Mengenali Jatining Dhiri merupakan tataran terakhir dalam Nawa Pangawikaning Dhiri. Tataran ini memiliki kedudukan yang berbeda dari tahap-tahap sebelumnya. Jika tahap-tahap awal merupakan proses mengenali berbagai unsur yang membentuk kehidupan manusia, maka Mengenali Jatining Dhiri merupakan buah dari keseluruhan proses tersebut.
Jatining Dhiri tidak dapat dipahami hanya dengan menambah pengetahuan atau mengumpulkan berbagai pengertian. Jatining Dhiri mulai dikenali ketika manusia sungguh-sungguh menjalankan mawas dhiri dan mengalami perubahan dalam cara berpikir, merasakan, menghendaki, serta menjalani kehidupan.
Karena itu, tahap ini bukan awal dari laku. Sebaliknya, ia merupakan hasil dari laku yang telah dijalankan secara terus-menerus.
Jatining Dhiri sebagai Buah Pangawikaning Dhiri.
Dalam perjalanan Pangawikaning Dhiri, manusia terlebih dahulu belajar mengenali raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, penghalang, dan keselarasan.
Raga dikenali sebagai sarana untuk menjalani kehidupan. Indriya dipahami sebagai pintu untuk menerima berbagai pengalaman. Cipta dikenali sebagai tempat munculnya pikiran dan pertimbangan. Rasa dikenali sebagai gerak batin yang terus berubah. Karsa dikenali sebagai daya yang mendorong manusia untuk bertindak.
Selanjutnya manusia belajar mengenali laku sebagai perwujudan dari apa yang tumbuh dalam dirinya. Ia juga belajar mengenali berbagai penghalang yang dapat mengaburkan kejernihan cipta, rasa, dan karsa.
Dari sana tumbuh pemahaman mengenai keselarasan, yaitu keadaan ketika cipta, rasa, karsa, dan laku tidak lagi berjalan saling bertentangan.
Apabila proses tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan cahaya kawruh muncul. Bukan karena manusia memaksakan suatu jawaban, melainkan karena berbagai penghalang terhadap kejernihan mulai berkurang.
Pada keadaan itulah Jatining Dhiri mulai dikenali.
Jatining Dhiri Bukan Raga.
Manusia sering kali mengenali dirinya berdasarkan raga. Ia mengatakan, “inilah aku” sambil menunjuk tubuhnya.
Namun raga selalu berubah.
Tubuh manusia mengalami pertumbuhan, penuaan, perubahan bentuk, perubahan kekuatan, bahkan perubahan kemampuan.
Apa yang dimiliki seseorang ketika masih muda tidak sama dengan keadaan ketika telah lanjut usia.
Jika sesuatu selalu berubah mengikuti perjalanan waktu, maka sesuatu tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk mengenali Jatining Dhiri.
Raga tetap penting. Raga merupakan sarana bagi manusia untuk menjalani panguripan. Namun raga adalah sarana panguripan, bukan keseluruhan dari Jatining Dhiri.
Kesadaran terhadap hal ini bukan berarti manusia harus menjauhi atau mengabaikan tubuh. Justru sebaliknya, raga perlu dirawat karena melalui raga manusia menjalankan laku dalam kehidupan.
Jatining Dhiri Bukan Pemikiran.
Manusia juga sering menganggap bahwa dirinya adalah apa yang dipikirkannya.
Padahal pemikiran dapat berubah.
Pandangan seseorang hari ini dapat berbeda dengan pandangannya beberapa tahun yang lalu. Kawruh yang bertambah dapat mengubah cara melihat suatu persoalan.
Pengalaman baru juga dapat membuat seseorang memperbaiki pemahaman yang sebelumnya dianggap benar.
Karena itu, pemikiran tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk mengenali Jatining Dhiri.
Cipta merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Namun cipta perlu dikenali sebagai cipta. Pikiran perlu dilihat sebagai pikiran. Manusia tidak harus menjadi budak dari setiap pikiran yang muncul dalam dirinya.
Di sinilah pentingnya cipta wening. Dengan cipta yang wening, manusia dapat membedakan antara apa yang benar-benar terjadi dengan tafsir, dugaan, keinginan, atau angan-angan yang muncul dalam pikirannya.
Jatining Dhiri Bukan Rasa yang Selalu Berubah.
Demikian pula rasa. Rasa dapat berubah mengikuti keadaan. Ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan, manusia dapat merasa bahagia. Ketika menghadapi kehilangan, ia dapat merasa sedih. Ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, rasa marah atau kecewa dapat muncul.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari panguripan.
Karena rasa selalu bergerak, manusia perlu belajar mengenalinya tanpa menjadikan setiap rasa sebagai penentu seluruh kehidupannya.
Rasa bening bukan berarti manusia tidak lagi memiliki perasaan. Rasa bening berarti rasa tidak dikuasai oleh pamrih, keterikatan, kebencian, atau keinginan yang berlebihan.
Dengan rasa yang bening, manusia tetap dapat merasakan kebahagiaan maupun kesedihan, tetapi tidak mudah kehilangan keseimbangan karena keduanya.
