MENYATUKAN CIPTA, RASA, DAN KARSA DALAM LAKU
Mengenali Keselarasan merupakan tataran kedelapan dalam laku pangawikaning dhiri. Pada tahap ini, berbagai pengenalan yang telah dilakukan sebelumnya mulai dipahami sebagai satu kesatuan dalam kehidupan.
Manusia telah belajar mengenali raga sebagai sarana panguripan, mengenali indriya sebagai pintu menerima berbagai keadaan, mengenali cipta sebagai tempat tumbuhnya pemikiran, mengenali rasa sebagai gerak yang memberikan warna kehidupan, mengenali karsa sebagai daya yang mendorong tindakan, serta mengenali laku dan berbagai penghalang yang dapat menutupi pamawas.
Semua pengenalan tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan. Pada tataran keselarasan, semuanya mulai diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keselarasan berarti apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan tidak saling bertentangan, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama dan selaras dengan Tatananing Panguripan.
Keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia.
Cipta digunakan untuk memahami dan mempertimbangkan. Rasa digunakan untuk merasakan dan memberi warna terhadap pengalaman. Karsa menjadi daya yang mendorong manusia untuk menentukan serta melakukan sesuatu.
Ketiganya dapat berjalan bersama, tetapi juga dapat saling bertentangan.
Seseorang dapat mengetahui bahwa sesuatu tidak baik, tetapi rasa sukanya membuat ia tetap menginginkannya. Ia kemudian menggunakan karsa untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya telah diketahui tidak selaras dengan pemahamannya.
Dalam keadaan demikian, cipta, rasa, dan karsa belum berada dalam keselarasan.
Keselarasan tumbuh ketika apa yang dipahami oleh cipta, apa yang dirasakan oleh rasa, dan apa yang dilakukan oleh karsa mulai berada dalam satu arah.
Cipta yang wening melahirkan rasa yang bening, dan rasa yang bening menuntun karsa yang utama.
Keselarasan Bukan Kehidupan Tanpa Masalah.
Keselarasan tidak berarti manusia akan menjalani kehidupan tanpa masalah.
Keruwetan tetap dapat muncul. Perbedaan pendapat tetap ada. Kehilangan, kegagalan, kekecewaan, perubahan, dan berbagai keadaan yang tidak diharapkan tetap menjadi bagian dari panguripan.
Yang berubah adalah cara manusia menghadapi semuanya.
Orang yang belum memiliki keselarasan dapat dengan mudah terseret oleh keadaan.
Ketika mendapatkan keberhasilan, ia menjadi sombong. Ketika mengalami kegagalan, ia berputus asa. Ketika mendapatkan pujian, ia terlena. Ketika mendapatkan celaan, ia kehilangan ketenteraman.
Sebaliknya, manusia yang semakin mengenali keselarasan mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah.
Ia tetap dapat merasakan sedih tanpa tenggelam dalam kesedihan. Ia dapat merasakan bahagia tanpa menjadi sombong.
Ia dapat menerima kritik tanpa langsung membenci. Ia dapat menghadapi kesulitan tanpa kehilangan karsa untuk melakukan kebaikan.
Inilah salah satu bentuk keselarasan dalam kehidupan.
Keselarasan dengan Diri Sendiri.
Keselarasan pertama-tama perlu tumbuh dalam diri sendiri.
Manusia perlu memahami apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya, dan apa yang dilakukannya.
Jika cipta mengatakan satu hal tetapi karsa melakukan hal yang berlawanan, akan muncul keruwetan dalam diri.
Jika rasa dikuasai kebencian sementara cipta sebenarnya mengetahui bahwa kebencian tersebut tidak membawa kebaikan, maka terjadi pertentangan.
Jika seseorang mengetahui sesuatu yang baik tetapi terus-menerus memilih tindakan yang berlawanan, ia semakin jauh dari keselarasan.
Karena itu, keselarasan membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri.
