MENGENALI INDRIYA

mengenali indriya

PINTU MENERIMA KEHIDUPAN

Mengenali indriya merupakan tataran kedua dalam laku pangawikaning dhiri. Jika raga merupakan sarana untuk menjalani kehidupan, maka indriya menjadi pintu yang memungkinkan manusia menerima berbagai keadaan dari lingkungan di sekitarnya.

Melalui indriya, manusia melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan merasakan berbagai hal. Dunia luar dikenal melalui tanda-tanda yang diterima oleh indriya. Apa yang diterima tersebut kemudian diolah oleh cipta menjadi pemikiran, penilaian, dan pemahaman.

Namun, manusia perlu memahami bahwa apa yang ditangkap indriya belum tentu merupakan kasunyatan secara utuh.
Indriya hanya menerima tanda-tanda lahiriah.

Makna yang lebih dalam dari suatu keadaan masih membutuhkan cipta yang wening, rasa yang bening, dan kemampuan untuk mawas dhiri.

Indriya sebagai Pintu Kehidupan.
Manusia mengenal dunia melalui indriya. Penglihatan menangkap bentuk dan warna. Pendengaran menerima suara. Penciuman mengenali berbagai aroma. Pengecap mengenali rasa pada makanan dan minuman. Rasa tubuh menangkap sentuhan, suhu, tekanan, kenyamanan, dan berbagai keadaan fisik lainnya.

Tanpa indriya, manusia akan mengalami keterbatasan dalam menerima keadaan di sekitarnya.

Karena itu, indriya memiliki peran penting dalam kehidupan. Melalui indriya manusia belajar mengenali lingkungan, mengetahui keadaan, berkomunikasi, bekerja, serta menjalankan berbagai kegiatan sehari-hari.
Indriya juga menjadi salah satu jalan masuknya pengalaman ke dalam cipta. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dicium, dan dikecap dapat menjadi bahan bagi manusia untuk membangun pemikiran.

Akan tetapi, proses tersebut tidak selalu menghasilkan pemahaman yang benar.

Indriya Tidak Selalu Menunjukkan Kasunyatan.
Salah satu hal penting dalam mengenali indriya adalah menyadari keterbatasannya.
Apa yang tampak belum tentu seluruh keadaan. Apa yang terdengar belum tentu seluruh kenyataan. Apa yang terasa belum tentu menunjukkan makna yang sebenarnya.

Misalnya, sesuatu yang tampak indah dapat segera menarik perhatian. Kata-kata yang terdengar menyenangkan dapat membuat seseorang langsung percaya. Aroma tertentu dapat menimbulkan rasa suka. Makanan yang lezat dapat membangkitkan keinginan untuk terus menikmatinya.

Semua pengalaman tersebut nyata sebagai pengalaman indriya, tetapi pengalaman indriya tidak otomatis menjadi kasunyatan secara keseluruhan.

Di sinilah manusia membutuhkan mawas dhiri. Ia perlu membedakan antara apa yang benar-benar diterima oleh indriya dan apa yang kemudian ditambahkan oleh cipta.

Dari Indriya Menuju Cipta.
Indriya menerima tanda, sedangkan cipta mengolah tanda tersebut. Ketika mata melihat seseorang melakukan sesuatu, misalnya, indriya hanya menangkap peristiwa yang terlihat. Setelah itu cipta dapat memberikan penafsiran: orang tersebut dianggap baik, buruk, sombong, ramah, atau memiliki maksud tertentu.

Padahal, penafsiran tersebut belum tentu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Hal yang sama terjadi melalui pendengaran. Seseorang mendengar suatu perkataan, kemudian cipta memberikan makna terhadap perkataan tersebut. Jika cipta sedang dipengaruhi prasangka, rasa tidak suka, atau kepentingan pribadi, makna yang dibentuk dapat berbeda dari maksud sebenarnya.

Karena itu, manusia perlu belajar berhenti sejenak antara menerima tanda dan memberikan penilaian.

Jeda tersebut memberikan kesempatan bagi cipta untuk memeriksa apa yang diterimanya.

Penglihatan dan Keterikatan.
Penglihatan merupakan salah satu indriya yang sangat kuat memengaruhi manusia.
Apa yang tampak menarik dapat membangkitkan keinginan. Apa yang tampak mewah dapat menimbulkan rasa ingin memiliki. Apa yang tampak lebih unggul dapat menimbulkan rasa rendah diri atau iri hati.