Jatining Dhiri Tidak Ditemukan Melalui Pengakuan.
Menurut Uttamopadesa, Jatining Dhiri tidak ditemukan melalui angan-angan, kata-kata, atau pengakuan bahwa seseorang telah memahami.
Mengatakan “saya sudah mengenal Jatining Dhiri” tidak membuat seseorang otomatis telah mengenal Jatining Dhiri.
Demikian pula banyak berbicara mengenai kawruh tidak selalu menunjukkan bahwa kawruh tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan.
Ukuran yang lebih nyata adalah laku.
Apakah pengetahuan tersebut membuat manusia semakin jujur? Apakah ia semakin mampu mengendalikan diri? Apakah ia semakin menghargai sesama? Apakah ia semakin mampu menghadapi keruwetan dengan tenang? Apakah ia semakin menjaga keselarasan dalam hubungan dengan lingkungan dan panguripan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar pengakuan tentang tingkat kawruh seseorang.
Cipta Wening, Rasa Bening, dan Karsa Utama.
Jatining Dhiri mulai dikenali ketika unsur-unsur dalam diri manusia berjalan menuju keselarasan.
Cipta wening membuat manusia mampu melihat dengan lebih jernih tanpa mudah dikuasai oleh prasangka, angan-angan, dan penilaian yang tergesa-gesa.
Rasa bening membuat manusia mampu merasakan tanpa tenggelam dalam keterikatan, kebencian, atau pamrih.
Karsa utama membuat kehendak manusia
diarahkan kepada laku yang baik dan berguna, bukan semata-mata untuk memenuhi kepentingan diri.
Ketiganya kemudian diwujudkan melalui laku yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
Dengan demikian, Jatining Dhiri bukan sekadar sesuatu yang dipahami di dalam cipta. Ia harus tampak dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Jatining Dhiri Terlihat dalam Laku.
Semakin seseorang mengenali Jatining Dhiri, seharusnya semakin terlihat perubahan dalam kehidupannya.
Ia tidak mudah menyombongkan diri karena merasa memiliki kawruh lebih tinggi. Ia tidak merasa perlu merendahkan orang lain karena memiliki pemahaman yang berbeda.
Sebaliknya, ia semakin rendah hati.
Ia semakin senang belajar karena memahami bahwa panguripan selalu memberikan pengalaman baru. Ia semakin mampu menumbuhkan kasih karena melihat bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan kepentingan dirinya sendiri.
Ketika menghadapi masalah, ia tidak selalu bereaksi secara tergesa-gesa. Ia belajar melihat persoalan dengan cipta yang lebih wening, merasakannya dengan rasa yang lebih bening, lalu menentukan tindakan melalui karsa yang lebih utama.
Inilah salah satu tanda bahwa kawruh telah mulai menjadi laku.
Mengenali Jatining Dhiri Bukan Berarti Meninggalkan Panguripan.
Mengenali Jatining Dhiri tidak berarti manusia harus melepaskan diri dari kehidupan.
Justru sebaliknya, manusia semakin mampu menjalani panguripan dengan utuh. Ia tetap bekerja, berhubungan dengan orang lain, menghadapi persoalan, menjalankan tanggung jawab, dan menikmati berbagai pengalaman kehidupan.
Perbedaannya terletak pada cara menjalani semuanya. Setiap tindakan diusahakan dilandasi kebijaksanaan. Setiap hubungan dijaga dengan kasih. Setiap persoalan dihadapi dengan ketenangan. Setiap keberhasilan tidak menjadi alasan untuk menyombongkan diri, dan setiap kegagalan tidak menjadi alasan untuk kehilangan arah.
Dengan demikian, Jatining Dhiri tidak menjauhkan manusia dari kehidupan, tetapi membuat manusia semakin mampu hadir secara utuh di dalam kehidupan.
Jatining Dhiri dan Tatananing Panguripan.
Jatining Dhiri semakin jelas dikenali ketika manusia mampu menyelaraskan dirinya dengan Tatananing Panguripan.
Keselarasan bukan berarti semua keadaan harus sesuai dengan keinginan manusia. Panguripan tetap memiliki perubahan, keruwetan, kehilangan, keberhasilan, dan berbagai keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Yang berubah adalah cara manusia menghadapinya.
Ia tidak lagi menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran tunggal kebenaran. Ia belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan daya untuk memperbaiki keadaan. Ia mampu bertindak tanpa dikuasai oleh gejolak cipta dan rasa.
Pada titik inilah kawruh tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan. Kawruh telah menjadi cara hidup.
Bukan Akhir dari Kawruh.
Meskipun Mengenali Jatining Dhiri merupakan tataran terakhir dalam Nawa Pangawikaning Dhiri, hal tersebut bukan berarti perjalanan kawruh telah selesai.
Justru di sinilah laku kehidupan menjadi semakin nyata.
Jatining Dhiri bukan penghargaan, gelar, atau kedudukan yang dapat dibanggakan. Ia bukan sesuatu yang dapat dipamerkan kepada orang lain.
