.

12. Apa tanda bahwa penghalang mulai berkurang?
Salah satu tandanya adalah manusia semakin mampu menerima keadaan dengan jernih, tidak mudah terseret kesombongan, kebencian, ketakutan, keterikatan, atau keinginan yang berlebihan. Cipta menjadi lebih wening, rasa lebih bening, dan karsa lebih teguh.

**Sumber artikel :
NAWA PANGAWIKANING DHIRI.

Komentar