Jika tidak disadari, penglihatan dapat menjadi awal keterikatan.

Namun, persoalannya bukan pada penglihatan itu sendiri. Mata hanya menerima apa yang tampak. Keterikatan muncul ketika cipta dan rasa memberikan makna tertentu terhadap apa yang dilihat, lalu karsa terdorong untuk mengejarnya.

Karena itu, manusia tidak perlu menghindari apa yang dilihat, tetapi perlu belajar memahami reaksi dirinya terhadap apa yang dilihat.

Pendengaran dan Pengaruh Kata-Kata.
Pendengaran juga dapat memberikan pengaruh yang kuat. Pujian dapat membuat manusia merasa bangga. Celaan dapat membuatnya marah. Berita tertentu dapat menimbulkan ketakutan. Perkataan yang meyakinkan dapat membuat seseorang menerima sesuatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Karena itu, mendengar tidak berarti harus langsung percaya.

Manusia perlu mengolah apa yang didengar dengan cipta yang wening. Ia perlu membedakan antara suara yang diterima telinga, makna yang dipahami cipta, dan kesimpulan yang akhirnya dipercaya.

Kemampuan tersebut merupakan bagian dari mawas dhiri.

Penciuman, Pengecap, dan Rasa Tubuh.
Penciuman dan pengecap juga memengaruhi kehidupan manusia. Aroma tertentu dapat menimbulkan rasa suka atau tidak suka.

Rasa makanan dapat menimbulkan keinginan untuk menikmati kembali. Demikian pula rasa tubuh terhadap nyaman dan tidak nyaman dapat mendorong manusia mengejar keadaan yang menyenangkan dan menghindari keadaan yang tidak menyenangkan.

Semua itu merupakan pengalaman yang wajar.

Namun, apabila manusia selalu mengikuti dorongan tersebut tanpa pertimbangan, indriya dapat menjadi pintu menuju keterikatan.

Misalnya, seseorang tidak lagi makan karena membutuhkan makanan, tetapi karena terus mengejar kenikmatan rasa. Ia tidak lagi menggunakan sesuatu karena diperlukan, tetapi karena ingin mendapatkan kepuasan yang ditimbulkannya.

Di sinilah mengenali indriya berkaitan erat dengan pengendalian diri.

Indriya Bukan Penguasa Kehidupan.
Menurut Uttamopadesa, indriya merupakan sarana untuk belajar, bukan penguasa kehidupan.

Indriya memberikan bahan bagi manusia untuk mengenali dunia. Akan tetapi, indriya tidak seharusnya menentukan seluruh pilihan hidup.

Jika setiap penglihatan langsung diikuti keinginan, setiap suara langsung dipercaya, setiap rasa tidak nyaman langsung dihindari, dan setiap kenikmatan selalu dikejar, manusia akan mudah terseret oleh rangsangan dari luar.

Kehidupan akhirnya ditentukan oleh apa yang datang melalui indriya.

Padahal, manusia memiliki kemampuan untuk mengolah apa yang diterimanya.
Cipta dapat memeriksa. Rasa dapat mempertimbangkan. Karsa dapat menentukan tindakan.

Karena itu, indriya perlu berada dalam tatanan yang selaras dengan cipta, rasa, dan karsa.

Membedakan Pengalaman dan Penilaian.
Salah satu latihan penting dalam mengenali indriya adalah membedakan pengalaman langsung dari penilaian pribadi.

Ketika melihat sesuatu, tanyakan: Apa sebenarnya yang kulihat?

Ketika mendengar sesuatu, tanyakan: Apa sebenarnya yang kudengar?

Setelah itu, tanyakan kembali: Apa yang kemudian kupikirkan tentang hal tersebut?

Pertanyaan sederhana tersebut membantu manusia melihat bahwa antara pengalaman dan penilaian terdapat proses pengolahan.

Dengan cara demikian, manusia tidak mudah menganggap seluruh pikirannya sebagai kebenaran hanya karena pikiran tersebut muncul setelah melihat atau mendengar sesuatu.

Indriya dan Mawas Dhiri.
Mengenali indriya pada akhirnya merupakan latihan mawas dhiri. Manusia belajar memperhatikan bagaimana dirinya bereaksi terhadap apa yang dilihat, didengar, dicium, dikecap, dan dirasakan tubuh.