Manusia perlu berani melihat apakah kehidupan yang dijalaninya benar-benar sesuai dengan apa yang dipahaminya.
Keselarasan dalam Laku.
Keselarasan tidak cukup hanya dipahami. Ia harus diwujudkan dalam laku.
Laku merupakan bentuk nyata dari apa yang tumbuh dalam diri.
Jika cipta wening, rasa bening, dan karsa utama, semuanya perlu tampak dalam perkataan dan tindakan sehari-hari.
Keselarasan terlihat ketika manusia mampu berkata dengan jujur, bekerja dengan tanggung jawab, memperlakukan sesama dengan baik, menjaga apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan tidak menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk merugikan orang lain.
Dengan demikian, keselarasan bukan gagasan yang hanya berada dalam pemikiran. Keselarasan harus dapat dilihat melalui cara manusia menjalani kehidupan.
Keselarasan dengan Sesama.
Menurut Uttamopadesa, keselarasan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Manusia hidup bersama manusia lainnya. Karena itu, keselarasan juga perlu diwujudkan dalam hubungan dengan sesama.
Manusia yang selaras tidak hanya mencari ketenteraman untuk dirinya sendiri, tetapi juga memperhatikan akibat dari tindakan yang dilakukannya terhadap orang lain.
Ia tidak menggunakan kebebasannya untuk mengganggu kebebasan orang lain. Ia tidak menggunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun permusuhan.
Keselarasan dalam hubungan dengan sesama tumbuh melalui sikap saling menghargai, kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan kemauan untuk menjaga kerukunan.
Dengan demikian, keselarasan pribadi dapat berkembang menjadi keselarasan sosial.
Keselarasan dengan Alam.
Manusia juga merupakan bagian dari lingkungan kehidupan.
Karena itu, keselarasan perlu diwujudkan dalam hubungan dengan alam.
Manusia membutuhkan air, udara, tanah, tumbuhan, hewan, dan berbagai sumber kehidupan lainnya. Jika manusia hanya mengambil tanpa mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan, maka terjadi ketidakseimbangan.
Keselarasan dengan alam berarti menggunakan apa yang diperlukan dengan bijaksana, menjaga lingkungan, tidak merusak secara berlebihan, dan memahami bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa keselarasan bukan hanya persoalan kenyamanan pribadi, tetapi juga tanggung jawab terhadap kehidupan yang lebih luas.
Keselarasan dan Perubahan.
Kehidupan selalu mengalami perubahan.
Keadaan yang dahulu menyenangkan dapat berubah. Apa yang dimiliki dapat berkurang.
Hubungan dapat mengalami perubahan. Tubuh menjadi semakin tua. Keadaan lingkungan juga tidak selalu sama.
Manusia yang tidak memahami perubahan akan mudah mengalami keruwetan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai keinginannya.
Sebaliknya, manusia yang mengenali keselarasan belajar menerima perubahan sebagai bagian dari panguripan.
Menerima perubahan bukan berarti pasrah tanpa tindakan. Manusia tetap melakukan apa yang dapat dilakukan, tetapi tidak memaksakan kehidupan agar selalu mengikuti keinginannya.
Di sinilah keselarasan membantu manusia tetap teguh.
Tidak Sombong Ketika Bahagia.
Kebahagiaan juga perlu ditempatkan dalam keselarasan.
Ketika memperoleh keberhasilan, manusia dapat menikmati hasilnya tanpa menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Kebahagiaan diterima sebagai bagian dari perjalanan kehidupan, bukan sebagai bukti bahwa dirinya lebih unggul.
Dengan demikian, rasa bahagia tidak berkembang menjadi kesombongan.
Manusia tetap ingat bahwa keadaan dapat berubah dan setiap keberhasilan memiliki tanggung jawab yang menyertainya.
Tidak Berputus Asa Ketika Mengalami Keruwetan.
Demikian pula ketika menghadapi keruwetan, manusia tidak perlu kehilangan arah.
