MENGENALI LAKU

mengenali laku
Melihat Diri melalui Buah Tindakan

Mengenali Laku merupakan bagian penting dalam proses mengenali diri. Jika cipta berkaitan dengan cara manusia memahami, rasa berkaitan dengan cara manusia menghayati, dan karsa berkaitan dengan kehendak yang menggerakkan tindakan, maka laku merupakan wujud nyata dari ketiganya.

Apa yang tumbuh dalam diri manusia pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk muncul dalam kehidupan. Pikiran dapat mempengaruhi perkataan, perasaan dapat mempengaruhi sikap, dan kehendak akan menggerakkan tindakan.

Karena itu, laku menjadi tempat bertemunya cipta, rasa, dan karsa dalam kehidupan sehari-hari.

Laku bukan hanya rangkaian pekerjaan yang dilakukan manusia. Laku juga merupakan cermin yang memperlihatkan keadaan dirinya.
Melalui laku, manusia dapat melihat apakah cipta telah jernih, rasa telah bening, dan karsa telah tertata.

Laku sebagai Wujud Cipta, Rasa, dan Karsa.
Setiap manusia memiliki pemikiran tentang dirinya sendiri. Seseorang dapat menganggap dirinya sabar, baik, bijaksana, tulus, atau penuh kasih. Namun, penilaian terhadap diri sendiri belum tentu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Cipta, rasa, dan karsa dapat menghasilkan gambaran tertentu tentang diri. Seseorang dapat berpikir bahwa dirinya sudah memahami kebaikan, merasa bahwa dirinya telah memiliki ketulusan, dan menganggap kehendaknya selalu benar.

Namun, semua itu masih berupa keadaan di dalam diri.

Ketika seseorang mulai berbicara, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, memperlakukan orang lain, dan menjalani kehidupan sehari-hari, keadaan tersebut akan tampak melalui laku.

Karena itu, laku menjadi salah satu cara yang paling nyata untuk melihat keadaan diri.

Apa yang dikatakan seseorang dapat disusun dengan baik. Apa yang dipikirkannya dapat dibuat terlihat bijaksana. Namun, ketika berhadapan dengan keadaan yang sebenarnya, laku sering kali memperlihatkan apa yang benar-benar tumbuh di dalam dirinya.

Laku sebagai Cermin Diri.
Laku dapat diibaratkan sebagai cermin. Jika seseorang ingin mengetahui keadaan dirinya, ia tidak cukup hanya melihat apa yang dipikirkan atau dirasakannya. Ia perlu melihat buah dari semua itu dalam kehidupan nyata.

Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak disukainya?

Bagaimana ia bersikap ketika keinginannya tidak terpenuhi?

Bagaimana ia menerima kritik?

Bagaimana ia bertindak ketika tidak ada orang yang melihat?

Bagaimana ia menggunakan kekuasaan atau kesempatan yang dimilikinya?

Bagaimana ia bersikap ketika memperoleh pujian maupun ketika mendapatkan celaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu manusia melihat dirinya melalui laku.

Sebab, laku sering kali berbicara lebih jujur daripada pengakuan seseorang tentang dirinya sendiri.

Ucapan Dapat Disusun, Laku Menunjukkan Kenyataan.
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih kata-kata. Karena itu, ucapan dapat dibuat sedemikian rupa sehingga seseorang terlihat baik, bijaksana, atau tulus.

Namun, laku tidak selalu mudah disembunyikan.

Dalam keadaan tertentu, watak dan dasar karsa akan muncul dengan sendirinya melalui tindakan.

Ketika menghadapi tekanan, misalnya, seseorang mungkin tidak lagi mampu mempertahankan gambaran baik yang selama ini dibangun melalui ucapan.

Di sinilah pentingnya mengenali laku.

Mengenali laku bukan berarti mencari kesalahan orang lain. Justru yang pertama-tama perlu diperiksa adalah diri sendiri.

Manusia perlu berani melihat apakah perkataan dan tindakannya sudah selaras.

Apabila seseorang berbicara tentang kasih tetapi tindakannya sering menimbulkan pertikaian, terdapat sesuatu yang perlu diperiksa.

Apabila seseorang berbicara tentang keselarasan tetapi tindakannya sering merugikan orang lain, terdapat sesuatu yang perlu dibenahi.

Apabila seseorang mengaku tidak memiliki pamrih tetapi mudah kecewa ketika tidak dipuji, maka dasar karsanya perlu diamati kembali.

Dengan demikian, laku menjadi ukuran yang membantu manusia membedakan antara apa yang ingin diyakini tentang dirinya dan apa yang benar-benar tampak melalui kehidupannya.

