MEMAHAMI PEMIKIRAN DENGAN WENING
Mengenali Cipta merupakan tataran ketiga dalam laku pangawikaning dhiri. Setelah manusia mengenali raga sebagai sarana menjalani kehidupan dan indriya sebagai pintu menerima berbagai keadaan dari lingkungan, langkah berikutnya adalah mengenali cipta sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya pemikiran.
Cipta memiliki peranan yang sangat besar
dalam kehidupan manusia. Melalui cipta, manusia mengingat, mempertimbangkan, membandingkan, merencanakan, membayangkan, dan berusaha memahami berbagai keadaan yang dialaminya.
Namun, cipta juga memiliki kemungkinan untuk membawa manusia kepada kekeliruan apabila segala sesuatu yang muncul di dalam pikiran langsung dianggap sebagai kasunyatan.
Karena itu, mengenali cipta bukan sekadar mengetahui bahwa manusia memiliki pikiran. Mengenali cipta berarti belajar mengamati, memeriksa, dan mengolah pemikiran dengan wening.
Cipta sebagai Tempat Mengolah Pengalaman.
Segala sesuatu yang diterima melalui indriya menjadi pengalaman bagi manusia. Apa yang dilihat, didengar, dicium, dikecap, dan dirasakan tubuh kemudian dapat masuk ke dalam cipta.
Cipta mengolah berbagai pengalaman tersebut menjadi pemikiran. Seseorang melihat suatu peristiwa, kemudian berpikir tentang peristiwa tersebut.
Seseorang mendengar perkataan, kemudian memberikan makna terhadapnya. Seseorang mengalami suatu keadaan, lalu menghubungkannya dengan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya.
Proses tersebut berlangsung terus-menerus dalam kehidupan.
Karena itu, cipta memiliki manfaat yang sangat besar. Tanpa cipta, manusia akan kesulitan memahami pengalaman dan menentukan langkah dalam kehidupan.
Akan tetapi, apa yang dihasilkan cipta tidak selalu menggambarkan keadaan secara utuh.
Pemikiran Tidak Selalu Merupakan Kasunyatan.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa apa yang dipikirkan pasti merupakan kasunyatan.
Padahal, pemikiran adalah hasil pengolahan cipta. Pemikiran dapat dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan, pengetahuan, keinginan, rasa suka, rasa benci, ketakutan, harapan, maupun kepentingan pribadi.
Karena itu, dua manusia dapat melihat peristiwa yang sama tetapi menghasilkan pemikiran yang berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa apa yang berada di dalam cipta belum tentu merupakan keadaan yang sebenarnya. Ada proses penafsiran yang berlangsung di dalamnya.
Maka, manusia perlu belajar membedakan antara kasunyatan dan pemikiran tentang kasunyatan.
Kasunyatan tetap berada sebagaimana adanya, sedangkan pemikiran manusia mengenai kasunyatan dapat berubah sesuai keadaan cipta.
Cipta sebagai Bayangan Kasunyatan.
Pemikiran dapat diibaratkan sebagai bayangan dari sesuatu yang dipahami manusia.
Bayangan dapat membantu manusia mengenali bentuk, tetapi bayangan bukan benda itu sendiri. Demikian pula pemikiran dapat membantu manusia memahami kasunyatan, tetapi pemikiran bukan kasunyatan itu sendiri.
Ketika manusia menyadari hal ini, ia tidak akan mudah terikat pada pemikirannya sendiri.
Ia dapat memiliki pendapat tanpa menganggap pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran.
Ia dapat mempertimbangkan sesuatu tanpa terburu-buru menyimpulkan.
Ia juga dapat mengubah pemikiran apabila menemukan keadaan yang menunjukkan bahwa pemikirannya sebelumnya kurang tepat.
Inilah salah satu bentuk keweningan cipta.
Mengamati Pemikiran
Mengenali cipta berarti belajar mengamati setiap pemikiran yang muncul.
Ketika muncul pikiran tentang seseorang, manusia tidak perlu langsung mempercayainya. Namun, ia juga tidak perlu langsung menolaknya.
Ia dapat bertanya:
“Apakah ini benar-benar keadaan yang terjadi, atau hanya penilaianku terhadap keadaan tersebut?”
Pertanyaan sederhana ini dapat membantu manusia melihat perbedaan antara apa yang terjadi dan apa yang dipikirkannya tentang sesuatu yang terjadi.
Misalnya, seseorang tidak membalas sapaan. Cipta dapat segera menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak menghargainya.
Padahal, mungkin orang itu tidak mendengar, sedang terburu-buru, atau sedang memikirkan sesuatu.
Peristiwa yang diterima indriya adalah satu hal. Penafsiran cipta merupakan hal yang lain.