Keselarasan membuat seseorang mampu melihat bahwa kesulitan merupakan bagian dari perjalanan kehidupan.
Ia boleh merasa sedih, kecewa, atau lelah. Namun, rasa tersebut tidak dibiarkan mengambil alih seluruh kehidupannya.
Cipta tetap digunakan untuk mencari jalan keluar. Rasa tetap dijaga agar tidak berubah menjadi kebencian. Karsa tetap diarahkan untuk melakukan apa yang dapat dilakukan dengan baik.
Dengan demikian, keselarasan bukan berarti tidak merasakan keruwetan, tetapi tidak kehilangan tatanan diri ketika menghadapi keruwetan.
Keselarasan sebagai Buah Kawruh.
Kawruh yang hanya berada dalam pikiran belum menjadi laku yang sempurna.
Seseorang dapat mengetahui pentingnya kejujuran, tetapi jika masih terbiasa berbohong, pengetahuannya belum menjadi keselarasan.
Seseorang dapat memahami pentingnya kasih, tetapi jika tindakannya masih dipenuhi kebencian, pemahamannya belum sepenuhnya diwujudkan.
Karena itu, keselarasan dapat menjadi tanda bahwa kawruh mulai menjadi bagian dari kehidupan.
Apa yang diketahui mulai dijalankan.
Apa yang dipahami mulai diwujudkan.
Apa yang diyakini baik mulai menjadi kebiasaan dalam laku.
Di sinilah kawruh bertemu dengan laku.
Menjaga Keselarasan.
Keselarasan bukan keadaan yang sekali dicapai kemudian tidak perlu dijaga.
Selama manusia masih menjalani kehidupan, berbagai pengaruh dapat muncul kembali.
Kesombongan dapat tumbuh. Keterikatan dapat muncul. Ketakutan dapat datang. Keinginan dapat berubah menjadi berlebihan.
Karena itu, manusia tetap perlu mawas dhiri.
Ia perlu memeriksa kembali cipta, rasa, dan karsanya.
Apakah pikirannya masih wening?
Apakah rasanya masih bening?
Apakah karsanya masih menuju kebaikan?
Pertanyaan tersebut membantu manusia menjaga arah kehidupannya.
Keselarasan sebagai Jalan Menuju Kasunyatan.
Keselarasan membuat manusia semakin mampu melihat kehidupan tanpa terlalu banyak pertentangan dalam dirinya.
Cipta tidak terus-menerus bertentangan dengan rasa.
Rasa tidak terus-menerus menarik karsa ke arah yang berbeda.
Karsa tidak berjalan tanpa pertimbangan.
Ketiganya mulai menyatu dalam satu laku.
Ketika keselarasan tersebut tumbuh, manusia menjadi lebih mudah menjalani kehidupan dengan jernih. Ia tidak mudah dikuasai oleh keadaan, tetapi juga tidak menolak kehidupan secara membabi buta.
Ia menerima, memahami, mempertimbangkan, dan bertindak sesuai dengan apa yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
Dengan demikian, Mengenali Keselarasan merupakan tataran penting dalam pangawikaning dhiri. Pada tahap ini, pengenalan terhadap berbagai bagian diri mulai menjadi satu kesatuan dalam laku.
Keselarasan bukan berarti tidak ada masalah.
Keselarasan berarti ketika masalah datang, manusia tetap mampu menjaga arah.
Keselarasan bukan berarti selalu bahagia.
Keselarasan berarti ketika bahagia datang, manusia tidak kehilangan keweningan.
Keselarasan bukan berarti tidak pernah sedih.
Keselarasan berarti ketika kesedihan datang, manusia tidak kehilangan karsa untuk menjalani kehidupan dengan baik.
Pada akhirnya, keselarasan membuat cipta semakin wening, rasa semakin bening, dan karsa semakin teguh. Ketiganya menyatu dalam laku yang tidak hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama, alam, dan seluruh panguripan.