Mengenali Laku dengan Jujur.
Mengenali laku membutuhkan kejujuran. Manusia memiliki kecenderungan untuk membenarkan dirinya sendiri. Ketika melakukan kesalahan, ia dapat mencari alasan. Ketika menyakiti orang lain, ia dapat merasa bahwa tindakannya terpaksa. Ketika gagal menjaga sikap, ia dapat menyalahkan keadaan.

Jika kebiasaan membenarkan diri terus dipelihara, manusia akan kesulitan melihat keadaan dirinya dengan jernih.

Karena itu, mawas laku berarti berani melihat tindakan sebagaimana adanya tanpa segera mencari pembenaran.

Bukan untuk menghukum diri.

Bukan untuk merendahkan diri.

Melainkan untuk mengetahui apa yang masih perlu diperbaiki.

Ketika suatu tindakan ternyata menimbulkan keruwetan, manusia perlu melihat penyebabnya.

Ketika tindakannya menimbulkan pertikaian, ia perlu memeriksa apa yang mendorongnya.

Ketika tindakannya merugikan orang lain, ia perlu belajar memahami kesalahan tersebut.

Kejujuran seperti inilah yang membuat laku menjadi sarana untuk mengenali diri.

Melihat Buah dari Setiap Laku.
Salah satu cara mengenali laku adalah dengan melihat buah yang dihasilkannya.

Apakah tindakan tersebut membawa ketenteraman atau keruwetan?

Apakah menumbuhkan kasih atau pertikaian?

Apakah menjaga keselarasan atau merusak tatanan?

Apakah membuat hubungan menjadi lebih baik atau justru menimbulkan permusuhan?

Apakah memberi manfaat atau hanya memuaskan kepentingan pribadi?

Pertanyaan semacam itu membantu manusia melihat akibat dari tindakannya.

Buah laku tidak selalu langsung terlihat. Ada tindakan yang pada awalnya tampak kecil, tetapi jika dilakukan berulang-ulang dapat membentuk kebiasaan. Kebiasaan kemudian membentuk watak, dan watak pada akhirnya memengaruhi arah kehidupan.

Karena itu, laku sehari-hari tidak boleh dianggap remeh.

Cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, cara menggunakan waktu, cara menghadapi masalah, serta cara mengambil keputusan semuanya merupakan bagian dari laku.

Kesalahan sebagai Bahan Pembelajaran.
Mengenali laku bukan berarti menuntut manusia agar tidak pernah melakukan kesalahan. Manusia masih dapat keliru. Yang penting adalah bagaimana ia memperlakukan kesalahan tersebut.

Kesalahan dapat menjadi bahan untuk belajar apabila manusia mau melihatnya dengan jujur. Sebaliknya, kesalahan dapat terus berulang apabila selalu dibenarkan atau ditimpakan kepada orang lain.

Ketika seseorang menyadari bahwa tindakannya telah menimbulkan keruwetan, ia dapat bertanya:
“Apa yang perlu saya ubah agar laku berikutnya menjadi lebih baik?”

Pertanyaan ini mengubah kesalahan menjadi pelajaran.

Demikian pula kebaikan perlu diperhatikan. Kebaikan yang telah dilakukan bukan alasan untuk merasa telah selesai. Kebaikan dapat menjadi dasar untuk memperbaiki laku berikutnya.

Dengan demikian, setiap laku menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terus berlangsung.

Hubungan Kawruh dan Laku.
Dalam Uttamopadesa, kawruh dan laku tidak dapat dipisahkan. Kawruh yang hanya berhenti sebagai pengetahuan belum menunjukkan perubahan yang sesungguhnya. Pengetahuan perlu diwujudkan dalam kehidupan agar dapat memberikan buah.

Kawruh yang semakin benar seharusnya mendorong manusia memperbaiki laku.

Sebaliknya, laku yang semakin baik membantu manusia melihat dan memahami kehidupan dengan lebih jernih.

Karena itu, kawruh dan laku saling menguatkan.

Jika seseorang merasa memiliki banyak kawruh tetapi tindakannya masih sering menimbulkan keruwetan bagi dirinya dan orang lain, keadaan tersebut perlu menjadi bahan untuk memeriksa kembali pemahamannya.

Bukan berarti semua kesalahan menunjukkan bahwa kawruhnya salah. Namun, ketidaksesuaian yang terus-menerus antara kawruh dan laku menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang belum benar-benar dipahami atau belum benar-benar dijalankan.

Di sinilah laku menjadi penguji dari kawruh.

Laku sebagai Pengungkapan Kasunyatan Diri.
Manusia dapat membangun berbagai gambaran tentang dirinya. Namun, laku memberikan kesempatan untuk melihat keadaan yang lebih nyata.

Ketika cipta diuji oleh keadaan, rasa diuji oleh pengalaman, dan karsa diuji oleh pilihan, semuanya akan menemukan bentuknya dalam laku.