Jika manusia tidak menyadari perbedaan tersebut, pemikiran dapat berkembang menjadi prasangka.
Cipta dan Pengalaman Masa Lalu.
Pemikiran manusia sering kali dipengaruhi pengalaman sebelumnya.
Pengalaman yang menyenangkan dapat membuat seseorang memiliki harapan tertentu. Sebaliknya, pengalaman yang tidak menyenangkan dapat membuat seseorang lebih mudah mencurigai keadaan yang memiliki kemiripan.
Karena itu, cipta tidak selalu melihat keadaan sebagaimana adanya. Cipta dapat melihat keadaan melalui jejak pengalaman masa lalu.
Hal tersebut bukan berarti pengalaman masa lalu harus dihapus. Pengalaman tetap memiliki manfaat sebagai bahan pembelajaran.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai pengalaman masa lalu menjadi ukuran mutlak untuk menilai semua keadaan baru.
Cipta yang wening mampu belajar dari masa lalu tanpa diperbudak olehnya.
Cipta dan Keinginan.
Keinginan juga dapat mempengaruhi pemikiran.
Ketika manusia menginginkan sesuatu, cipta dapat mencari alasan untuk membenarkan keinginannya.
Sesuatu yang mendukung keinginan akan lebih mudah diterima, sedangkan sesuatu yang bertentangan dengannya dapat lebih mudah ditolak.
Dalam keadaan demikian, cipta tidak lagi melihat dengan jernih. Pemikiran telah dipengaruhi oleh karsa yang ingin mendapatkan sesuatu.
Karena itu, mengenali cipta juga berarti menyadari hubungan antara pemikiran dan keinginan.
Manusia perlu bertanya apakah ia sedang memahami keadaan atau sebenarnya sedang mencari pembenaran bagi sesuatu yang sudah diinginkannya.
Cipta yang Wening.
Cipta yang wening bukan berarti cipta yang tidak memiliki pemikiran.
Cipta tetap berpikir, mempertimbangkan, mengingat, dan merencanakan. Keweningan berarti pemikiran tidak dikuasai oleh prasangka, kebencian, keinginan yang berlebihan, ketakutan, atau keakuan.
Cipta yang wening mampu melihat pemikiran yang muncul tanpa langsung terikat kepadanya.
Ketika muncul pikiran yang menyenangkan, ia tidak langsung hanyut.
Ketika muncul pikiran yang tidak menyenangkan, ia tidak langsung menolaknya.
Ia mengamati, mempertimbangkan, dan mencari kesesuaian dengan keadaan yang sebenarnya.
Dengan demikian, cipta menjadi alat untuk memahami, bukan penguasa yang menentukan seluruh kehidupan.
Tidak Menjadi Hamba Pikiran.
Manusia dapat menjadi hamba pikirannya sendiri ketika setiap pikiran langsung dipercaya dan diikuti.
Pikiran tentang ketakutan dapat membuat manusia terus merasa takut. Pikiran tentang kebencian dapat membuat rasa semakin keras. Pikiran tentang keinginan dapat mendorong manusia terus mengejar sesuatu.
Padahal, munculnya sebuah pikiran tidak selalu berarti bahwa pikiran tersebut harus diikuti.
Mengenali cipta memberikan ruang bagi manusia untuk memilih.
Ia dapat berkata dalam dirinya bahwa sebuah pikiran telah muncul, tetapi belum tentu benar dan belum tentu perlu diwujudkan dalam tindakan.
Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari pamawas batin dan mawas dhiri.
Mengubah Cara Melihat, Bukan Mengubah Kasunyatan.
Menurut Uttamopadesa, kasunyatan tidak bergantung pada pemikiran manusia.
Manusia dapat memiliki pendapat tentang suatu keadaan, tetapi pendapat tersebut tidak mengubah keadaan menjadi sesuatu yang berbeda hanya karena manusia memikirkannya demikian.
Karena itu, yang perlu diperbaiki bukan kasunyatannya, melainkan cara manusia melihat kasunyatan.
Jika cipta dipenuhi prasangka, manusia perlu membersihkan prasangka tersebut.
Jika cipta dipenuhi keruwetan, manusia perlu menata pemikirannya.
Jika cipta terlalu terikat pada keinginan, manusia perlu melihat kembali dorongan yang berada di balik pemikiran tersebut.
Dengan demikian, perubahan dimulai dari cara melihat dan mengolah keadaan.
Membersihkan Cipta.
Membersihkan cipta bukan berarti mengosongkan pikiran. Membersihkan cipta berarti mengurangi berbagai hal yang membuat pemikiran tidak jernih.
Prasangka perlu dikenali. Keakuan perlu diwaspadai. Keinginan perlu diperiksa. Rasa benci perlu disadari. Ketakutan perlu dipahami. Harapan perlu ditempatkan secara wajar.