Dari sinilah manusia semakin dekat dengan kasunyatan dan semakin teguh menjalani Tatananing Panguripan.
FAQ - Mengenali Keselarasan.
1. Apa yang dimaksud dengan keselarasan dalam Uttamopadesa?
Keselarasan adalah keadaan ketika cipta, rasa, dan karsa tidak berjalan sendiri-sendiri atau saling bertentangan, tetapi menyatu dalam satu laku yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
2. Apakah keselarasan berarti hidup tanpa masalah?
Tidak. Keselarasan bukan kehidupan tanpa masalah. Keselarasan berarti manusia tetap mampu menjaga kejernihan, ketenangan, dan arah kebaikan ketika menghadapi berbagai keruwetan.
3. Bagaimana hubungan cipta, rasa, dan karsa dalam keselarasan?
Cipta yang wening membantu memahami keadaan, rasa yang bening membantu merasakan dengan tepat, dan karsa yang utama mengarahkan pemahaman serta perasaan tersebut menjadi tindakan yang baik.
4. Apakah keselarasan hanya berlaku untuk diri sendiri?
Tidak. Keselarasan juga perlu diwujudkan dalam hubungan dengan sesama, alam, dan seluruh panguripan. Manusia tidak hidup sendiri sehingga tindakannya memiliki pengaruh terhadap kehidupan di sekitarnya.
5. Mengapa keselarasan membutuhkan mawas dhiri?
Karena keadaan diri dapat berubah. Kesombongan, keterikatan, ketakutan, kebencian, dan keinginan yang tidak terawat dapat muncul kembali. Mawas dhiri membantu manusia mengenalinya sebelum mengganggu keselarasan.
6. Apakah orang yang selaras tidak boleh merasa sedih atau marah?
Tidak demikian. Keselarasan bukan berarti menghilangkan rasa. Kesedihan, kemarahan, dan rasa lainnya tetap dapat muncul. Yang penting, manusia tidak membiarkan rasa tersebut menguasai seluruh cipta dan karsa.
7. Bagaimana keselarasan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?
Keselarasan diwujudkan melalui tindakan nyata: berpikir dengan jernih, merasakan dengan wajar, berbicara dengan baik, bertindak bertanggung jawab, menjaga hubungan dengan sesama, dan tidak merusak kehidupan di sekitar.
8. Apa tanda bahwa cipta, rasa, dan karsa mulai selaras?
Salah satu tandanya adalah semakin kecil pertentangan antara apa yang dipahami, dirasakan, dan dilakukan. Manusia semakin mampu menjalankan apa yang dianggap baik tanpa mudah terseret dorongan sesaat.
9. Mengapa keselarasan berkaitan dengan kasunyatan?
Keselarasan membantu manusia mengurangi keruwetan yang berasal dari dalam diri. Ketika cipta lebih wening dan rasa lebih bening, manusia dapat melihat keadaan dengan lebih jernih dan tidak mudah memaksakan keinginannya terhadap kasunyatan.
10. Apakah keselarasan dapat hilang?
Keselarasan dapat terganggu oleh berbagai pengaruh. Karena itu, keselarasan perlu terus dijaga melalui mawas dhiri, pengenalan terhadap penghalang, serta pembiasaan laku yang baik.
11. Apa hubungan keselarasan dengan kawruh?
Keselarasan merupakan salah satu bentuk ketika kawruh mulai diwujudkan dalam kehidupan. Kawruh tidak hanya diketahui, tetapi diterapkan dalam cara berpikir, merasakan, memilih, dan bertindak.
12. Apa tujuan mengenali keselarasan?
Tujuannya agar cipta, rasa, dan karsa dapat menyatu dalam satu laku yang selaras dengan Tatananing Panguripan, sehingga manusia mampu menjalani kehidupan dengan lebih jernih, teguh, dan bijaksana.
NAWA PANGAWIKANING DHIRI.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.