Karena itu, mengenali laku merupakan proses untuk mengungkap kasunyatan diri melalui buah tindakan.

Bukan untuk mencari kesempurnaan, melainkan untuk mengetahui arah perkembangan diri.

Jika laku semakin mampu membawa ketenteraman, menjaga hubungan, memberikan manfaat, dan menghindari kerugian bagi sesama, hal tersebut menjadi tanda bahwa cipta, rasa, dan karsa semakin tertata.

Sebaliknya, jika laku masih sering menimbulkan keruwetan, pertikaian, atau kerugian, manusia perlu kembali melihat apa yang terjadi dalam cipta, rasa, dan karsanya.

Menuju Laku yang Selaras.
Pada akhirnya, Mengenali Laku merupakan latihan untuk menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai tempat belajar.

Manusia tidak hanya bertanya, “Apa yang saya pikirkan?”, atau “Apa yang saya rasakan?”, dan “Apa yang saya kehendaki?”
Ia juga perlu bertanya:
“Apa yang saya lakukan, dan apa buah dari tindakan saya?”

Pertanyaan tersebut membuat proses mengenali diri menjadi lebih utuh.

Cipta yang wening perlu tampak dalam cara memahami kehidupan. Rasa yang bening perlu tampak dalam cara memperlakukan sesama. Karsa yang utama perlu tampak dalam pilihan dan tindakan.

Ketika ketiganya menemukan keselarasan dalam laku, manusia semakin mampu melihat dirinya dengan jujur.

Maka, Mengenali Laku bukan sekadar mengamati pekerjaan atau perilaku sehari-hari. Ia merupakan laku untuk melihat buah nyata dari cipta, rasa, dan karsa.

Melalui laku, manusia belajar menerima kenyataan tentang dirinya tanpa membenarkan kesalahan dan tanpa merendahkan diri.

Setiap kesalahan menjadi pelajaran.
Setiap kebaikan menjadi dasar untuk memperbaiki laku berikutnya.

Dengan demikian, kehidupan menjadi proses yang terus bergerak menuju kebijaksanaan.
Ketika laku telah semakin selaras dengan cipta yang wening, rasa yang bening, dan karsa yang utama, manusia semakin jelas mengenali keadaan dirinya dan semakin mampu menjalani kehidupan sesuai dengan Tatananing Panguripan.
FAQ - Mengenali Laku.
1. Apa yang dimaksud dengan laku?
Laku adalah wujud nyata dari cipta, rasa, dan karsa dalam kehidupan. Laku mencakup perkataan, pekerjaan, sikap, perilaku, dan tindakan manusia sehari-hari.

2. Mengapa laku dapat menjadi cermin diri?
Karena keadaan cipta, rasa, dan karsa pada akhirnya dapat terlihat melalui tindakan. Laku membantu manusia melihat keadaan dirinya berdasarkan apa yang benar-benar dilakukan, bukan hanya berdasarkan apa yang dipikirkan atau diharapkan.

3. Apakah ucapan tidak penting dalam mengenali diri?
Ucapan tetap penting, tetapi ucapan dapat dipilih dan disusun. Laku memberikan gambaran yang lebih nyata karena menunjukkan bagaimana seseorang benar-benar bertindak ketika menghadapi keadaan kehidupan.

4. Bagaimana cara mengenali laku?
Amati tindakan sehari-hari dan lihat buahnya. Tanyakan apakah tindakan tersebut membawa ketenteraman atau keruwetan, kasih atau pertikaian, manfaat atau kerugian, serta keselarasan atau kerusakan tatanan.

5. Apakah kesalahan menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki kawruh?
Tidak selalu. Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Namun, jika ketidaksesuaian antara kawruh dan laku terus terjadi, keadaan tersebut dapat menjadi tanda bahwa pemahaman masih perlu diperiksa atau belum diwujudkan dengan baik.

6. Apakah mengenali laku berarti menyalahkan diri sendiri?
Tidak. Mengenali laku bertujuan untuk melihat keadaan diri dengan jujur agar dapat belajar dan memperbaiki tindakan. Kesalahan sebaiknya dijadikan pelajaran, bukan alasan untuk merendahkan diri.

7. Apa hubungan laku dengan cipta, rasa, dan karsa?
Laku merupakan wujud nyata dari ketiganya. Cipta memberikan pertimbangan, rasa memberikan penghayatan, karsa menggerakkan kehendak, sedangkan laku memperlihatkan hasilnya dalam kehidupan nyata.

8. Apa tujuan akhir mengenali laku?
Tujuannya adalah mengetahui keadaan diri melalui buah tindakan dan memperbaiki laku agar semakin selaras dengan cipta yang wening, rasa yang bening, karsa yang utama, dan Tatananing Panguripan.

**Sumber artikel :
NAWA PANGAWIKANING DHIRI.  

Komentar