Ia tidak sekadar memperhatikan dunia luar, tetapi juga memperhatikan perubahan yang terjadi dalam dirinya setelah menerima berbagai rangsangan.

Apa yang dilihat dapat membangkitkan keinginan.

Apa yang didengar dapat membangkitkan penilaian.

Apa yang dirasakan dapat membangkitkan penolakan.

Dari sana cipta, rasa, dan karsa mulai bergerak.

Dengan mawas dhiri, manusia dapat mengenali proses tersebut sebelum berkembang menjadi keterikatan atau tindakan yang tidak selaras.

Mendekati Kasunyatan.
Indriya memberikan pintu menuju kawruh, tetapi indriya tidak menentukan kasunyatan.

Kasunyatan tidak cukup dicari hanya dengan apa yang tampak, terdengar, tercium, terasa, atau teraba. Semua pengalaman tersebut perlu diolah melalui cipta yang bersih dan rasa yang bening.

Semakin manusia mampu membedakan antara tanda lahiriah dan penilaian pribadi, semakin jernih pula proses berpikirnya.

Dari kejernihan tersebut, karsa dapat diarahkan secara lebih tepat. Manusia tidak lagi mudah bertindak hanya karena dorongan sesaat yang muncul dari pengalaman indriya.

Dengan demikian, mengenali indriya menjadi langkah penting dalam perjalanan pangawikaning dhiri. Setelah mengenali raga sebagai sarana panguripan, manusia belajar mengenali indriya sebagai pintu masuk pengalaman.

Ia kemudian belajar bahwa pintu tersebut perlu dijaga agar apa yang masuk tidak langsung menguasai cipta, rasa, dan karsa.
Indriya menerima, cipta mengolah, rasa mempertimbangkan, dan karsa menentukan tindakan.

Ketika semuanya berjalan selaras, manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan mawas dhiri dan semakin dekat dengan kasunyatan serta Tatananing Panguripan.

FAQ - Mengenali Indriya.
1. Apa yang dimaksud dengan indriya?
Indriya adalah sarana penerimaan pengalaman melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan rasa tubuh. Melalui indriya manusia menerima berbagai tanda dari lingkungan sekitarnya.

2. Mengapa indriya disebut pintu kehidupan?
Karena melalui indriya manusia menerima berbagai pengalaman dari dunia luar. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan bagi cipta untuk membentuk pemikiran dan pemahaman.

3. Apakah apa yang diterima indriya selalu merupakan kasunyatan?
Tidak. Indriya hanya menangkap tanda-tanda lahiriah. Pemahaman terhadap makna dan keadaan yang lebih utuh membutuhkan pengolahan melalui cipta yang wening dan rasa yang bening.

4. Mengapa manusia dapat keliru ketika mengandalkan indriya?
Karena apa yang diterima indriya masih perlu ditafsirkan. Penafsiran dapat dipengaruhi prasangka, pengalaman sebelumnya, rasa suka atau tidak suka, serta kepentingan pribadi.

5. Apakah indriya harus dihindari?
Tidak. Indriya merupakan sarana penting untuk belajar dan menjalani kehidupan. Yang perlu dilakukan adalah mengenali cara kerja indriya dan tidak membiarkan rangsangan indriya menguasai kehidupan.

6. Apa hubungan indriya dengan cipta?
Indriya menerima berbagai tanda, sedangkan cipta mengolah tanda tersebut menjadi pemikiran dan pemahaman. Karena itu, cipta perlu dijaga agar tidak terburu-buru memberikan penilaian.

7. Apa hubungan mengenali indriya
dengan mawas dhiri?
Mengenali indriya membuat manusia mampu memperhatikan bagaimana dirinya bereaksi terhadap berbagai rangsangan. Dengan demikian, ia dapat menyadari munculnya keinginan, penilaian, atau penolakan sebelum semuanya berkembang menjadi tindakan.

8. Apa tujuan mengenali indriya menurut Uttamopadesa?
Tujuannya agar manusia tidak mudah terseret oleh tanda-tanda lahiriah. Indriya digunakan sebagai sarana belajar, sedangkan keputusan hidup tetap diarahkan oleh cipta yang wening, rasa yang bening, dan karsa yang utama.

**Sumber artikel :
NAWA PANGAWIKANING DHIRI  

Komentar