Semakin manusia mengenal dirinya, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari dan diperbaiki.
Karena itu, pengenalan terhadap Jatining Dhiri seharusnya melahirkan kerendahan hati, kasih, kebijaksanaan, dan keselarasan.
Penutup.
Mengenali Jatining Dhiri merupakan buah dari seluruh proses Pangawikaning Dhiri. Setelah manusia belajar mengenali raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, penghalang, dan keselarasan, perlahan-lahan ia tidak lagi mengikatkan dirinya kepada satu bagian dari dirinya sebagai keseluruhan.
Jatining Dhiri tidak ditemukan melalui angan-angan ataupun pengakuan. Ia dikenali melalui perubahan laku.
Ketika cipta semakin wening, rasa semakin bening, karsa semakin utama, dan laku semakin selaras dengan Tatananing
Panguripan, Jatining Dhiri mulai menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.
Maka, Mengenali Jatining Dhiri bukanlah akhir dari belajar. Ia merupakan awal dari kehidupan yang semakin wening, semakin berguna, semakin penuh kasih, dan semakin selaras dengan Kasunyatan.
FAQ - Mengenali Jatining Dhiri.
1. Apa yang dimaksud dengan Mengenali Jatining Dhiri?
Mengenali Jatining Dhiri adalah tataran terakhir dalam Nawa Pangawikaning Dhiri, yaitu proses mengenali hakikat diri setelah manusia menjalani mawas dhiri terhadap raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, penghalang, dan keselarasan.
2. Apakah Jatining Dhiri sama dengan raga?
Tidak. Raga selalu berubah mengikuti perjalanan waktu sehingga tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk mengenali Jatining Dhiri. Raga merupakan sarana untuk menjalani panguripan.
3. Apakah Jatining Dhiri adalah pikiran?
Bukan. Pemikiran dapat berubah mengikuti pengalaman dan bertambahnya kawruh. Karena itu, pikiran perlu dikenali sebagai bagian dari cipta, bukan dianggap sebagai keseluruhan Jatining Dhiri.
4. Apakah Jatining Dhiri berarti tidak memiliki rasa?
Tidak. Mengenali Jatining Dhiri bukan berarti kehilangan perasaan. Yang dikembangkan adalah rasa bening, yaitu rasa yang tidak mudah dikuasai oleh pamrih, keterikatan, kebencian, dan keinginan berlebihan.
5. Bagaimana cara mengenali Jatining Dhiri?
Jatining Dhiri dikenali melalui proses mawas dhiri dan laku kehidupan. Cipta perlu diweningkan, rasa dibeningkan, karsa diarahkan kepada laku utama, dan kehidupan dijalankan secara selaras dengan Tatananing Panguripan.
6. Apakah cukup dengan memahami teori Jatining Dhiri?
Tidak. Pemahaman merupakan bagian dari perjalanan, tetapi belum menjadi bukti bahwa kawruh telah diwujudkan. Ukuran yang lebih nyata adalah perubahan laku dalam kehidupan sehari-hari.
7. Apa hubungan Jatining Dhiri dengan cipta wening?
Cipta wening membantu manusia melihat pikiran secara jernih sehingga tidak mudah menganggap setiap pikiran sebagai kasunyatan. Kejernihan cipta menjadi salah satu dasar untuk mengenali Jatining Dhiri.
8. Apa hubungan Jatining Dhiri dengan rasa bening?
Rasa bening membantu manusia mengalami berbagai keadaan tanpa terlalu dikuasai oleh keterikatan, pamrih, kebencian, atau gejolak rasa. Dengan demikian, rasa tidak menjadi penghalang bagi kejernihan diri.
9. Mengapa Jatining Dhiri harus dibuktikan melalui laku?
Karena kawruh yang sejati seharusnya melahirkan perubahan dalam kehidupan. Jika pengetahuan hanya mengubah cara berbicara tetapi tidak mengubah cara bertindak, maka kawruh tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.
10. Apakah Mengenali Jatining Dhiri merupakan akhir dari perjalanan?
Tidak. Meskipun merupakan tataran terakhir Nawa Pangawikaning Dhiri, Mengenali Jatining Dhiri bukan akhir dari belajar. Ia menjadi dasar bagi laku kehidupan yang semakin wening dan selaras.
11. Apakah orang yang mengenali Jatining Dhiri akan merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Tidak. Pengenalan terhadap Jatining Dhiri justru seharusnya menumbuhkan kerendahan hati, kasih, kesediaan belajar, dan keinginan menjaga keselarasan.
12. Apa tanda seseorang mulai mengenali Jatining Dhiri?
Tandanya bukan pengakuan atau gelar tertentu, melainkan perubahan laku: semakin tenang menghadapi keruwetan, semakin rendah hati, semakin penuh kasih, semakin bijaksana dalam bertindak, dan semakin mampu menjaga keselarasan dengan Tatananing Panguripan.
**Sumber artikel :
NAWA PANGAWIKANING DHIRI.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.