Semakin manusia mampu melihat berbagai pengaruh tersebut, semakin mudah baginya untuk membedakan antara keadaan dan penilaiannya sendiri.
Dari sana, kabut pemikiran perlahan menjadi lebih tipis dan pemahaman menjadi lebih jelas.
Cipta sebagai Sarana Mendekati Kasunyatan.
Mengenali cipta pada akhirnya bukan usaha untuk mematikan pemikiran, melainkan menempatkan pemikiran pada kedudukan yang tepat.
Cipta adalah sarana untuk memahami kehidupan. Ia menerima berbagai pengalaman, mengolahnya, dan membantu manusia menentukan langkah.
Namun, cipta perlu dijaga agar tidak menganggap hasil pemikirannya sebagai kasunyatan mutlak.
Manusia yang mampu mengenali cipta akan lebih berhati-hati dalam menilai, tidak mudah percaya kepada prasangka, dan tidak mudah terikat pada pikirannya sendiri.
Dari keweningan tersebut, manusia dapat membedakan antara kasunyatan dan tafsir terhadap kasunyatan.
Dengan demikian, mengenali cipta menjadi laku penting dalam pangawikaning dhiri.
Setelah mengenali raga dan indriya, manusia mulai masuk lebih dalam kepada proses yang terjadi dalam dirinya sendiri.
Indriya menerima, cipta mengolah, tetapi manusia tetap perlu mawas terhadap hasil pengolahan tersebut.
Ketika cipta semakin wening, pemikiran tidak lagi menjadi kabut yang menutupi kasunyatan. Sebaliknya, pemikiran menjadi sarana untuk memahami kehidupan dengan lebih jelas, bijaksana, dan selaras dengan Tatananing Panguripan.
FAQ - Mengenali Cipta.
1. Apa yang dimaksud dengan cipta?
Cipta adalah bagian dalam diri manusia tempat tumbuhnya pemikiran, pertimbangan, ingatan, angan-angan, dan berbagai proses memahami pengalaman kehidupan.
2. Apa hubungan indriya dengan cipta?
Indriya menerima berbagai tanda dari lingkungan, sedangkan cipta mengolah apa yang diterima tersebut menjadi pemikiran, penilaian, dan pemahaman.
3. Apakah semua pemikiran merupakan kasunyatan?
Tidak. Pemikiran merupakan hasil pengolahan cipta dan dapat dipengaruhi pengalaman, kebiasaan, keinginan, rasa suka, rasa benci, ketakutan, serta harapan.
4. Mengapa pemikiran dapat menjadi sumber kekeliruan?
Karena manusia dapat menganggap tafsir pribadinya sebagai keadaan yang sebenarnya. Padahal, antara kasunyatan dan pemikiran tentang kasunyatan terdapat proses penafsiran.
5. Apa yang dimaksud dengan cipta yang wening?
Cipta yang wening adalah cipta yang mampu berpikir dan mempertimbangkan tanpa terlalu dikuasai prasangka, kebencian, keinginan berlebihan, ketakutan, atau keakuan.
6. Apakah cipta yang wening berarti tidak boleh berpikir?
Tidak. Cipta tetap digunakan untuk berpikir, mengingat, mempertimbangkan, dan merencanakan. Keweningan berarti manusia tidak menjadi hamba dari pemikirannya sendiri.
7. Bagaimana cara mengenali pemikiran sendiri?
Dengan mengamati pemikiran yang muncul dan membedakan antara keadaan yang benar-benar diterima dengan penafsiran yang dibuat oleh cipta. Jangan langsung percaya, tetapi jangan pula langsung menolaknya.
8. Apa hubungan mengenali cipta dengan mawas dhiri?
Mengenali cipta membuat manusia mampu melihat bagaimana prasangka, pengalaman, keinginan, dan kebiasaan memengaruhi pemikirannya. Kesadaran tersebut membantu manusia menilai dengan lebih jernih.
9. Apa yang harus diubah ketika pemikiran tidak sesuai dengan kasunyatan?
Yang perlu diubah adalah cara melihat dan mengolah keadaan, bukan kasunyatannya. Manusia perlu memperbaiki pemikiran agar lebih sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
10. Apa tujuan akhir mengenali cipta?
Tujuannya agar cipta menjadi sarana memahami kehidupan, bukan penguasa kehidupan. Dengan cipta yang semakin wening, manusia dapat membedakan kasunyatan dari tafsir dan menjalani kehidupan secara lebih bijaksana.
**Sumber artikel :
NAWA PANGAWIKANING DHIRI

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda dengan sopan, gunakan bahasa yang santun, mohon maaf bila terjadi keterlambatan komentar balasan.